Assiette de riz blanc avec légumes, brochettes, tempeh, chips et sauce, sur une table en bois.

Makan di Mana di Bali? Warung, Jajanan Kaki Lima dan Pilihan Saya

Di Bali, saya makan jauh lebih beragam daripada sekadar smoothie bowl di linimasa Instagram kamu: babi muda yang dipanggang di atas tempurung kelapa sejak subuh, sepiring nasi dengan lauk yang dipilih dengan menunjuk di warung keluarga, hingga hidangan laut bakar di tepi pantai Jimbaran. Sepiring nasi campur seharga 25.000 IDR (sekitar 1,50 EUR) di sini bisa sama berkesannya dengan menu degustasi seharga 500.000 IDR (30 EUR) di restoran fine dining di tengah sawah.

Berikut warung-warung tempat saya makan di Bali, per kawasan, lengkap dengan hidangan yang perlu dipesan, harga, dan jebakan yang perlu dihindari. Seperti yang saya jelaskan dalam panduan lengkap berwisata ke Bali, pilihan kawasan kamu langsung menentukan apa yang kamu makan.

Di mana makan babi guling?

Babi guling adalah hidangan andalan masakan Bali. Seekor babi utuh diisi bumbu halus dari kunyit, ketumbar, serai, dan cabai, lalu dipanggang perlahan di atas api kayu selama berjam-jam hingga kulitnya renyah. Saya menyantapnya di atas nasi bersama lawar (campuran sayuran dan daging cincang berbumbu pedas), sosis darah, dan sambal matah yang luar biasa pedas. Biasanya, siapkan 35.000 hingga 50.000 IDR (2 hingga 3 EUR) per piring.

Babi guling, babi muda panggang yang disajikan di atas nasi di sebuah warung Bali
Saya makan babi guling saat makan siang, ketika kulit babinya masih kriuk.

Aturan yang saya pegang, dan yang diabaikan kebanyakan turis: makanlah babi guling saat makan siang, idealnya antara pukul 11:00 dan tengah hari. Babi dipanggang pada pagi hari, dan warung-warung terbaik sudah kehabisan saat baru lewat tengah hari. Tempat yang menyajikannya untuk makan malam hampir pasti menawarkan sisa yang dipanaskan ulang dan sudah kering. Kalau kulitnya tidak kriuk saat kamu gigit, kamu datang terlalu terlambat.

Sekarang, soal jebakan turis. Ibu Oka di Ubud sudah bertahun-tahun mengandalkan ketenarannya setelah Anthony Bourdain: harganya naik, porsinya mengecil, dan kualitasnya tidak konsisten. Begitu juga Pak Malen di Seminyak. Keduanya masih menarik antrean panjang turis, tetapi warga lokal dan ekspatriat yang sudah lama menetap makan di tempat lain.

Babi guling favorit saya di Bali saya makan di Babi Guling Pande Egi, dekat Gianyar: tersembunyi di tengah sawah, tanpa tambahan harga untuk turis, tempat ini menjadi patokan saya saat ini. Di Ubud, menurut saya Warung Babi Guling Gung Cung lebih enak daripada Ibu Oka dengan harga yang jauh lebih murah. Untuk Canggu, saya menyarankan tempat langganan warga lokal, Warung Babi Guling Swari dan Warung Men Lari di Pererenan. Lebih ke selatan, dekat Jimbaran, Babi Guling Karya Rebo juga sangat memuaskan. Dan untuk tempat yang benar-benar lokal, Warung Babi Guling Selingsing Cepaka buka dari larut malam hingga dini hari dan hampir tidak pernah didatangi orang asing.

Babi Guling Pande Egi, piring-piring berisi babi guling, Gianyar
Babi Guling Pande Egi. Foto: Ivan Wijoyo, Google Maps

Apa yang perlu dimakan di Bali?

