Bali punya lebih dari 60 pantai bernama di sebuah pulau yang luasnya kira-kira seukuran Luksemburg, dan salah pilih bisa merusak liburanmu selama seminggu: kebanyakan pengunjung yang baru pertama kali datang berakhir di Kuta, melihat air cokelat keabu-abuan dan deretan sampah di pasir, lalu bertanya-tanya apa yang salah.
Berikut 15 pantai favorit saya, dari satu pesisir ke pesisir lainnya, mulai dari pasir vulkanik abu-abu di barat sampai Kepulauan Nusa, 30 menit naik perahu. Untuk rencana liburan selebihnya, mulai dari panduan lengkap saya untuk berwisata ke Bali.
- 1. Belajar selancar di Pantai Double Six, Seminyak
- 2. Turun ke Padang Padang, Semenanjung Bukit
- 3. Makan nasi goreng sambil menonton peselancar, Bingin
- 4. Minum Bintang saat matahari terbenam, Balangan
- 5. Berenang di air biru toska Melasti
- 6. Menghindari keramaian di Nyang Nyang dan Green Bowl
- 7. Menonton peselancar Uluwatu dari Single Fin
- 8. Makan malam ikan bakar di Jimbaran
- 9. Berenang dengan tenang di Sanur
- 10. Meluncur ke Virgin Beach, dekat Candidasa
- 11. Snorkeling langsung dari pantai di Amed
- 12. Melihat lumba-lumba Lovina dan menyelam di Menjangan
- 13. Melihat Kelingking saat fajar, Nusa Penida
- 14. Menjadikan Nusa Lembongan sebagai basis menginap
- 15. Menyeberangi Jembatan Kuning menuju Nusa Ceningan
- Kapan sebaiknya pergi?
- Panduan saya lainnya tentang Bali
1. Belajar selancar di Pantai Double Six, Seminyak
Saya bilang terus terang dari awal: Pantai Kuta itu tidak bagus. Sebagai pantai wisata pertama, di sebelah bandara, pantai ini menyimpan jejak puluhan tahun pariwisata massal: kerikil vulkanik abu-abu, air keruh, pedagang keliling yang terus mengikutimu. Dari Desember sampai Maret, saat musim hujan, plastik dari laut terdampar di sini dalam jumlah yang bikin miris: foto sampah Bali yang kamu lihat di berita hampir pasti diambil di sana. Untuk menginap di sini, lihat pilihan tempat menginap dekat pantai-pantai Kuta.
Saya berjalan 20 menit ke utara menyusuri pasir sampai Seminyak, lalu Legian: pasir abu-abunya sama, sama-sama menghadap tepat ke barat, tetapi di sisi Seminyak restorannya lebih bagus, hotelnya lebih mewah, dan suasananya sedikit lebih teratur. Pantai Double Six, di perbatasan Seminyak-Legian, adalah satu-satunya kelebihan nyata kawasan pesisir ini: ombak pecah di atas dasar berpasir, tanpa terumbu atau bebatuan. Bagi saya, ini mungkin tempat paling aman di Bali untuk mencoba selancar, satu-satunya ombak di selatan yang benar-benar ramah untuk pemula: buih ombak yang lembut, pasir empuk kalau kamu jatuh, dan orang yang sama sekali belum pernah berselancar bisa berdiri di papan sejak pelajaran pertama. Kalau kamu ingin berselancar, ambil pelajaran pertamamu di sini lalu lanjut ke tempat lain.

