Bali sering membuat orang yang baru pertama kali datang kewalahan: antara pura, air terjun, selancar, pendakian gunung berapi, dan kelas memasak, kebanyakan orang memadatkan aktivitas untuk 2 minggu ke dalam 5 hari dan menghabiskan lebih banyak waktu dalam kemacetan daripada beraktivitas.
Berikut 20 aktivitas favorit saya, dengan pendapat jujur tentang mana yang layak dicoba dan mana yang populer hanya karena terlihat bagus di Instagram. Untuk urusan persiapan perjalanan, rute, dan anggaran, baca panduan lengkap saya untuk berwisata ke Bali.
- 1. Melihat matahari terbit di Tanah Lot
- 2. Menonton tari Kecak api di Uluwatu
- 3. Mengikuti ritual penyucian di Tirta Empul
- 4. Mengunjungi Besakih dan pura-pura yang lebih tenang
- 5. Melihat sawah Tegallalang saat fajar
- 6. Berjalan di persawahan Jatiluwih dan Sidemen
- 7. Belajar selancar di Canggu
- 8. Menyelam di bangkai kapal USAT Liberty di Tulamben
- 9. Menyusuri Sungai Ayung dengan arung jeram
- 10. Melihat matahari terbit di Gunung Batur
- 11. Mendaki Gunung Agung
- 12. Mengikuti kelas memasak masakan Bali
- 13. Membuat cincin sendiri di Celuk atau membatik di Ubud
- 14. Menyiapkan canang sari bersama tuan rumahmu
- 15. Menginap di Nusa Penida
- 16. Menjelajahi Nusa Lembongan dengan skuter
- 17. Berjalan di hutan monyet Ubud
- 18. Turun ke Air Terjun Sekumpul
- 19. Melihat cahaya di Tukad Cepung
- 20. Beryoga di Ubud atau Canggu
- Berapa biayanya?
- Panduan Bali saya lainnya
1. Melihat matahari terbit di Tanah Lot
Dari ribuan pura Hindu di Bali, sopirmu akan dengan senang hati mengajakmu mengunjungi sekitar 12 pura dalam sehari: ini keliru, 2 atau 3 pura yang dipilih dengan baik jauh lebih berkesan daripada 7 pura yang dikunjungi terburu-buru. Tanah Lot adalah pura bak di kartu pos, tempat suci kecil yang bertengger di atas formasi batuan tak jauh dari pantai, dengan siluet berlatar matahari terbenam.
Saat ramai, lorong kios suvenir mengarah ke titik pandang yang sesak, tempat rombongan berdesakan demi foto yang sama, dan pengunjung tidak boleh masuk ke dalam pura. Saat matahari terbit, tempat ini nyaris hanya untuk saya sendiri. Saat air surut, kamu bisa berjalan hingga ke kaki batu karang; saat air pasang, pura tampak mengapung di atas ombak, momen terbaik untuk foto. Saat matahari terbenam, hindari kerumunan: kafe-kafe di atas tebing menjual Bintang dingin dengan pemandangan yang sama.

2. Menonton tari Kecak api di Uluwatu
Pura Uluwatu berdiri sekitar 70 meter di atas laut: jalan kaki singkat di atas tebing, pemandangan ke arah selatan sepanjang pesisir, dan bagian dalam pura yang tertutup bagi pengunjung. Bagi saya, yang membuat perjalanan ke sini layak adalah tari Kecak api saat matahari terbenam, di amfiteater yang dibentuk pada tebing. Sekitar 50 pria duduk dalam lingkaran-lingkaran sepusat sambil melantunkan “cak-cak-cak”, para penari memeragakan adegan Ramayana, dan matahari tenggelam di Samudra Hindia di belakang mereka: memang turistik dan komersial, tetapi saya tetap merasa pertunjukannya memukau.