Kalau babi guling adalah rajanya, nasi campur adalah makanan sehari-hari, sekaligus makan siang favorit saya di Bali: segunduk nasi dikelilingi porsi kecil dari semua yang disiapkan warung pagi itu, ayam suwir, tempe, tahu, sepotong ikan, sambal, kacang tanah, kerupuk udang, terkadang lawar atau sate lilit. Menurut saya, versi Bali lebih pedas dan lebih terasa kunyitnya daripada versi Jawa yang bisa ditemukan di daerah lain di Indonesia. Saya membuat sambal sendiri di rumah, resep sambal ulek saya ada di sini.

Saya memesannya dengan cara “tunjuk”, cara termurah dan paling autentik: kamu mendekati etalase, menunjuk apa yang kamu mau, lalu pelayan menaruh semuanya di atas sepiring nasi. Siapkan 20.000 hingga 40.000 IDR (1,20 hingga 2,50 EUR) tergantung lauk protein yang ditambahkan. Kalau sebuah warung mematok harga lebih dari 50.000 IDR untuk nasi campur sederhana, kemungkinan besar kamu sedang berada di tempat untuk turis.

Bebek betutu adalah hidangan upacara di Bali: seekor bebek utuh dilumuri bumbu pekat bernama base genep, dibungkus daun pisang, lalu dimasak perlahan selama 12 hingga 24 jam sampai dagingnya lepas dari tulang. Secara tradisional, hidangan ini hanya disajikan untuk upacara pura dan acara khusus. Versi ayamnya, ayam betutu, lebih umum dan sama enaknya. Buatan Men Tempeh di Gilimanuk (ujung barat Bali, dekat pelabuhan feri menuju Jawa) sangat terkenal, dan menurut saya pedasnya sampai nyaris menyakitkan. Lebih dekat ke kawasan wisata, pasar malam Gianyar menyajikan versi yang enak.

Sate lilit adalah sate versi Bali, sangat berbeda dari sate bersaus kacang yang ditemukan di seluruh Asia Tenggara (saya memasak versi ayam khas Thailand di rumah, resep sate saya ada di situs ini). Ikan cincang, biasanya makerel atau tuna, atau daging babi, dicampur dengan kelapa, daun jeruk purut, dan serai, lalu dililitkan pada batang serai dan dibakar. Menurut saya, sate ini lebih cocok sebagai lauk pendamping daripada hidangan utama, dan versi terbaik yang saya cicipi ada di pasar malam dan dalam sepiring nasi campur. Ikan maupun babi, saya suka keduanya. Warung Liku dan Warung Ari di Denpasar adalah pilihan yang bisa diandalkan, dan Gourmet Sate House di kawasan Kuta-Legian menawarkan paket cicip jika kamu ingin mencoba berbagai jenis.

Lawar adalah campuran sayuran, kelapa, dan daging yang dicincang halus (terkadang dengan darah babi mentah dalam versi tradisional), lalu dibumbui rempah. Babi genyol, sup babi pedas, memiliki aroma yang mirip dengan babi guling tetapi diolah dengan cara yang sama sekali berbeda dan jarang ditemukan di jalur wisata: Warung Babi Genyol Arta Nadi adalah salah satu dari sedikit tempat untuk mencicipinya, dan di sanalah saya mencobanya. Untuk hidangan penutup, martabak manis (juga disebut terang bulan) adalah panekuk manis tebal yang dilipat, berisi cokelat, keju, kacang tanah, atau campuran semuanya, yang saya beli pada malam hari dari gerobak keliling.

Sate ayam dengan saus kacang, resep Marc Winer
Ingin menikmati sate bersaus kacang di rumah? Resep sate ayam saya ada di situs ini.

Kalau kamu sudah menjelajahi dunia kuliner Phuket, Bali akan terasa familier: budaya jajanan kaki lima yang kuat, makan malam hidangan laut di tepi pantai, dan perbedaan yang jelas antara restoran untuk turis dan tempat lokal dengan makanan yang lebih enak. Bagi saya, warung bahkan lebih mudah diakses daripada lapak kaki lima di Thailand, harganya lebih murah untuk segala jenis makanan, dan pilihan kuliner vegan di Canggu serta Ubud jauh melampaui Phuket. Yang paling berkesan bagi saya adalah rempahnya: kunyit, lengkuas, dan serai di Bali, cabai, jeruk purut, dan kecap ikan dalam masakan Thailand. Bangkok adalah ibu kota kuliner Asia lainnya, dan kalau kamu suka jajanan kaki lima, berikut rekomendasi tempat saya untuk makan di Hanoi, dari phở hingga kopi telur.