Di Bali, perbedaan antara spot pemula dan ahli lebih besar daripada di tempat lain, dan ombak yang pecah di atas terumbu tajam dengan arus kuat adalah hal biasa. Batu Bolong, di Canggu, spot pemula hingga menengah paling populer, punya dasar campuran terumbu dan pasir, dan bisa sangat padat sampai berbahaya (bayangkan 100 orang di area menunggu ombak yang sama). Saran saya, di sana maupun di mana pun: datang saat matahari terbit, pukul 6:00, ketika angin tenang dan belum ada keramaian; setelah sekitar pukul 10:00, angin dari laut membuat ombak di sebagian besar spot berantakan dan murid sekolah selancar memenuhi area menunggu ombak. Kursus, penyewaan perlengkapan, dan kamp selancar: panduan saya untuk aktivitas dan petualangan di Bali.
Menginap di sini? Hanya kalau kehidupan malam, restoran, dan kemudahan menjangkau semuanya dengan berjalan kaki jadi prioritasmu, karena pantai-pantai ini yang paling buruk di pulau ini: untuk berenang atau bersantai di pasir yang indah, naik taksi ke selatan atau timur. Beach club di Seminyak, Potato Head dan Ku De Ta, bisa dijangkau dengan berjalan kaki: tempat untuk menghabiskan seharian, dengan kolam renang, DJ, koktail, dan kasur pantai yang disewakan per jam, mahal untuk standar Bali tetapi murah dibandingkan Ibiza atau Mykonos.
2. Turun ke Padang Padang, Semenanjung Bukit
Berkendara 30 menit ke selatan dari kawasan Kuta-Seminyak dan pemandangannya berubah total: kawasan datar penuh beton berganti dengan dataran tinggi kapur Semenanjung Bukit, dengan tebing-tebing yang menjulang di atas pantai pasir putih bak kartu pos. Kekurangannya: hampir setiap pantai hanya bisa dicapai lewat tangga panjang dan curam yang dipahat di tebing, dan lokasinya tersebar di seluruh semenanjung, jadi kamu perlu skuter atau sopir. Patokan saya di Bukit: makin sulit akses ke sebuah pantai, makin bersih dan tenang pantainya.
Kalau kamu pernah menonton Eat, Pray, Love, kamu sudah melihat Padang Padang, pantai kecil fotogenik yang terjepit di antara tebing, dengan pintu masuk berupa gua sempit. Semua orang sudah menonton film itu: pada jam ramai, saya harus berbagi hamparan pasir yang sangat kecil dengan terlalu banyak orang.

Padang Padang Left adalah ombak khusus peselancar ahli (warga setempat menyebutnya « Pipeline Bali » karena ombak tabungnya yang dalam dan kuat di atas terumbu tajam), sedangkan Baby Padang, di sisi kanan, menjadi tempat sekolah selancar. Bahkan Baby Padang hanya bisa dipakai berenang saat air pasang karena terumbunya dangkal: cek tabel pasang surut sebelum ke sana.
3. Makan nasi goreng sambil menonton peselancar, Bingin
Bingin punya pesona yang tidak dimiliki pantai lain di Bukit. Sisi tebingnya dipenuhi penginapan kecil dan warung (rumah makan lokal) yang dibangun langsung di atas batu, dan pantai di bawahnya terasa seperti bagian dari pulau yang jauh lebih kecil dan tidak terlalu ramai wisatawan.

Selancar di sini cocok untuk tingkat menengah ke atas (dasar terumbu, arus cukup kuat), bagus kalau kamu terbiasa berselancar di atas terumbu, dan bagi kebanyakan orang ini bukan pantai untuk berenang. Saya menghabiskan sore di sini dengan makan nasi goreng sambil menonton peselancar dari teras warung, dan untuk pengalaman seperti itu, Bingin sulit ditandingi.

Saya memasak nasi goreng dan mie goreng di rumah. Resep nasi goreng saya dan resep mie goreng saya ada di situs ini, bersama koleksi masakan Indonesia saya lainnya.
4. Minum Bintang saat matahari terbenam, Balangan
Balangan, hamparan pasir putih panjang berbentuk bulan sabit dengan deretan warung di atas tebing, bagi saya adalah salah satu spot matahari terbenam terbaik di kawasan Uluwatu, tidak seramai Padang Padang atau Dreamland. Saya minum Bintang dingin di sini sambil menghadap matahari terbenam: kalau tidak membawa papan selancar, daya tariknya adalah pemandangan dan suasana yang relatif tenang.
Ombaknya cepat di atas terumbu dangkal, dan siapa pun yang kemampuannya di bawah tingkat menengah hanya boleh berselancar saat air pasang. Untuk peselancar tingkat menengah, pilihan lainnya adalah Medewi, di pesisir utara: ombak yang lebih lembut di atas batu-batu kali, dengan lintasan selancar panjang tanpa keramaian.
Pantai Dreamland, yang lebih mudah diakses daripada pantai-pantai tetangganya (tangga lebih pendek, area parkir yang layak), menarik lebih banyak orang. Pasir putih, air jernih, tetapi Dreamland jadi korban kemudahan aksesnya sendiri: datang pagi-pagi atau menjelang sore supaya masih ada ruang untukmu.
5. Berenang di air biru toska Melasti
Melasti mungkin pantai terindah di Bali saat ini: jalan masuknya membelah dinding batu kapur yang menjulang tinggi, dan pantainya berupa hamparan pasir putih bersih yang luas dengan air biru toska jernih. Kalau pantai lain di Bali membuatmu kecewa, datanglah ke sini.