Monyet-monyetnya adalah pencuri terorganisasi: mereka merampas kacamata hitam, anting, dan ponsel, lalu seorang pawang “menyelamatkan” barangmu dengan bayaran, jadi lepas semuanya sebelum masuk. Setelah pertunjukan, 500 orang mencari kendaraan pada 19:30: sewa sopir pribadi untuk sore hingga malam itu (sekitar 300.000 IDR untuk 5 jam), atau makan malam setelahnya di Teluk Jimbaran yang dekat, sambil menunggu keramaian mereda.
3. Mengikuti ritual penyucian di Tirta Empul
Di Tirta Empul, saya mengikuti ritual penyucian diri dengan air khas Bali, berdiri di bawah pancuran batu yang dialiri mata air alami. Di kebanyakan pura, pengunjung hanya mengamati dari balik tali pembatas; di sini, kamu masuk ke air dan berpindah dari pancuran ke pancuran mengikuti urutan tertentu.

Datanglah sebelum 10:00, sebelum sesi foto para influencer memenuhi kolam dan mengusir suasana khusyuk. Sarung wajib dipakai (bisa disewa di pintu masuk), dan jangan sampai menelan air mata air pura, salah satu penyebab umum diare wisatawan. Untuk ritual yang sama dengan suasana tenang, datanglah ke Sebatu atau Tirta Sudamala, 2 pura yang lebih kecil dan jauh lebih sepi.
4. Mengunjungi Besakih dan pura-pura yang lebih tenang
Besakih, pura Hindu terpenting di Bali, memiliki 23 pura terpisah yang berjajar di lereng Gunung Agung, dengan skala yang tak tertandingi di pulau ini; saat cuaca cerah, teras-terasnya menuntun pandangan hingga ke puncak gunung berapi. Sekitar 90 menit dari Ubud, kompleksnya cukup luas sehingga kerumunan makin menipis semakin jauh kamu berjalan: kalau hanya mengunjungi 1 pura di luar Ubud, inilah pilihan saya.
Gunung Kawi, tempat-tempat suci kuno yang dipahat pada batu di dasar sekitar 300 anak tangga dalam lembah sungai, terasa jauh lebih khusyuk bagi saya daripada pura-pura besar yang terkenal, dan perjalanan naik kembali melewati sawah menyumbang separuh pesonanya. Pura Kehen di Bangli nyaris tidak didatangi wisatawan, padahal memiliki ukiran batu yang rumit dan pohon beringin raksasa yang tumbuh menembus pintu masuk. Taman Ayun di Mengwi (kolam-kolam besar yang memantulkan pemandangan, taman yang terawat) layak disinggahi sebentar kalau kamu lewat, dan Pura Saraswati di pusat Ubud, yang gratis dikunjungi, memiliki kolam teratai yang paling cantik pada pagi hari.

Pura yang saya hindari: Lempuyang dengan gerbangnya yang terkenal. Foto dengan pantulan cermin itu direkayasa menggunakan layar ponsel yang diletakkan di bawah kamera, antreannya bisa lebih dari 2 jam, dan puranya, meski lumayan, tidak sepadan dengan perjalanan maupun waktu tunggunya.
5. Melihat sawah Tegallalang saat fajar
Tegallalang adalah sawah terasering yang ada di setiap video perjalanan ke Bali, undakan hijau cerah yang menurun ke lembah sungai sekitar 20 menit di utara Ubud. Pemandangannya sangat indah, tetapi berjalan di sana cukup merepotkan: pedagang di setiap jalur, permintaan “donasi” di setiap tikungan, dan jalan setapak sempit yang dipadati wisatawan rombongan bus sejak menjelang siang.

Saya tiba saat matahari terbit, sekitar 6:00: cahaya keemasan yang lembut, nyaris tak ada orang, dan panas yang masih bisa ditoleransi di undakan curam dan tidak rata tanpa tempat berteduh itu. Tinggalkan sandal dan pakai sepatu yang layak.
6. Berjalan menyusuri persawahan Jatiluwih dan Sidemen
Kalau Tegallalang adalah versi Instagram, Jatiluwih adalah gambaran persawahan Bali yang sesungguhnya: 600 hektare yang masuk daftar Warisan Dunia UNESCO, lanskap yang lebih luas, jauh lebih sedikit wisatawan, dan tanpa gangguan pedagang. Saya berjalan di sana lebih dari 1 jam tanpa berpapasan dengan rombongan lain. Letaknya sekitar 90 menit dari Ubud, dan kunjungannya biasanya digabung dengan Bedugul atau air terjun di utara.