Kawasan mana yang cocok untuk berburu warung?

Warung adalah andalan tempat makan di Bali: usaha kecil milik keluarga yang menyajikan masakan rumahan Indonesia dengan harga lokal, mulai dari meja plastik di bawah atap seng hingga restoran sungguhan dengan taman. Masakan warung yang bagus sering mengungguli restoran turis kelas menengah, dengan harga yang jauh lebih murah.

Patokan saya: Seminyak untuk makan malam, Canggu untuk brunch, dan Ubud kalau kamu ingin masakan Bali paling tradisional di pulau ini. Ubud, pusat kuliner Bali dan kafe makanan sehat, serta kawasan Gianyar, yang pasar-pasarnya menyajikan hidangan yang jarang ditemukan kebanyakan turis, menawarkan pilihan paling autentik yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau naik skuter. Sanur lebih tenang, dengan pilihan lebih sedikit. Saya membahas tiap kawasan secara terperinci dalam panduan memilih tempat menginap di Bali.

Canggu

Di Warung Bu Mi, warung paling terkenal di kalangan pengunjung Canggu, saya mengantre saat jam sibuk makan siang: pilihan nasi campurnya banyak, dapurnya bersih dan terlihat, serta perputaran makanannya cukup cepat sehingga semuanya tetap segar. Warung Varuna, yang lebih dekat ke Pantai Batu Bolong, punya bumbu lebih kuat, dan menurut saya rasanya lebih enak daripada Bu Mi. Keduanya cocok sebagai warung pertama untuk dicoba. Warung Sika layak didatangi dengan berjalan kaki sebentar: saya makan menghadap sawah tepat di pusat Canggu, pemandangan yang makin langka karena lahan terus ditelan bangunan, dengan harga sangat murah. Warung Jawa Bu Sri menyajikan masakan Jawa yang lebih manis dan tidak terlalu pedas, sebagai pembanding cita rasa Bali di kebanyakan menu.

Warung Bu Mi, sepiring nasi campur, Canggu
Warung Bu Mi. Foto: Teiva Leverd, Google Maps

Ubud

Warung Makan Bu Rus adalah warung favorit saya di Ubud: suasana rindang, nasi campur terkenal, dan bebek renyah yang membuat saya rela menyeberangi kota. Sun Sun Warung lebih kecil, dikelola keluarga, dan menyajikan masakan rumahan Bali dengan harga sangat murah. Di Warung Biah Biah, porsi kecil ala tapas memungkinkan saya mencicipi 5 atau 6 hidangan tanpa harus terpaku pada sepiring saja.

Saran praktis saya: berjalanlah 10 sampai 15 menit menjauhi Puri Ubud dan pasar. Warung menjadi lebih murah, lebih sepi, dan sering kali lebih enak begitu kamu keluar dari kawasan wisata. Untuk menentukan lokasi menginap, baca panduan saya tentang menginap di Ubud dan menikmati kulinernya.

Warung Makan Bu Rus, meja dengan hidangan mi goreng, nasi goreng dan sate, Ubud
Warung Makan Bu Rus. Foto: Julian Vlieger, Google Maps

Seminyak

Makanan lokal murah lebih sulit ditemukan di Seminyak daripada di kawasan wisata lainnya, tetapi tetap ada. Warung Murah (namanya secara harfiah berarti “warung yang murah”) adalah pilihan aman untuk nasi campur dengan harga lokal. Di Warung Nia, saya memesan iga babi dan sate yang membuatnya terkenal, dan menurut saya kualitasnya lebih sepadan dengan harga dibandingkan Naughty Nuri’s yang lebih terkenal, sedikit lebih jauh dari sana. Warung Kolega menyajikan nasi campur ala Jawa yang menjadi variasi menyenangkan.