Pantai ini lebih mudah diakses daripada kebanyakan pantai di Bukit. Kamu bisa mencapainya dengan mobil, seperti yang saya lakukan, dengan area parkir tertata, beberapa fasilitas, dan air yang cukup tenang untuk berenang. Kekurangannya: kabar dari mulut ke mulut sudah menyebar, dan tempat ini bukan lagi rahasia seperti 5 tahun lalu.
Pandawa adalah pantai di Bukit untuk kamu yang ingin pasir putih tanpa harus berpetualang menuruni tangga tebing: fasilitas tertata, area parkir, patung-patung pahatan di sepanjang jalan masuk. Pantai ini ditata untuk pengunjung harian (kursi berjemur sewaan, kios makanan): menurut saya suasananya kurang berkesan dibandingkan bagian lain semenanjung ini, tetapi praktis.
6. Menjauh dari keramaian di Nyang Nyang dan Green Bowl
Nyang Nyang, hamparan pasir putih yang sangat luas, hingga belum lama ini hanya bisa dicapai dengan menuruni tebing yang sangat curam. Jalan yang dibangun untuk mempermudah akses pasti akan mendatangkan lebih banyak orang: datanglah sekarang, terutama pada hari kerja, dan kamu mungkin masih bisa menikmati ratusan meter pantai nyaris sendirian. Di sini saya merasakan sisi liar dan alami yang hampir tidak lagi ditemukan di Bali selatan.
Di Green Bowl, ratusan anak tangga mengarah turun ke pantai kecil dengan gua-gua untuk berteduh. Banyaknya anak tangga membuat kebanyakan orang mengurungkan niat: saya datang pagi-pagi dan pantainya nyaris hanya untuk saya sendiri. Gua-guanya sangat membantu saat matahari tengah hari terlalu terik. Bawa air minum: tidak ada yang bisa dibeli di bawah.
7. Menonton peselancar Uluwatu dari Single Fin
Ujung barat daya Bukit adalah wilayah Uluwatu. Puranya yang terkenal berdiri di atas tebing setinggi 70 meter di atas Samudra Hindia, monyet-monyet berkeliaran mencari kacamata hitam untuk dicuri, dan di bawahnya, beberapa ombak terkuat di Indonesia menghantam karang.
Pantai Suluban (Blue Point) terletak di bawah bar dan kafe yang bertengger di tebing-tebing ini. Saya turun lewat jalur sempit di antara formasi batu kapur, lalu melewati gua pasang surut yang hanya bisa dilalui saat air surut: pantainya kecil dan berbatu, dengan titik selancar utama yang hanya cocok untuk peselancar ahli.

Saya ingat ucapan peselancar lokal untuk pemula yang masuk ke air di Uluwatu: “kamu benar-benar bisa mati”. Karang dangkal setajam silet, arus kuat, akses masuk lewat gua, harus mendayung jauh, sikap teritorial peselancar lokal: ombak Uluwatu, Padang Padang Left, dan Impossibles kuat dan tidak main-main. Kalau kamu masih harus bertanya apakah kamu siap untuk tempat-tempat ini, berarti belum.
Saya menonton para peselancar sambil memegang segelas minuman dari Single Fin, bar paling terkenal di atas tebing: kalau kamu bukan peselancar berpengalaman, di sinilah tempatmu. Di tebing-tebing ini, beach club Sundays dan Ulu Cliffhouse menawarkan pemandangan laut dari ketinggian sebagai ganti kemudahan yang ada di Seminyak.