Sidemen mirip Ubud 20 tahun lalu: lembah di bawah bayangan Gunung Agung, sawah terasering, bengkel tenun, dan penginapan bambu dengan harga yang jauh lebih murah daripada di Ubud (lihat panduan tempat menginap di Bali saya). Tidak ada yang mencoba menjual apa pun kepada saya di persawahan. Untuk sawah yang tenang dan belum terlalu dikomersialkan, menurut saya inilah pilihan terbaik di pulau ini.
7. Belajar berselancar di Canggu
Ombak Bali sangat bervariasi tergantung lokasinya, dan kebanyakan pemula justru berakhir di pantai yang salah. Untuk belajar, pilih Canggu: di Batu Bolong dan Old Man’s Beach, dasar lautnya berpasir, ombak buihnya bersahabat, dan puluhan sekolah selancar saling bersaing. Karena itu, biaya kursus sekitar 350.000-500.000 IDR untuk sesi kelompok selama 2 jam, dan sekitar 50.000-100.000 IDR per jam untuk sewa papan saja. Suasananya ramah dan mudah untuk berkenalan, dengan warung dan smoothie bowl di tepi pantai untuk jeda antarsesi.
Uluwatu cocok untuk peselancar berpengalaman: terumbu karang tajam, arus kuat, akses masuk dengan melompat dari bebatuan, dan kunjungan ke IGD yang sering terjadi akibat luka tergores karang. Jangan berselancar di sana kalau kamu belum percaya diri di atas papan; “Baby Padang”, di kawasan Uluwatu, menjadi pengecualian bagi pemula, tetapi bisa terlalu padat hingga berbahaya saat ombaknya bagus. Saran saya: minggu pertama di Canggu, lalu 1 hari di Uluwatu. Saya menonton para peselancar profesional dari warung di tebing, dan pemandangannya saja sudah sepadan dengan perjalanannya.
Dari pasir vulkanik hitam di utara dan timur hingga pasir putih di selatan, kondisi untuk berenang, berselancar, dan suasananya berbeda di setiap pantai. Panduan pantai terindah di Bali saya mengelompokkan 15 pantai berdasarkan aktivitas yang benar-benar cocok di sana.
8. Menyelam di bangkai USAT Liberty di Tulamben
Untuk belajar menyelam, pergilah ke Amed atau Tulamben di pesisir timur laut: air tenang, arus lemah, dan akses langsung dari pantai. Di Tulamben, saya menyelam di bangkai USAT Liberty, kapal kargo Amerika yang ditorpedo kapal selam Jepang pada 1942. Kapal ini terbaring di kedalaman sekitar 30 meter, hanya 25 meter dari tepi pantai, dan dipenuhi karang serta ikan. Ini salah satu tempat terbaik di Asia Tenggara untuk mengikuti PADI Open Water (biasanya 3 hari, sekitar 300-350 euro).
Nusa Penida cocok untuk penyelam berpengalaman: pari manta, mola-mola (ikan matahari) yang besar dan unik, serta pemandangan bawah laut yang spektakuler. Namun, arusnya bisa sangat ganas, seperti “mesin cuci” saat kondisinya buruk. Jangan menyelam di Penida begitu baru mendapat sertifikasi: ambil sertifikasi di Amed selama 3 hari, lalu naik kapal cepat ke Penida setelah punya pengalaman beberapa kali menyelam.

Untuk snorkeling, USAT Liberty memiliki bagian yang tertutup karang mulai dari kedalaman 3 meter. Di Manta Point, lepas pantai Nusa Penida, peluang melihat pari manta dari permukaan cukup tinggi (air terkadang bergelombang, perjalanan kapal terasa berat), sementara Amed memiliki terumbu dengan air tenang dan jernih yang bisa diakses dari pantai.
9. Mengarungi Sungai Ayung dengan arung jeram
Ada 2 sungai untuk arung jeram di dekat Ubud. Saya mencoba Ayung, yang lebih tenang: jeram kelas II-III di ngarai dalam yang berhutan, wajah-wajah terpahat di dinding ngarai, tumbuhan menjuntai, dan air terjun kecil. Ini kegiatan santai untuk keluarga, anak berusia di atas 7 tahun, dan siapa saja yang lebih suka menikmati pemandangan.