Sanur

Warung Mak Beng punya reputasi besar dan tidak punya daftar menu. Saya duduk, lalu disuguhi ikan goreng, sup kepala ikan, nasi, dan sambal yang benar-benar membuka wawasan rasa saya. Itu saja, dengan harga sekitar 35.000 IDR (2 EUR). Warung Mak Beng sudah beroperasi seperti itu selama puluhan tahun dan konsepnya tidak berubah.

Di kawasan yang sama, Warung Men Weti adalah tempat sarapan legendaris, tetapi datanglah sebelum pukul 8 karena makanannya cepat habis. Warung Kecil sangat mungil tetapi bersih, dengan nasi campur yang memadukan masakan warung dan penyajian yang sedikit lebih rapi.

Warung Mak Beng, ikan goreng dan sup ikan, Sanur
Warung Mak Beng. Foto: Muhammad Nurshafran Habib Abyan, Google Maps

Denpasar

Denpasar, ibu kota Bali, sering diabaikan turis, tetapi justru di sanalah saya menemukan masakan warung terbaik di pulau ini. Warung Wardani menjadi titik awal saya: versi warung nasi campur yang sedikit lebih rapi, dengan sepiring aneka lauk yang memungkinkan kamu mencicipi hidangan utama khas Bali tanpa harus menebak-nebak saat menunjuk lauk di etalase. Pasar-pasar di kota ini, terutama Pasar Badung, juga menyajikan makanan yang tidak ada di kawasan wisata.

Warung khas di pinggir jalan di Bali
Warung pinggir jalan, tempat makan sehari-hari di Bali.

Di mana bisa menikmati makanan kaki lima?

Pasar malam Gianyar

Kalau kamu hanya mengunjungi satu pasar di Bali, pilihlah pasar Gianyar, favorit saya. Lokasinya sekitar 30 menit dari Ubud dengan skuter atau mobil, dan inilah tempat keluarga Bali benar-benar datang untuk makan malam. Saat saya ke sana, babi panggang utuh dipajang di lapak babi guling, sate lilit berdesis di atas arang, dan ayam betutu dikeluarkan dari bungkus daun pisangnya. Pasar ini juga menjual kue tradisional dan jajanan pasar yang jarang terlihat di menu restoran.

Harganya pas, tanpa tawar-menawar, dan semuanya dimasak segar di depanmu. Suasananya lokal, ramai, dan apa adanya, jauh dari tur kuliner yang tertata rapi. Menurut saya, justru itulah alasan makanannya lebih enak.

Marché de nuit de Gianyar, lorong di antara lapak, Gianyar
Marché de nuit de Gianyar. Foto: Hubert Thijssen, Google Maps

Pasar Badung dan Pasar Kumbasari, Denpasar

Pasar terbesar di Bali ini menjual bahan segar pada siang hari (hasil bumi, rempah, bunga, daging) dan berubah menjadi pusat makanan kaki lima menjelang sore. Bersiaplah: aromanya kuat, lantainya basah, lorongnya sempit, dan menurut saya suasananya benar-benar semrawut. Saya menyeberangi jembatan menuju Pasar Kumbasari dan area makanan kaki limanya. Carilah lumpia (dengan saus cabai hijau), es daluman (minuman dingin dengan cincau, pas diminum di sela-sela suapan pedas), dan nasi campur bungkus kertas cokelat, yang saya makan sambil berdiri. Aturan umum juga berlaku di sini: cari lapak dengan antrean warga lokal paling panjang dan ikutlah mengantre.

Pasar malam Sanur (Pasar Sindhu)

Kalau Gianyar terasa terlalu ramai dan Pasar Badung terlalu semrawut, pasar malam Sanur cocok sebagai perkenalan: lebih bersih, lebih kecil, sedikit lebih mahal, dan terbiasa melayani pelanggan asing. Menurut saya sate kambingnya bisa diandalkan, dan lapak martabak manisnya menyajikan versi panekuk manis berisi yang enak. Inilah pasar malam pertama yang saya sarankan kalau kamu masih beradaptasi dengan masakan lokal.