Tepat di utara Padang Padang, Pantai Thomas lebih luas dan lebih sepi daripada tetangganya yang terkenal: pasir putih, bisa berenang saat air pasang, warung-warung di atas untuk makan dan minum. Inilah pilihan saya untuk “pantai cantik di sekitar Uluwatu tanpa keramaian”, yang dilewatkan kebanyakan orang karena namanya kurang menarik perhatian.
8. Makan malam ikan bakar di Jimbaran
Secara geografis berada di sisi timur leher semenanjung, Jimbaran adalah pilihan tak terduga untuk keluarga: teluk dengan ombak lembut, pasir yang lumayan, dan terutama deretan restoran hidangan laut di pantai. Saya makan ikan bakar di sini dengan kaki menyentuh pasir saat matahari terbenam.

Pariwisata di sini lebih bergaya “wisata Indonesia yang terorganisasi”, jauh dari “hiruk-pikuk backpacker”. Keluarga dengan anak kecil yang merasa pantai-pantai bertebing di Bukit sulit diakses sering kali justru paling betah di sini.
9. Berenang dengan tenang di Sanur
Pesisir timur Bali, yang menghadap Lombok di seberang selat, sebagian besar terlindung dari ombak besar oleh terumbu karang di lepas pantai: airnya tenang, sering kali datar, lebih cocok untuk snorkeling dan kayak daripada berselancar. Keramaian wisatawan berkurang drastis ke arah timur dan utara.
Kalau kamu bepergian dengan anak berusia di bawah 10 tahun, tempatkan Sanur di urutan teratas daftarmu. Terumbu karang tak jauh dari pantai membuat perairannya seperti danau dangkal: anak-anak bisa berjalan sejauh 50 meter dan airnya masih sebatas pinggang. Untuk snorkeling, terumbu karangnya memang ada, tetapi jarak pandangnya lebih terbatas dan karangnya kurang indah.
Jalur pejalan kaki berlapis paving di tepi laut, yang dipenuhi kafe dan restoran lokal, bisa dilalui dengan kereta bayi tanpa harus bersusah payah melewati pasir. Pasirnya abu-abu keemasan, di antara putihnya Bukit dan abu-abu gelapnya Kuta, dengan suasana yang benar-benar tenang: pengunjung berusia lebih tua, keluarga, dan siapa pun yang lelah dengan Seminyak datang ke sini. Saya melihat matahari terbit di atas air di sini, sebagai pengganti matahari terbenam di pesisir barat.

10. Menuju Virgin Beach, dekat Candidasa
Virgin Beach (Pasir Putih), sekitar 2 jam ke arah timur dari kawasan wisata di selatan, dekat Candidasa, adalah rekomendasi saya kalau pesisir barat membuatmu merasa tertipu. Di sini saya menemukan pasir putih, air jernih, warung lokal yang menyajikan ikan segar, dan sangat sedikit wisatawan asing. Perjalanannya menjadi bagian dari pengalaman (jalan berkelok melewati sawah dan desa tradisional), dan lokasinya yang relatif terpencil menjauhkan keramaian: kalau kamu menyewa sopir seharian untuk mencari pantai yang benar-benar indah tanpa promosi berlebihan, inilah tempatnya.
Di dekat kota pelabuhan Padang Bai, berjalan kaki sebentar menyusuri jalur berbatu akan membawamu ke Bias Tugel (Secret Beach), teluk kecil tersembunyi berpasir putih. Perjalanan kaki ini menyaring sekitar 90 % calon pengunjung, menyisakan pantai kecil yang cantik, dengan snorkeling yang lumayan dan arus yang perlu diwaspadai di bagian luarnya. Pantai ini layak disinggahi kalau kamu melewati Padang Bai untuk naik kapal menuju kepulauan Nusa.
11. Snorkeling langsung dari pantai di Amed
Berjarak 3 jam dari bandara, di pesisir timur laut di kaki Gunung Agung, Amed menurut saya menawarkan snorkeling langsung dari pantai terbaik di pulau ini, tak tertandingi. Pantai berpasir vulkanik hitam dan berkerikilnya kurang cantik, tetapi airnya datar, sebening kristal, dan penuh karang: di Teluk Jemeluk, Pantai Lipah, dan Bangkai Kapal Jepang, kamu masuk ke air dan sudah berada di atas karang dalam jarak kurang dari 10 meter.
Teluk Jemeluk, tempat paling populer, memiliki struktur pura bawah laut dan taman karang yang indah, yang bisa dipadati rombongan wisatawan sejak pertengahan pagi. Saya berenang di atas Bangkai Kapal Jepang di Banyuning pada pukul 7:00, sebelum rombongan datang: bangkai kapalnya berada di perairan dangkal, bisa dijangkau dengan snorkeling tanpa peralatan selam apa pun.

