{"id":181359,"title":"Perkedel kembang kol renyah dengan keju (keto)","modified":"2026-10-03T06:41:42+02:00","plain":"Perkedel kembang kol keto yang tipis dan renyah: sekuntum kembang kol dipipihkan di atas lapisan bundar pecorino berbumbu, lalu dipanggang tanpa tepung maupun telur.\n\n\n\nDi dalam oven, pecorino berdesis, berubah keemasan, dan mengharumkan dapur. Perkedel keluar dengan tepian bergerigi, hampir menyerupai biskuit tuile, sementara bagian tengahnya masih memperlihatkan bentuk kuntum kembang kol. Setiap kuntum dipipihkan di atas lapisan bundar pecorino berbumbu, lalu ditutupi keju yang mudah meleleh. Pemanggangan dilakukan dalam dua tahap, 20&nbsp;menit lalu 15 menit setelah dibalik, untuk menghasilkan kerenyahan yang mantap tanpa tepung maupun telur. Sebagai hidangan pembuka atau camilan, tiap buah mengandung 1&nbsp;g karbohidrat bersih. Masukkan ke dalam daftar hidangan keto saya.\n\n\n\nApa itu perkedel kembang kol keto?\n\n\n\nBentuknya tetap kecil dan rapi: sepuluh perkedel tipis yang dibuat dari kuntum kembang kol utuh. Rebus kuntum selama 15&nbsp;menit, dinginkan, lalu pipihkan dengan dasar gelas hingga ketebalannya sekitar 0,5&nbsp;cm. Tekan tanpa menghancurkannya sepenuhnya agar bentuk kuntum kecilnya tetap terjaga, sehingga perkedel tidak mudah hancur.\n\n\n\nBanyak perkedel dibuat dari kembang kol parut yang diikat dengan telur dan tepung, lalu digoreng di wajan hingga keemasan. Di sini, setiap kuntum dibiarkan utuh dan dipipihkan di atas dasar pecorino berbumbu. Kekokohannya bergantung pada dua hal: sayuran tetap terhubung oleh tangkai alaminya, sementara keju yang meleleh lalu dipanggang hingga kecokelatan membentuk kerak yang kokoh. Dua tahap pemanggangan mengeringkan permukaannya dan menambah kerenyahannya.\n\n\n\nUntuk variasi: Paprika panggang oven.\n\n\n\nBahan-bahan utama\n\n\n\nKembang kol, sebanyak 325&nbsp;g setelah matang, menjadi bahan dasar sayurannya. Pisahkan menjadi sepuluh kuntum lalu rebus atau kukus selama 15&nbsp;menit hingga cukup empuk untuk dipipihkan, tetapi masih mempertahankan bentuknya. Pecorino parut sebanyak 75&nbsp;g memberikan rasa asin, kerak keemasan, dan kerenyahan: gunakan sekitar 50&nbsp;g untuk membentuk sepuluh lapisan bundar yang seragam di atas loyang, lalu taburkan sisanya di atas kembang kol. Pecorino yang diparut langsung dari bongkahan sesaat sebelum digunakan akan lebih mudah meleleh dan berubah keemasan; parmesan dapat menggantikannya dengan hasil serupa.\n\n\n\nKeju muda yang mudah meleleh, sebanyak 50&nbsp;g, memberikan tekstur lentur: gouda yang belum lama dimatangkan akan meleleh tanpa mendominasi rasa dan membantu menyatukan permukaan. Bumbu melengkapi semuanya, yaitu paprika bubuk, bawang bombai bubuk, dan serpihan cabai, untuk memberi warna, kedalaman aroma, dan rasa pedas.\n\n\n\nCoba juga: Nasi brokoli dengan jamur shiitake dan minyak wijen.\n\n\n\nPemanggangan, kerenyahan, dan penyajian\n\n\n\nDi atas kertas panggang, bentuk pecorino menjadi lapisan-lapisan bundar yang seragam, karena dasar ini akan menjadi kerak setiap perkedel. Pemanggangan dilakukan dalam dua tahap pada suhu 200&nbsp;\u00b0C: pertama selama 20&nbsp;menit, keju akan meleleh, melebar, dan mulai berubah keemasan; keluarkan perkedel, ganti kertasnya, balik perkedel, lalu panggang lagi selama 15&nbsp;menit. Mengganti kertas mencegah perkedel terpanggang di atas sisa cairan dan lemak. Saat dikeluarkan, tepinya harus berwarna keemasan, terkadang berlubang-lubang kecil, tanpa kelembapan di permukaan, lalu dinginkan di atas rak kawat agar mengeras sempurna.