{"id":190735,"title":"Kari Sayur","modified":"2026-10-09T12:27:34+02:00","plain":"Kurma sayur khas India Selatan, dimasak perlahan dalam kuah kelapa, kacang mete, dan adas.\n\n\n\nSuatu malam di hari kerja, masih tersisa sebatang wortel, sepotong kembang kol, dua buah kentang, dan segenggam buncis. Di dalam wajan, kayu manis, kapulaga, dan cengkih berdesis dalam minyak, lalu bawang bombai perlahan berubah keemasan.\n\n\n\n Pasta kelapa dan mete masuk paling akhir dan mengubah air rebusan menjadi kuah berwarna pucat yang selembut beledu, hanya sedikit manis, dengan sentuhan pedas dari cabai hijau. Sayurannya tetap utuh dan empuk. Satu cuilan puri pertama dicelupkan ke dalamnya, dan urusan makan malam pun beres.\n\n\n\nMasih kembang kol dan kentang, dalam versi kering: aloo gobi\n\n\n\nApa Itu Kari Sayur?\n\n\n\nKari sayur ini adalah kurma dari India Selatan: wortel, kembang kol, kacang polong, kentang, dan buncis direbus dalam air, lalu dikentalkan dengan pasta halus dari kelapa, kacang mete, biji popi, ketumbar, dan adas. \n\n\n\nKuahnya lembut, kental seperti krim, dan sedikit manis, tanpa krim, tanpa yogurt, dan tanpa mentega. Dalam masakan India, kari ini jelas berbeda dari kari India Utara yang berbahan dasar tomat dan bawang bombai: di sini tomat hanya berperan kecil dan kelapalah yang menjadi bintang hidangan. Kari ini disajikan dengan puri atau chapati.\n\n\n\nKurma adalah bentuk India Selatan dari korma, nama untuk hidangan yang dimasak perlahan dalam kuah kaya rasa, warisan kuliner Mughal. Kata kari adalah istilah sapu jagat yang dipopulerkan oleh orang Inggris; di India, setiap hidangan berkuah tetap punya nama dan campuran rempahnya sendiri.\n\n\n\nUntuk hidangan lengkap, tambahkan dal lentil merah\n\n\n\nDari Dapur Mughal ke Perbukitan Nilgiri\n\n\n\nKorma lahir pada abad ke-16 di dapur kekaisaran Akbar, tempat daging dimasak perlahan dalam ghee bersama yogurt, krim, atau pasta almond dan mete, yang diharumkan dengan kapulaga, cengkih, dan kayu manis. Sebuah kisah yang sering diceritakan mengaitkan namanya dengan para juru masak Rajput di istana. \n\n\n\nSeiring waktu, hidangan daging ini berkembang menjadi versi vegetarian yang tetap memakai prinsip yang sama: sayuran dimasak perlahan dalam kuah kental.\n\n\n\nSepupunya ala Mughal, dengan ayam dan yogurt: ayam korma\n\n\n\nIndia Selatan mengganti produk susu dengan kelapa segar yang diblender bersama kacang mete dan cabai hijau. Di sana, adas mengambil peran yang di utara dipegang oleh jintan. \n\n\n\nDi Kerala, kurma sering dimasak dengan minyak kelapa dan santan. Di perbukitan Nilgiri, Tamil Nadu, dapur-dapur klub dari zaman Inggris menciptakan kurma hijau dengan daun mint dan daun ketumbar, untuk memanfaatkan sayuran Inggris yang ditanam di sana.\n\n\n\nDi selatan, kurma sayur menjadi teman parotta yang berlapis-lapis, idiyappam (bihun beras kukus), atau appam. Di utara, orang lebih sering membuat sabzi dari campuran sayuran yang lebih kering, dengan dasar bawang bombai dan tomat yang ditumis lama. Di sini, kurma ini disajikan dengan puri atau chapati, dan paratha yang berlapis-lapis juga cocok.\n\n\n\nBahan Utama Kari Sayur\n\n\n\n\n\n\n\nSayuran dalam versi ini, yaitu wortel, kembang kol, kacang polong, kentang, dan buncis, mudah ditemukan di mana saja di Prancis. Kurma tradisional terkadang ditambah polong kelor atau labu kundur, yang jarang ada di sini: ganti dengan buncis yang sedikit lebih banyak, atau dengan zukini yang dimasukkan pada 10&nbsp;menit terakhir. Biarkan potongannya tetap utuh, jangan dihancurkan.\n\n\n\nPasta inilah yang membentuk kuahnya. Gunakan kelapa segar yang diparut, atau kelapa parut beku dari toko bahan makanan Asia; kelapa parut kering kemasan juga bisa dipakai setelah direndam 10 menit dalam air hangat, meskipun teksturnya sedikit berbeda. \n\n\n\nKacang mete memberi tekstur lembut, sedangkan biji popi (khus khus) mengentalkan kuah: biji popi abu-abu atau biru yang dijual di Prancis sangat cocok digunakan. Jahe, bawang putih, cabai hijau, biji ketumbar, adas, dan segenggam daun ketumbar segar melengkapi campurannya.