Pantai Lipah adalah alternatif dengan dasar berpasir dan karang yang sangat indah tak jauh dari pantai. Pantai Selang dan Pantai Ibus, di ujung timur pesisir Amed, menawarkan terumbu karang yang masih terjaga, di tempat yang nyaris tidak dikunjungi wisatawan. Perjalanannya panjang, tetapi layak dimasukkan dalam rencana perjalanan yang lebih luas di Bali timur: kebanyakan orang menginap 2 atau 3 malam di sini, snorkeling pagi hari, tidak banyak kegiatan sore hari, dan memang itulah tujuannya.
12. Melihat lumba-lumba di Lovina dan menyelam di Menjangan
Pesisir utara, sekitar 3 atau 4 jam perjalanan darat dari bandara, luput dari perhatian sebagian besar wisatawan: pasir vulkanik hitam, air tenang, ritme kehidupan yang mengingatkan pada Bali 20 tahun lalu. Lovina, “kawasan wisata” utamanya (sebutan yang agak berlebihan), adalah bentangan pasir hitam yang tenang dengan beberapa penginapan dan pusat selam, serta perairan dangkal dan tenang yang terlindung oleh terumbu dekat pantai, aman untuk anak kecil.
Daya tarik utamanya: perjalanan melihat lumba-lumba pagi-pagi sekali. Saya menyewa perahu beserta pengemudi lokal dengan harga murah dan berangkat sebelum matahari terbit untuk melihat kawanan lumba-lumba paruh panjang. Perahunya berupa jukung sederhana, lumba-lumbanya hidup liar dan terkadang tidak muncul (jauh berbeda dari SeaWorld), dan pukul 08:00 sudah kembali ke pantai. Dalam perjalanan pulang, beberapa pengemudi perahu berhenti di atas terumbu untuk snorkeling.
Lebih tenang lagi daripada Lovina, Pemuteran adalah desa kecil dengan beberapa resor selam. Saya snorkeling dari pantai di sana, tepat di atas proyek Bio-Rock Pemuteran, proyek pemulihan karang dengan penanaman karang pada struktur buatan untuk membangun kembali terumbu. Desa ini menjadi titik keberangkatan utama menuju Pulau Menjangan, di Taman Nasional Bali Barat.
Kalau snorkeling atau menyelam lebih penting bagimu daripada kegiatan lainnya, jadikan Menjangan prioritasmu: menurut saya, karangnya paling indah dan airnya paling jernih di seluruh Bali, di sebuah pulau yang dilindungi taman nasional dari pembangunan dan kerusakan. Di bawah air, saya menemukan dinding terumbu vertikal, kipas laut raksasa, dan keragaman ikan yang membuat lokasi-lokasi di pesisir selatan terasa seperti akuarium kelas bawah. Semuanya tenang dan sepi, jauh dari tur snorkeling yang sangat turistik di Kepulauan Nusa. Menginaplah di Pemuteran dan naik perahu ke pulau itu pada pagi hari.