Telaga Waja, lebih ke timur dekat Karangasem, memiliki turunan yang lebih besar, arus lebih deras, dan bagian-bagian kelas III-IV. Jalurnya menguras tenaga, tetapi membuatmu tetap tersenyum meski kelelahan. Kedua kegiatan ini berlangsung sekitar 2 jam di air, termasuk makan siang. Pesan secara online langsung ke operator: hotel mengambil margin besar, dan kalau memesan langsung, kamu membayar sekitar separuhnya. Siapkan antara 250.000 dan 450.000 IDR, tergantung sungai dan operatornya.
10. Melihat matahari terbit di Gunung Batur
Melihat matahari terbit di Gunung Batur mungkin merupakan wisata paling populer di Bali, dan itulah sekaligus kelebihan serta masalahnya. Saat pagi cerah, kamu mencapai puncak ketika matahari terbit di atas Gunung Agung dan danau kaldera, dengan pemandangan hingga Gunung Rinjani di Lombok: panorama dengan nilai 10 dari 10.
Pendakiannya sendiri lebih layak mendapat nilai 4. Sopir menjemput saya sekitar pukul 2:00, dan saya tiba di titik awal sekitar pukul 3:30, dalam barisan ratusan lampu kepala yang meliuk di lereng gunung. Jalurnya secara teknis mudah (kebugaran sedang sudah cukup), tetapi kerikil vulkaniknya gembur dan kamu berjalan tanpa sempat tidur.

Pemandu lokal pada praktiknya wajib: asosiasi pendakian mengontrol titik awal jalur, dan berangkat tanpa pemandu berisiko memicu konfrontasi agresif. Siapkan 25-35 USD per orang dalam kelompok, atau 50-70 USD untuk pemandu pribadi, yang saya sarankan: dengan selisih harga yang tidak terlalu besar, ia berangkat lebih awal, mengikuti ritmemu, dan mencarikan tempat jauh dari keramaian di puncak.
11. Mendaki Gunung Agung
Kalau Batur terasa terlalu mudah atau terlalu ramai, Gunung Agung adalah alternatif yang lebih menantang: 3.031 meter, puncak tertinggi di Bali, sekaligus gunung berapi aktif yang terakhir meletus pada 2017-2019. Siapkan waktu 5 hingga 7 jam untuk mendaki, tergantung rute dan kebugaranmu, kondisi fisik yang baik, serta keberangkatan sekitar pukul 23:00 malam sebelumnya agar bisa melihat matahari terbit di puncak.
Ada 2 rute: dari Pura Pasar Agung di sisi selatan, lebih pendek tetapi lebih curam, atau dari Pura Besakih di sisi utara, lebih panjang tetapi mencapai puncak sesungguhnya. Saat awan bersahabat, pemandangannya mencakup seluruh pulau dan gunung-gunung berapi di Lombok yang berdekatan. Saya hanya menyarankannya kalau kamu berpengalaman mendaki selama beberapa jam di ketinggian, dan pemandu wajib digunakan (sekitar 60-80 USD).
12. Mengikuti kelas memasak masakan Bali
Kelas memasak saya dimulai pagi hari di pasar bersama instruktur, untuk membeli bahan dan mengenali rempah serta bahan dasar masakan Bali. Kelas kemudian berlangsung selama 4 hingga 5 jam, di halaman rumah keluarga atau dapur terbuka, untuk membuat 6 atau 7 hidangan tradisional: sate saus kacang, lawar (salad sayuran dan kelapa), bebek betutu (bebek yang dimasak perlahan dalam daun pisang), nasi goreng, dan sambal yang diulek dengan tangan di cobek batu, sebelum semuanya disantap.