Pasar malam Gianyar di Bali, lapak makanan kaki lima pada malam hari
Pasar malam Gianyar, favorit saya di Bali, tempat keluarga Bali makan malam.

Di mana makan malam di Bali?

Untuk makan malam, Seminyak mengungguli tempat lain di pulau ini, dengan konsentrasi restoran berkualitas untuk fine dining dan masakan internasional paling tinggi.

Makan malam di Seminyak

Bambu adalah rekomendasi utama saya untuk makan malam romantis: restorannya dibangun di atas platform mengapung di atas air, pencahayaannya temaram, dan menu terinspirasi Indonesianya konsisten enak. Di Sardine, dengan lokasi tak terduga di tengah bangunan Seminyak, menghadap sawah yang masih digarap dan belum diratakan, menurut saya hidangan lautnya sepadan dengan harganya. La Lucciola mewakili Bali tempo dulu yang saya sukai: restoran Italia di tepi pantai, momen matahari terbenam yang panjang, dan suasana santai yang di banyak tempat baru Seminyak sudah digantikan oleh estetika Instagram.

Bambu, paviliun di sekeliling kolam, Seminyak
Bambu. Foto: Captain Mo, Google Maps

Merah Putih menyajikan masakan Indonesia modern dalam ruang berarsitektur spektakuler, Mama San menawarkan perpaduan kuliner Asia yang lebih luas, dan Naughty Nuri’s, tanpa unsur tradisional Bali, sudah menyajikan iga babi barbeku dan martini berkadar alkohol kuat sejak sebelum Seminyak menjadi tren. Tempat ini legendaris. Apakah iganya yang terbaik di pulau ini? Menurut saya, itu masih bisa diperdebatkan: iga di Warung Nia lebih sepadan dengan harganya, tetapi suasanalah yang membuat orang kembali.

Restoran di Ubud

Hujan Locale mengolah resep tradisional Indonesia menjadi lebih halus tanpa menghilangkan cita rasa yang membuatnya menarik: bagi saya, inilah perkenalan terbaik dengan masakan Indonesia modern di Ubud. Di Pica South American Kitchen, menurut saya steik dan ceviche-nya sangat berkualitas, tanpa kaitan apa pun dengan Bali; pesan tempat lebih awal, terutama untuk makan malam. Moksa adalah restoran berbasis nabati yang memikat bahkan pencinta daging sejati: menurut saya masakannya kreatif tanpa dibuat-buat, dan konsep “dari kebun ke piring” benar-benar diterapkan di sini.

Di mana makan hidangan laut?

Teluk Jimbaran adalah tempat di Bali untuk makan malam hidangan laut dengan kaki menapak pasir. Konsepnya sederhana dan sama di sekitar sepuluh restoran yang berjejer di pantai: kamu memilih ikan, udang, cumi, kepiting, atau lobster dari pajangan berisi es, lalu ditimbang dan dibakar di atas tempurung kelapa. Kamu menyantapnya di meja di atas pasir sambil menikmati matahari terbenam.

Makan malam untuk dua orang dengan ikan bakar, udang, nasi, sayuran, dan beberapa minuman biasanya menghabiskan 400.000 hingga 700.000 IDR (24 hingga 42 EUR), mahal untuk standar warung, tetapi masuk akal mengingat porsi makanan dan suasananya. Kualitas ikan secara umum bagus di semua restoran pantai, jadi pembedanya adalah sambal dan kesegaran bahan di pajangan.

Datanglah saat matahari terbenam: saya tiba sekitar 17:30 dan mendapat meja yang bagus tanpa reservasi. Sekitar 18:30, pantai mulai ramai dan beberapa restoran mulai menolak pengunjung. Sebaiknya datang pada hari kerja, saat pengunjung lebih sedikit. Restoran yang lebih besar, Menega misalnya, bisa terasa seperti pabrik turis saat musim ramai, sedangkan tempat-tempat kecil di selatan teluk lebih tenang dan pelayanannya lebih baik.

Makan malam hidangan laut bakar di pantai Jimbaran saat matahari terbenam
Di Jimbaran, saya memilih ikan dari pajangan es sebelum dibakar di atas tempurung kelapa.