Peringkat snorkeling versi saya: Pulau Menjangan di urutan teratas, lalu pesisir Amed, kemudian Nusa Lembongan, dan Crystal Bay di Nusa Penida tertinggal jauh di posisi 4; pesisir barat dan selatan hampir tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Kursus selam dan tur snorkeling berpemandu bisa kamu temukan di aktivitas air pilihan saya di Bali.
13. Melihat Kelingking saat fajar, Nusa Penida
3 pulau Nusa terletak di lepas pesisir tenggara Bali, terlihat dari Sanur saat cuaca cerah, dan kapal cepat membawamu ke Nusa Lembongan atau Nusa Penida dalam sekitar 30 menit. Masing-masing punya karakter sendiri: menyamaratakan semuanya, seperti yang dilakukan kebanyakan operator tur, adalah kesalahan.
Nusa Penida adalah yang terbesar, baik dari segi ukuran maupun ketenaran di Instagram. Pantai Kelingking, dengan tebing berbentuk T-Rex yang menjulang di atas air biru toska, mungkin merupakan tempat yang paling sering difoto di seluruh Bali: menurut saya pemandangan dari atasnya benar-benar luar biasa, tetapi akses dan pengelolaan keramaiannya jauh dari itu.
Jalanan di Nusa Penida sangat buruk dan berbahaya: tidak beraspal, penuh lubang, berdebu, dengan jurang curam dan tanpa pagar pengaman. Sebagian besar peserta tur sehari tiba dalam keadaan lelah setelah naik kapal, terguncang-guncang selama 4 jam di minibus dari satu titik pandang ke titik lainnya, tempat 50 orang lain mengambil foto yang sama, lalu pulang dengan kesan perjalanan yang terburu-buru dan melelahkan. Kesimpulan saya tentang tur sehari: jangan lakukan itu.
Menginaplah setidaknya 1 atau 2 malam di pulau ini: semua peserta tur sehari datang sekitar pukul 10:00 dan pulang pukul 16:00. Saya menginap di sana agar bisa berada di Kelingking saat matahari terbit, ketika kamu mungkin hanya berbagi titik pandang dengan 4 orang, bukan 400. Jalur turun ke pantai curam, terbuka tanpa perlindungan, dan berbahaya (sudah ada yang meninggal di sana), tetapi saat matahari terbenam, mungkin hanya ada segelintir orang di pasirnya.

Di sisi timur, Pantai Diamond dan Pantai Atuh menawarkan pemandangan mengesankan yang dibingkai tebing, tetapi berenang di sana sulit dan berbahaya karena ombak dan arus. Angel’s Billabong dan Broken Beach adalah perhentian klasik lainnya dalam tur sehari, dan menurut saya keduanya mengecewakan dibandingkan Kelingking.
Yang menurut saya membuat Penida layak ditinggali lebih lama adalah perjalanan snorkeling bersama pari manta di laut lepas, di tempat mereka mendatangi stasiun pembersihan: kamu harus mahir dan percaya diri berenang, karena airnya dalam dan arusnya bisa kuat. Sewalah sopir pribadi daripada ikut tur rombongan: lebih mahal, tetapi kamu bisa mengatur waktumu sendiri, dan itulah yang paling penting di pulau ini (pilihan transportasi ada di tips praktis saya untuk Bali).
14. Menjadikan Nusa Lembongan sebagai basis perjalanan
Kalau Nusa Penida adalah pulau saudara yang dramatis dan sulit dijelajahi, Lembongan adalah yang santai: jalanan bisa dilalui, suasananya rileks tanpa terasa mati. Pulau ini cukup kecil untuk dijelajahi dalam 1 hari dengan skuter, dan itulah yang saya lakukan.
Di lepas pantai Lembongan, saya menemukan kondisi snorkeling dan jarak pandang yang lebih baik daripada di Crystal Bay, Penida, yang lebih terkenal. Untuk snorkeling dengan perahu yang paling mudah dan kondisinya paling konsisten tanpa perjalanan jauh, berangkatlah dari Nusa Lembongan.