\n\n\n\nSemangkuk raita mentimun yang dingin di sampingnya, dan semuanya sempurna\n\n\n\nDasar aromatiknya cukup dari empat rempah utuh yang dipanaskan dalam minyak: daun laurel, kayu manis, kapulaga hijau, dan cengkih. Setelah itu bawang bombai ditumis hingga keemasan, lalu satu buah tomat saja dimasak hingga hancur di wajan, cukup untuk memberi sedikit rasa asam. Hidangan ini dimasak dengan minyak, tanpa ghee: sepenuhnya nabati.\n\n\n\nKiat Teknis Membuat Kari Sayur yang Enak\n\n\n\nSayuran direbus terlebih dahulu selama 10&nbsp;menit dalam keadaan tertutup dan baru bertemu pasta setelah hampir matang, sehingga tetap utuh. Pasta masala kemudian ditumis bersama sayuran selama 2&nbsp;menit, lalu air untuk kuah mengencerkannya. Pada akhirnya, kuah harus berwarna terang, kuning pucat hingga kehijauan, dan cukup kental untuk melapisi sendok. Jika warnanya berubah menjadi merah, berarti tomatnya terlalu banyak.\n\n\n\n\n\n\tKari Sayur\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tUntuk pasta masala80 g kelapa (parut)8 butir kacang mete1 ruas jahe (2,5 cm)1 siung bawang putih2 cabai (hijau)2 sendok makan biji popi1 sendok teh biji ketumbar0.5 sendok teh biji adas1 genggam daun ketumbar (segar)60 ml airUntuk kari4 sendok teh minyak1 lembar daun laurel1 batang kayu manis (2,5 cm)2 butir kapulaga (hijau)3 butir cengkih1 bawang bombai (cincang halus)1 tomat (cincang halus)0.5 wortel (potong dadu)10 kuntum kembang kol3 sendok makan kacang polong1 kentang (potong dadu)5 buncis (potong-potong)1 sendok teh garam500 ml air (untuk merebus sayuran)375 ml air (untuk kuah)\t\n\t\n\t\tUntuk pasta masalaMasukkan kelapa ke dalam blender.Tambahkan kacang mete, jahe, bawang putih, cabai, biji popi, biji ketumbar, biji adas, dan daun ketumbar segar.Tuangkan air.Haluskan hingga menjadi pasta yang lembut.Untuk kariPanaskan minyak dalam wajan besar.Tambahkan daun laurel, kayu manis, kapulaga, dan cengkih, lalu tumis.Tambahkan bawang bombai dan tumis hingga berubah warna.Tambahkan tomat dan masak hingga hancur.Tambahkan wortel, kembang kol, kacang polong, kentang, buncis, dan garam.Tumis selama 2 menit.Tuangkan air untuk merebus sayuran, lalu aduk.Tutup dan biarkan mendidih selama 10 menit, hingga sayuran hampir matang.Tambahkan pasta masala dan tumis selama 2 menit.Tuangkan air untuk kuah, lalu aduk.Tutup dan masak selama 10 menit, hingga sayuran empuk.Sajikan dengan puri atau chapati.\t\n\t\n\t\tIni adalah veg kurma dari India Selatan. Ciri khasnya adalah pasta kelapa dan kacang mete yang dihaluskan bersama biji adas, biji popi, dan biji ketumbar, yang menghasilkan kuah yang rasanya lembut, kental seperti krim, dan sedikit manis. Kuah ini jelas berbeda dari kari India Utara yang berbahan dasar tomat dan bawang bombai: di sini tomat tidak menonjol dan kelapalah yang menjadi bintang hidangan ini.\nSayuran dalam versi ini (wortel, kembang kol, kacang polong, kentang, buncis) mudah ditemukan di mana saja di Prancis. Kurma tradisional terkadang juga menggunakan polong kelor (drumsticks) atau labu lilin (ash gourd), yang jarang ditemukan di Prancis: ganti saja dengan buncis yang sedikit lebih banyak, atau dengan zukini yang dimasukkan pada 10 menit terakhir. Biarkan potongannya tetap utuh, jangan dihancurkan.\nUntuk kelapanya, gunakan kelapa segar yang diparut (dari kelapa utuh, atau kelapa parut beku dari toko bahan makanan Asia). Kelapa parut kering kemasan juga bisa dipakai jika Anda merendamnya dulu selama 10 menit dalam air hangat, hanya saja teksturnya akan sedikit berbeda. Biji popi (khus khus) berfungsi mengentalkan kuah; biji popi abu-abu atau biru yang dijual di Prancis pun sudah sangat memadai.\n\t\n\t\n\t\tPlat principalIndienne","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190735","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=190735"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190735\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/190454"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=190735"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=190735"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=190735"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}