Di mana minum kopi dan menikmati brunch?

Di Ubud, selain warung, budaya kafe sehat dengan pengaruh internasional berkembang di sekitar komunitas yoga dan kebugaran. Canggu, yang kini menjadi pusat brunch dan makanan nabati, punya lebih banyak restoran vegan per kilometer persegi daripada tempat lain di Asia Tenggara, serta budaya brunch yang bisa menandingi kota mana pun di Australia.

Kalau kamu vegetarian atau vegan, Bali mungkin pulau paling mudah untuk urusan makan di Indonesia. Makanan tradisionalnya sudah banyak menggunakan tempe, tahu, sayuran, dan kelapa. Jadi, bahkan di warung biasa, kamu bisa meracik nasi campur tanpa daging: tunjuk lauk sayur, tempe, tahu, dan sambal. Restoran khusus vegan dan vegetarian terkonsentrasi di Canggu dan Ubud, jumlahnya cukup banyak untuk makan sepenuhnya nabati selama berminggu-minggu tanpa mengulang tempat.

Satu hal yang perlu diperhatikan: banyak masakan Bali mengandung pasta udang (terasi) atau kaldu ayam yang tidak terlihat. Kalau kamu vegan ketat, sampaikan saat memesan di warung. Restoran khusus vegan terbuka soal bahan-bahannya, tetapi di warung tradisional, sambal bisa mengandung terasi dan kuah supnya belum tentu berbahan nabati.

Kafe di Ubud

Menurut saya, Suka Espresso menyajikan kopi terbaik di Ubud, dan saya menikmati brunch ala Australia di sana yang kualitasnya tak kalah dengan yang ada di Melbourne. Pison menjadi pesaingnya untuk gelar kopi terbaik di daerah ini, dengan suasana yang lebih santai. Watercress adalah tempat untuk sarapan lengkap ala Inggris, dengan telur, bacon, roti panggang, dan kopi enak, saat kamu butuh jeda dari makan nasi. Yellow Flower Cafe, yang tersembunyi di perbukitan Penestanan di atas pusat Ubud, adalah tempat yang hampir mustahil ditemukan tanpa rekomendasi: tanjakannya curam, pemandangannya sepadan, dan menurut saya masakannya sederhana tetapi diolah dengan baik.

Kafe sehat di Ubud dengan smoothie bowl
Kafe sehat di Ubud, wajah lain kota ini selain warung.

Brunch di Canggu

The Shady Shack adalah pelopor tempat vegan yang kini jadi andalan: bowl halloumi, burger nangka, dan smoothie bowl di suasana rimbun yang santai, tempat bahkan orang yang sama sekali tidak tertarik pada pola makan vegan akhirnya makan dengan senang hati. I Am Vegan Babe mengambil pendekatan yang bertolak belakang dengan Moksa: junk food vegan tanpa ragu, berupa burger, pancake dengan aneka topping, burrito, dan kentang goreng. Crate Cafe adalah salah satu tempat brunch pertama di Canggu dan masih menawarkan makanan Barat dengan kualitas paling sepadan dengan harganya, dengan porsi besar dan pelanggan setia; antrean akhir pekannya bisa panjang. Milk and Madu cocok untuk keluarga. Mason lebih bagus untuk makan malam daripada brunch, dengan menu malam yang lebih digarap, sementara Secret Spot mengkhususkan diri pada wafel dan hidangan penutup vegan.

Berapa biayanya?

Bali masih menjadi salah satu tempat termurah di Asia Tenggara untuk makan enak, asalkan kamu makan di tempat warga lokal makan. Di warung biasa, siapkan 20.000 hingga 40.000 IDR (1,20 hingga 2,50 EUR) untuk nasi campur, 35.000 hingga 50.000 IDR (2 hingga 3 EUR) untuk sepiring babi guling dengan nasi dan pelengkap, serta 35.000 IDR untuk makan lengkap di Warung Mak Beng di Sanur. Martabak manis dari gerobak kaki lima harganya 10.000 hingga 25.000 IDR (0,60 hingga 1,50 EUR). Saat di sana, saya makan lengkap tiga kali sehari dengan biaya kurang dari 100.000 IDR (6 EUR), hanya dengan makan di warung dan kaki lima. Panduan anggaran dan tips praktis saya merinci biaya sehari-hari.