Strategi yang saya sarankan: jadikan Lembongan sebagai basis, dengan penginapan nyaman dan malam yang tenang, lalu naik perahu selama 15 menit untuk mengunjungi titik-titik pandang di Penida yang menarik bagimu. Saat matahari terbenam, saya menikmati minuman di The Deck, bar yang saya rekomendasikan karena pemandangannya ke arah selat.
15. Menyeberangi Jembatan Kuning menuju Nusa Ceningan
Terhubung dengan Lembongan oleh Jembatan Kuning, jembatan gantung sempit dan agak mengkhawatirkan yang dilalui skuter dan pejalan kaki, Ceningan adalah yang terkecil dan paling tenang dari 3 pulau Nusa. Saya menemukan tempat snorkeling yang bagus di perairan sekitarnya, aktivitas lompat tebing di Blue Lagoon menarik beberapa pengunjung, dan sisanya berupa kebun rumput laut serta jalanan sepi. Kalau Lembongan terasa terlalu ramai bagimu (kecil kemungkinannya, tetapi siapa tahu), Ceningan adalah pelarian dari tempat pelarian.
Kapan sebaiknya berkunjung?
Musim kemarau berlangsung dari April hingga Oktober, dengan Juni hingga September sebagai bulan-bulan puncaknya: pantai-pantai pesisir barat berada dalam kondisi terbaik saat itu (air lebih bersih, lebih sedikit sampah, ombak selancar konsisten). Musim hujan (November hingga Maret) membawa hujan, arus lebih kuat, dan sampah plastik ke pesisir barat: saat itu, utamakan pesisir timur dan Semenanjung Bukit yang lebih sedikit terdampak.
Sepatu karang wajib dipakai di pantai kawasan Bukit atau saat snorkeling dari pantai di Amed: karangnya cukup tajam untuk menyayat menembus sandal jepit. Bawa dari rumah, sepatu yang dijual di toko-toko wisata Kuta mudah rusak.
Tabir surya lebih penting daripada yang kamu kira: di dekat khatulistiwa, indeks UV sering melampaui 10, dan kulitmu akan cepat terbakar bahkan saat mendung. Pilih yang berbahan dasar seng, lebih baik untuk terumbu dan kulitmu, oleskan sebelum meninggalkan hotel, ulangi setiap selesai berenang, dan kenakan baju lycra jika snorkeling atau berselancar lebih dari 1 jam.
Tabel pasang surut penting di kawasan Bukit: Padang Padang, Balangan, dan pantai-pantai selatan lainnya berubah dari tempat yang bisa dipakai berenang menjadi hamparan terumbu terbuka saat surut. Periksa pasang surut sebelum menuruni 200 anak tangga menuju pantai yang ternyata tidak bisa kamu nikmati.
Uang tunai masih menjadi andalan di sebagian besar warung pantai: bar di atas tebing dan beach club menerima kartu, sedangkan rumah makan kecil lokal di tepi pantai sering kali tidak. Siapkan uang rupiah pecahan kecil.
Lalu lintasnya macet, terutama di jalur Kuta-Seminyak-Canggu: perjalanan dari Seminyak ke Uluwatu yang seharusnya memakan waktu 30 menit bisa menjadi 90 menit pada jam sibuk. Siapkan waktu cadangan jika ingin mengunjungi beberapa pantai dalam sehari, atau lebih baik lagi, menginaplah dekat pesisir pilihanmu: Seminyak dan Canggu untuk kehidupan malam dan restoran, Uluwatu untuk pasir putih dan selancar, Sanur untuk keluarga, Amed untuk snorkeling, Nusa Lembongan untuk kehidupan pulau (panduan saya tentang tempat menginap di Bali membahas setiap kawasan secara terperinci).
Panduan Bali saya lainnya
Untuk membandingkan dengan destinasi pantai lain di Asia Tenggara, panduan saya tentang pantai-pantai terindah di Phuket juga menjelajahi pesisir demi pesisir pulau terbesar di Thailand. Untuk suasana budaya yang benar-benar berbeda, lihat aktivitas perkotaan di Bangkok atau aktivitas pilihan saya di Hanoi, termasuk Kawasan Kota Tua dan Teluk Ha Long. Untuk segala hal lain selama perjalanan, kembali ke panduan lengkap saya untuk berwisata ke Bali.