Saya mencincang serai, mengulek bumbu, mempelajari perbedaan antara base genep dan base gede (2 bumbu dasar utama), dan memasak di atas api langsung, lalu makan bersama keluarga yang mengajar saya. Kelompoknya kecil, biasanya 8-12 peserta, dan ini salah satu dari sedikit kegiatan wisata di Bali yang membuat saya pulang dengan perasaan benar-benar telah belajar sesuatu. Siapkan 20-35 euro per orang, termasuk kunjungan pasar, bahan, dan resep untuk dibawa pulang; Ubud memiliki pilihan kelas terbanyak, sementara Seminyak dan Sanur juga punya pilihan bagus. Saya memasak nasi goreng dan sambal ulek versi saya di rumah.
13. Membuat cincin sendiri di Celuk atau batik di Ubud
Desa Celuk, sekitar 20 menit di selatan Ubud, sudah mengolah perak dan emas secara turun-temurun. Beberapa bengkel kerajinan menawarkan sesi setengah hari untuk merancang dan menempa cincin atau liontin perakmu bersama perajin lokal, dengan biaya sekitar 300.000-500.000 IDR tergantung kerumitan dan berat peraknya, dalam kelompok kecil (biasanya 2-6 orang) dengan bimbingan pribadi yang sungguh-sungguh. Saya pulang membawa kenang-kenangan yang bisa dipegang.
Lebih menenangkan daripada memacu adrenalin, batik, teknik pewarnaan dengan lilin yang ada di seluruh Indonesia, bisa kamu praktikkan terutama di sekitar Ubud. Dalam 2 sampai 3 jam, kamu menggambar motif di kain, mengoleskan lilin panas pada bagian yang tidak ingin diwarnai, mencelupkan kain ke pewarna alami, lalu pulang membawa hasil karyamu.
14. Membuat canang sari bersama tuan rumahmu
Saat menginap di homestay atau penginapan kecil, mintalah tuan rumah mengajarimu membuat canang sari, wadah sesajen kecil dari anyaman janur yang diletakkan umat Hindu Bali setiap pagi di depan pintu, tempat suci, dan persimpangan. Kebanyakan tuan rumah senang melakukannya: bagi saya, ini cara yang tenang dan autentik untuk mengenal praktik spiritual sehari-hari, yang tidak ditawarkan operator tur mana pun.
Desa Penglipuran, sebuah komunitas tradisional sekitar 1 jam dari Ubud, layak dikunjungi sebentar. Saya menyukai arsitekturnya yang terawat luar biasa baik dan jalan-jalannya yang berjajar bambu, meskipun desa ini sudah sedikit berorientasi pada pariwisata.
15. Menginap di Nusa Penida
Nusa Penida, pulau beralam liar yang terlihat dari pesisir tenggara Bali, terkenal dengan tebing-tebing menjulang, air laut berwarna biru toska, dan tanjung berbentuk T-Rex di Pantai Kelingking, kini menjadi salah satu pulau paling ramai dikunjungi di kawasan ini. Kesimpulan saya: jangan ikut tur sehari dari Bali.
Perjalanan kapal cepat memakan waktu 30 sampai 45 menit sekali jalan, kondisi jalannya parah (alur roda yang dalam, jalur tunggal, tikungan tajam), dan titik-titik panoramanya berjauhan: 80 persen waktu habis di perjalanan, 20 persen untuk berdesakan di 3 tempat yang sama dengan semua orang. Kalau ikut tur, kamu tiba di Kelingking sekitar pukul 10:00 bersama 15 bus wisatawan, berfoto sambil berkeringat, lalu naik lagi ke mobil.

Saya menginap di pulau ini, dan saya menyarankan 1 sampai 3 malam untuk menjelajahi sisi barat (Kelingking, Broken Beach, Angel’s Billabong) sebelum pukul 9:00 atau setelah pukul 16:00, saat peserta tur harian sudah pergi. Sisi timur (Pantai Diamond, Pantai Atuh) biasanya lebih tenang, dan menurut saya lebih indah, tetapi jangan menjelajahi kedua sisi pada hari yang sama. Gunakan sopir alih-alih skuter: tanjakan dan turunan curam, kerikil lepas, serta tidak adanya pagar pengaman membuat jalanan berbahaya bagi pengendara yang belum berpengalaman.
16. Menjelajahi Nusa Lembongan dengan skuter
Kalau Nusa Penida terasa terlalu merepotkan, Nusa Lembongan adalah alternatif yang mudah dan tenang: lebih kecil, lebih datar, lebih tertata, dengan restoran-restoran bagus, air jernih untuk snorkeling di sepanjang pesisir utara, dan ritme hidup yang mungkin mirip Bali 15 tahun lalu. Saya mengelilinginya dengan skuter dalam 1 hari, tanpa terburu-buru. Hutan mangrove di sisi selatan layak dijelajahi dengan kayak, semburan air Devil’s Tear di pesisir barat daya mengesankan saat ombak besar, dan pulau ini bisa menjadi basis untuk perjalanan singkat dengan kapal ke Penida, tanpa harus menghadapi pilihan penginapan di sana yang terbatas dan sering mengecewakan.
17. Berjalan-jalan di hutan monyet Ubud
Sacred Monkey Forest Sanctuary, di pusat Ubud, menjadi rumah bagi sekitar 1.200 monyet ekor panjang di antara pura batu berlumut dan pohon beringin. Bagi saya tempat ini terasa ajaib, dengan monyet-monyet yang berayun di atas kepalamu dan memanjat reruntuhan, tetapi sebagian orang merasa tegang di sini: monyet-monyetnya berani, teritorial, dan dikenal suka menggigit wisatawan yang menatap mata mereka, membawa makanan, atau mengenakan aksesori yang menjuntai.

Lepaskan perhiasan, kacamata hitam, dan topi sebelum masuk, jangan bawa makanan, jangan buka tas apa pun, jangan tatap mata monyet, dan jangan sentuh mereka; kalau ada monyet melompat ke tubuhmu, diam saja, nanti ia akan kehilangan minat. Tiket masuknya 80.000 IDR, dan kalau kamu mengikuti aturan, ini jalan-jalan menyenangkan selama 45 menit. Untuk menginap di Ubud, di tengah sawah dan dekat sekali dengan hutan ini, saya punya panduan khusus.
18. Turun ke Air Terjun Sekumpul
Bali punya puluhan air terjun, dan kebanyakan rencana perjalanan menyelipkan 3 atau 4 dalam 1 hari: itu berlebihan, semuanya mulai terasa sama setelah air terjun ke-2, dan kelembapan tropis lebih melelahkan daripada kelihatannya. Pilih 1 atau 2, dan kalau hanya mengunjungi 1, pilih Sekumpul, yang paling spektakuler di pulau ini: air terjun kembar setinggi sekitar 80 meter yang jatuh ke kolam di hutan, dikelilingi tumbuhan tropis.

Kendalanya adalah akses: lebih dari 350 anak tangga curam, penyeberangan sungai, dan jalan setapak hutan yang lembap membuat saya basah kuyup oleh keringat bahkan sebelum mencapai airnya, dan perjalanan naiknya lebih berat. Siapkan total 2-3 jam dan bawa air minum.
Penipuan yang sering terjadi: orang-orang menghentikan mobilmu beberapa kilometer dari parkiran sebenarnya dengan dalih jalan ditutup atau pemandu wajib digunakan. Itu tidak benar, teruskan sampai loket resmi dan area parkir. Sekumpul berada di Bali utara, jadi sebaiknya kunjungi sambil menginap di Munduk atau Lovina, bukan sebagai perjalanan sehari dari Ubud.
19. Melihat cahaya di Tukad Cepung
Tukad Cepung adalah air terjun di dalam gua: pada pagi yang cerah, cahaya menembus celah di langit-langit batu dan menyinari air yang jatuh dengan berkas-berkas sinar, efek yang unik di pulau ini. Datanglah sebelum pukul 9:00, karena setelah itu sudut matahari berubah dan gua hanya menjadi ruang gelap dan lembap. Kamu tidak benar-benar bisa berenang di sini, dan dasar sungainya yang berbatu serta licin membuat sepatu air diperlukan.
Untuk berenang, pergilah ke Air Terjun Kembar Banyumala, juga di utara: kolamnya dalam, bersih, dan relatif sepi. Dekat Ubud, Nungnung dan Leke Leke adalah pilihan bagus tanpa perlu berkendara sampai pesisir utara, sementara Gitgit yang mudah diakses sudah cukup dikomersialkan. Saya menghindari Tegenungan, di selatan Ubud, yang paling mudah diakses di pulau ini dan karena itu paling dipadati pengunjung: kolamnya penuh sejak menjelang siang, suasananya lebih seperti taman rekreasi air daripada wisata alam.
20. Berlatih yoga di Ubud atau Canggu
Kegiatan yoga berpusat di Ubud untuk pengalaman mendalam (retret beberapa hari, terapi jus, terapi suara, lokakarya spiritual), dan di Canggu untuk pengunjung yang lebih muda dan santai, yang mengikuti kelas per sesi di sela berselancar dan nongkrong di kafe. Saran saya: jangan memesan retret paket lengkap yang mahal sekali sebelum tiba. Sewa kamar yang tenang dan beli paket 5 sampai 10 sesi di studio yang kamu sukai, dengan biaya jauh lebih murah dan kebebasan mencoba berbagai pengajar serta gaya.