\n\n\n\nKembang kol yang kurang ditiriskan akan membuat bagian tengah lembek, perkedel yang terlalu tebal akan kecokelatan sebelum kering, lupa membaliknya membuat bagian dasar tidak renyah, dan memanggang hingga menghitam akan membuat keju terasa pahit. Tanpa tepung maupun telur, setiap perkedel mengandung 1&nbsp;g karbohidrat bersih. Sajikan sebagai camilan atau kudapan sekali suap setelah agak dingin, bersama cr\u00e8me fra\u00eeche dengan daun chives, salad kubis Jepang atau jamur ungkep kecap asin praktis. Pilih pecorino yang diparut sendiri, karena beberapa keju parut siap pakai mengandung pati. Sisanya dapat disimpan selama 48&nbsp;jam di lemari es dan dipanaskan kembali dalam oven pada suhu 200&nbsp;\u00b0C, bukan dalam microwave yang akan melembekkan keraknya. Untuk hidangan serupa, lihat zukini air fryer dan terung air fryer.\n\n\n\nCoba juga: Kebab ayam di wajan.\n\n\n\nTemukan seluruh resep keto saya.\n\n\n\n\n\n\tPerkedel kembang kol keju (keto)\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t325 g kembang kol (direbus atau dikukus)75 g keju Pecorino50 g keju (muda dan mudah meleleh)1 sendok teh paprika bubuk1 sendok teh bawang bombai bubuk1 sendok teh cabai kering serpih1 sendok teh minyak alpukat, minyak zaitun berasa ringan, atau minyak bunga matahari tinggi asam oleat\t\n\t\n\t\tPisahkan 10 kuntum dari \"batang utama\". Rebus kuntum kembang kol selama 15 menit. Kemudian biarkan dingin.Panaskan oven hingga 200 derajat. Siapkan loyang yang dialasi kertas panggang.Parut keju. Pisahkan Pecorino dari keju muda yang mudah meleleh. Campurkan Pecorino dengan bumbu.Ambil sekitar 50 gram (=2\/3) Pecorino dan bentuk menjadi 10 lingkaran berukuran sama di atas loyang.Letakkan satu kuntum kembang kol di atas setiap tumpukan kecil atau lingkaran keju. Tekan kuntum dengan dasar gelas hingga ketebalannya sekitar setengah sentimeter. Jangan hancurkan sepenuhnya; sisakan sedikit strukturnya agar semuanya tetap menyatu.Taburi kuntum yang sudah dipipihkan dengan sisa Pecorino. Kemudian tambahkan juga keju muda.Panggang dalam oven selama 20 menit.Kemudian keluarkan dari oven. Ganti kertas panggang. Letakkan kembali perkedel sambil dibalik, lalu panggang lagi selama seperempat jam.Biarkan dingin di atas rak pendingin.\t\n\t\n\t\tPecorino dapat diganti dengan parmesan. Apa pun pilihannya, parut sendiri keju batangan sesaat sebelum digunakan!\nPeralatan: oven bersuhu 200 derajat, gelas berdasar datar, parutan (empat sisi).\n\t\n\t\n\t\tAccompagnementFran\u00e7aise","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181359","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=181359"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181359\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/178746"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=181359"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=181359"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=181359"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}