Nasi musim panas khas Jepang dengan jagung manis dan tongkolnya yang mengharumkan seluruh panci, tanpa mentega maupun kaldu.
Saat cuaca panas dan jagung sedang berada di puncak manisnya, inilah waktu yang tepat untuk memasukkannya ke dalam nasi. tōmorokoshi gohan menghadirkan aroma jagung bermentega, padahal tidak ada setitik mentega pun di dalam panci : biji jagung mentah dan tongkol yang sudah dipipil, diletakkan di atas nasi, lalu mengharumkan uap selama dimasak.
Saat tutup panci dibuka, butiran jagung kuning berkilau di antara bulir nasi yang mengilat, dan setiap suapan menghadirkan rasa murni jagung segar. Hidangan yang tampak terlalu sederhana untuk mengejutkan, sampai suapan pertama.

Apa sebenarnya tōmorokoshi gohan?
Namanya langsung menjelaskan inti hidangannya : tōmorokoshi berarti jagung, sedangkan gohan merujuk pada nasi matang dan, secara lebih luas, pada santapan. Kata tōmorokoshi awalnya dipakai untuk menyebut sorgum yang datang dari luar negeri sebelum akhirnya menetap sebagai sebutan untuk jagung.
Resepnya mencerminkan kesederhanaan namanya : beras Jepang berbutir pendek, jagung manis segar yang dipakai mentah, serta bumbu secukupnya agar jagung tetap menjadi bintang utama.
Kunci hidangan ini ada pada shin. Setelah biji jagung dipisahkan dengan pisau, tongkol yang sudah bersih diletakkan di atas nasi sebelum dimasak. Saat dikukus, tongkol itu melepaskan gula dan aromanya, sehingga bahkan suapan tanpa biji jagung pun tetap terasa jagung.

Dari jagung pegunungan ke meja-meja Edo
Jagung tiba di Jepang pada tahun 1579 bersama para pelaut Portugis, kemungkinan melalui Nagasaki atau Shikoku. Varietas awalnya keras dan bertepung, kaya pati tetapi rendah gula.
Di desa-desa pegunungan di utara Miyazaki, sekitar Takachiho, Gokase, dan Hinokage, jagung yang tangguh ini menjadi bahan pangan penting : dikeringkan di bawah cucuran atap, ditumbuk kasar dalam lesung, lalu dimasak bersama nasi atau jelai dengan nama tōkibi-meshi, dengan komposisi 10 hingga 20 % dari campuran.

Di Edo, jagung juga hadir di meja-meja mewah : restoran Yaozen meninggalkan resep morokoshi asari gohan, yang memadukan jagung dengan kerang. Hidangan modern dengan biji jagung segar dan manis baru muncul kemudian : pada era Meiji, Hokkaidō mengimpor varietas jagung manis dari Amerika, seperti Golden Bantam, yang sudah dibudidayakan luas sejak 1904.
Dari makanan sederhana untuk bertahan hidup, tōmorokoshi gohan kini menjadi sajian musim panas dalam masakan Jepang, yang menonjolkan kesegaran jagung.
Bahan-bahan utama tōmorokoshi gohan

Beras putih Jepang berbutir pendek menghasilkan tekstur yang mengilap dan sedikit lengket ; beras ini menyerap manisnya tongkol sambil tetap mempertahankan bulir yang utuh. Satu tongkol besar jagung manis yang benar-benar segar sudah cukup : biji mentahnya memberi rasa manis yang berair dan kerenyahan, sementara tongkol yang telah dipipil mengharumkan uap.
Untuk bumbu, semuanya tetap sederhana : garam untuk menonjolkan manis alaminya, dan sedikit sake untuk melembutkan biji serta meredam aroma langu.
Agar warna nasi tetap cerah, lebih baik gunakan kecap asin ringan, usukuchi atau shiro shoyu, daripada kecap asin gelap : keduanya memberi sentuhan umami asin tanpa menggelapkan bulir nasi, sementara shiro shoyu juga menambahkan sedikit rasa manis. Sepotong kecil kombu atau dashi kombu yang sangat ringan dapat memberi dasar umami, tetapi kaldu katsuobushi atau kaldu ayam akan menutupi aroma halus dari tongkol.
Patokan keaslian
Ciri utamanya terletak pada saat jagung mulai berperan : biji mentah dan tongkol dimasak bersama nasi, tidak pernah direbus atau ditumis terpisah, dan tidak pernah ditambahkan belakangan. Bumbunya tetap ringan, biasanya hanya garam dan sake.
Di Hokkaidō, sentuhan akhir berupa mentega dan kecap asin yang dikaramelisasi mengingatkan pada jagung bakar di festival, versi yang lebih kaya rasa daripada resep klasik. Yang sebaiknya dihindari : bawang putih, cabai, kaldu ayam, atau jagung yang sudah dimasak sebelumnya, karena semuanya akan menutupi rasa jagung. Jika berhasil, nasi akan harum jagung, dan rasa jagungnya tetap terasa bahkan pada suapan nasi tanpa butiran jagung.

Bahan-bahan
- 350 g beras Jepang berat kering
- 1 tongkol jagung segar (atau gunakan jagung mentah beku)
- 360 ml air
- 2 sendok teh sake
- 0.5 sendok teh garam
Petunjuk
Persiapan
- Bilas beras.350 g beras Jepang

- Rendam selama 15 menit.

- Tiriskan dalam saringan.

- Pisahkan biji jagung dari tongkolnya.1 tongkol jagung
- Lumuri biji jagung dengan garam.0.5 sendok teh garam

- Campurkan sake dengan air.2 sendok teh sake, 360 ml air

- Masukkan beras, air campuran sake, dan biji jagung ke dalam panci.

- Didihkan di atas api sedang-besar tanpa tutup.

- Begitu mendidih, aduk sekali.

- Letakkan tongkol jagung di atasnya.Sebagai catatan, saat pemotretan saya tidak menemukan jagung bertongkol di toko, jadi saya menggunakan jagung mentah beku.
- Tutup panci.

- Masak dengan api kecil selama 10 menit.
- Matikan api, lalu diamkan tetap tertutup selama 10 menit.
- Angkat tongkol jagung.
- Aduk nasi dan jagung secara perlahan sebelum disajikan.