Di Ubud, saya berlatih di The Yoga Barn, studio terbesar dan paling cocok untuk bersosialisasi, dengan puluhan kelas per hari: padat dan komersial, tetapi ideal untuk bertemu wisatawan lain. Radiantly Alive lebih kecil dan lebih terfokus, dengan pengajaran berkualitas. Di Canggu, The Practice menarik praktisi serius dengan pendekatan tradisionalnya, dan Serenity Eco Guesthouse memadukan kelas terjangkau dengan suasana santai dan bersahaja.
Berapa biayanya?
Untuk perjalanan sehari dengan beberapa pemberhentian, saya menyewa sopir pribadi, 30-45 euro untuk sehari penuh (8-10 jam): ia menangani lalu lintas, menyarankan waktu terbaik untuk tempat-tempat populer, dan menjaga barangmu saat kamu berjalan kaki menjelajah alam. Pesan lewat penginapanmu atau aplikasi seperti Klook, dan pilih tempat menginap dengan panduan kawasan Bali saya untuk mengurangi waktu perjalanan.
Di kota, saya menggunakan Gojek atau Grab, aplikasi transportasi online di Bali, dan di jalan hanya taksi Bluebird (berlogo burung biru), yang menggunakan argo, sementara yang lain sering memasang harga tinggi. Skuter bisa disewa seharga 50.000-75.000 IDR per hari, tetapi lalu lintasnya benar-benar berbahaya: jalan sempit, pengendara yang sulit diprediksi, fasilitas medis terbatas di luar Denpasar. Kalau kamu belum pernah mengendarai skuter di Asia Tenggara, Bali bukan tempat untuk belajar.
Biaya tersembunyinya adalah waktu: 40 menit di Google Maps bisa dengan mudah menjadi 90 pada jam sibuk, terutama di sekitar Denpasar, Kuta, dan jalan menuju Ubud. Kelompokkan kegiatanmu berdasarkan kawasan: air terjun di utara dan Jatiluwih pada hari yang sama. Gabungkan Tegallalang, Tirta Empul, dan Gunung Kawi dalam 1 pagi di sekitar Ubud, dan jangan pernah mengunjungi pura di utara serta pantai di selatan pada hari yang sama: 4 sampai 6 jam di mobil, dan tiba pada waktu terburuk di kedua tempat.
Isi tasmu: sarung, yang wajib dipakai di setiap pura (30.000-50.000 IDR untuk membeli, atau bisa disewa di sebagian besar pura besar), sepatu tertutup untuk gunung berapi, air terjun, dan sawah, sepatu air untuk Tulamben atau Tukad Cepung, tabir surya, botol minum isi ulang, dan jaket penahan angin yang ringan. Anggaran, keamanan, kesehatan, kartu SIM, dan rencana perjalanan hari demi hari: semuanya ada dalam tips praktis saya untuk berkunjung ke Bali.
Panduan saya lainnya tentang Bali
Kalau kamu masih bimbang antara Bali dan Phuket, rekomendasi aktivitas saya di Phuket berfokus pada menjelajah dari pulau ke pulau, tur perahu, dan eksplorasi bawah laut di Laut Andaman, dengan pulau-pulau lepas pantai dan lokasi menyelam yang lebih mudah dijangkau serta tidak terlalu ramai. Sementara itu, pura dan sawah terasering Bali tidak ada padanannya di sana. Saya juga punya rekomendasi aktivitas di Bangkok dan Hanoi, serta tempat-tempat pilihan saya dalam panduan tempat makan di Bali. Untuk informasi lainnya, mulai dari panduan lengkap saya untuk berwisata ke Bali.