Selisihnya dengan restoran wisata sangat besar. Bandingkan dengan brunch ala Barat di kafe Canggu (80.000 hingga 150.000 IDR, atau 5 hingga 9 EUR), makan di restoran wisata kelas menengah (150.000 hingga 300.000 IDR, atau 9 hingga 18 EUR), atau makan malam fine dining di Seminyak (500.000 IDR ke atas, atau 30 EUR ke atas).

Tips saya untuk makan murah: cari etalase dengan sistem « tunjuk ». Saya mengikuti pengemudi GoJek ke tempat makan siang mereka, coba lakukan juga. Berjalanlah setidaknya 10 menit menjauh dari jalan utama kawasan wisata. Jadikan makan siang sebagai waktu makan utama, saat makanan paling segar dan paling murah. Dan waspadalah terhadap warung yang menu bahasa Inggrisnya lebih besar daripada menu bahasa Indonesianya.

Di Ubud, saya menghabiskan satu pagi mengikuti kelas memasak, salah satu cara terbaik untuk memahami masakan Bali dan salah satu kegiatan paling populer di pulau ini. Di daerah ini, banyak kelas dimulai dengan kunjungan ke pasar lokal untuk membeli bahan. Saya belajar membuat base genep (bumbu dasar), beberapa masakan seperti sate lilit dan lawar, serta hidangan penutup. Siapkan waktu 4 hingga 5 jam, termasuk kunjungan pasar dan makan lengkap semua masakan yang kamu buat, dengan biaya 300.000 hingga 500.000 IDR (18 hingga 30 EUR). Saya merinci pilihan terbaik dalam panduan aktivitas dan hal yang bisa dilakukan di Bali.

Apakah aman makan di warung?

Sakit akibat makanan di Bali cukup umum sampai punya julukan tersendiri, « Bali belly », tetapi risikonya bisa dikendalikan dengan beberapa kebiasaan sederhana. Aturan saya yang paling bisa diandalkan: makanlah di warung yang ramai. Perputaran pelanggan yang tinggi berarti makanannya baru dimasak. Warung kosong berarti nasi campurnya sudah berjam-jam berada di etalase, dan di situlah bakteri berkembang biak.

Semua yang direbus, digoreng, atau dibakar di depanmu aman. Buah potong dari pedagang kaki lima lebih berisiko karena mungkin dicuci dengan air keran dan dibiarkan terbuka cukup lama. Hindari irisan kol mentah yang menjadi pelengkap beberapa hidangan, dan kalau nasi campur di etalase terlihat kering atau berkerak, pindah ke warung berikutnya.

Untuk es (saya juga membahasnya dalam panduan kesehatan dan tips praktis saya), jawabannya sederhana: es berbentuk tabung dengan lubang di tengah, yang diproduksi secara industri, aman. Es dengan potongan tidak beraturan dari balok kurang bisa diandalkan. Di warung atau restoran yang sudah mapan, esnya aman.

Untuk kebersihan, gunakan pembersih tangan setelah memegang uang dan sebelum makan: uang kertas Indonesia tidak bersih. Di warung yang sangat sederhana, saya memesan « bungkus » (untuk dibawa pulang, dibungkus kertas atau kantong) supaya tidak perlu memikirkan kebersihan peralatan makan, dan kamu juga bisa membawa alat makan sendiri.

Panduan Bali saya lainnya

Untuk merencanakan bagian lain dari perjalananmu, saya sudah menulis apa yang bisa dilakukan di Bali, pantai-pantai terindah di Bali, tempat menginap di Bali, dan persiapan perjalanan ke Bali, lengkap dengan anggaran, visa, dan musim. Kalau kamu menjadikan Ubud sebagai basis perjalanan, baca juga tempat menginap di Ubud. Semuanya terangkum dalam panduan lengkap Bali saya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *