{"id":170448,"title":"Cheese Naan yang Lebih Enak dari Restoran","modified":"2026-09-13T17:25:34+02:00","plain":"Roti naan empuk berisikan lelehan mozzarella dan sedikit sentuhan cabai, dimasak di atas wajan lalu dipanggang langsung di atas api terbuka untuk mendapatkan bercak keemasan yang khas nan menggoda\n\n\n\nKuning keemasan dan mengembang sempurna, cheese naan dapat menyajikan isian gurih yang lumer meleleh atau isian hangat dari paneer berbumbu rempah, tergantung pada tradisi kulinernya. Istilah \"cheese naan\" sebenarnya tidak hanya merujuk pada satu hidangan saja, melainkan dua versi dengan latar belakang sejarah yang berbeda.\n\n\n\nSalah satunya adalah roti isi paneer yang berasal dari Punjab. Satunya lagi, yang lahir di Paris, menonjolkan lelehan keju yang sangat lumer. Keduanya sama-sama istimewa untuk dijelajahi. Tak heran jika hidangan ini selalu menjadi salah satu menu favorit yang paling sering dipesan di restoran India.\n\n\n\nDiciptakan di Barat, serupa dengan kreasi butter chicken\n\n\n\nApa Itu Cheese Naan?\n\n\n\nKata naan berasal dari bahasa Persia n\u0101n, istilah umum untuk menyebut roti di wilayah penutur bahasa Persia. Di Asia Selatan, istilah ini merujuk pada roti pipih beragi yang dipanggang dengan cara menempelkannya pada dinding oven tanah liat (tandoor). Adonannya umumnya menggunakan tepung terigu halus (maida), yang terkadang dicampur dengan tepung gandum utuh (atta). Adonan diuleni dengan air dan sering ditambahkan yogurt tawar (dahi) agar teksturnya lebih lembut serta memberikan sentuhan rasa asam segar.\n\n\n\nSajikan aloo gobi yang lezat bersama cheese naan\n\n\n\nTerkadang susu, ghee, atau minyak juga ditambahkan ke dalamnya. Proses fermentasi dilakukan menggunakan ragi atau, dalam berbagai resep modern bergaya kulcha, menggunakan baking powder dan baking soda yang bereaksi aktif dengan yogurt. Kombinasi ini membuat adonan tetap lentur dan elastis. Saat dimasak pada suhu tinggi, adonan akan mengembang, membentuk bercak kecokelatan di beberapa titik, serta menghasilkan rongga-rongga roti yang empuk layaknya roti pipih lainnya.\n\n\n\nSaat ini, sebutan \"cheese naan\" umumnya merujuk pada dua tradisi besar. Dalam kuliner tradisional daerah, masyarakat setempat membuat paneer naan atau Amritsari Paneer Kulcha: isian keju paneer padat beraroma harum dan tidak meleleh dibungkus rapat di dalam adonan sebelum dimasak. Isian ini biasanya dibumbui dengan jintan, ketumbar, jahe, cabai hijau, serta sentuhan asam khas dari amchur (bubuk mangga kering) atau chaat masala.\n\n\n\nJangan tertukar dengan chapati\n\n\n\nSementara itu, versi yang lahir di Paris mengandalkan keju oles leleh, terutama La Vache qui rit, untuk menghasilkan isian yang lembut krimi dan lumer saat ditarik. Seiring berjalannya waktu, adaptasi restoran dan komunitas diaspora mulai memadukan mozzarella dan cheddar demi mendapatkan efek lelehan keju yang kian memikat. Pada kedua versi tersebut, kuncinya terletak pada suhu panas yang sangat tinggi.\n\n\n\nDalam ragam roti keju, cobalah juga khachapuri khas Georgia\n\n\n\nSuhu tandoor dapat mencapai sekitar 480&nbsp;\u00b0C. Di dapur rumah tangga, wajan besi tawa biasanya dipanaskan hingga sangat panas lalu dibalik langsung di atas api terbuka. Hasilnya adalah permukaan roti yang renyah berbercak kecokelatan, tekstur dalam yang empuk lembut, serta isian yang gurih aromatik (jika menggunakan paneer) atau lumer meleleh (jika menggunakan keju olahan). Glosarium singkat: kalonji adalah biji jintan hitam (Nigella sativa); ajwain adalah biji karom.\n\n\n\nCoba juga resep Palak Paneer saya\n\n\n\nAsal-usul Cheese Naan\n\n\n\nTradisi pembuatan roti pipih di Asia Selatan telah berlangsung ribuan tahun. Peranti masak yang menyerupai tawa bahkan telah ditemukan di situs peradaban Lembah Indus (Harappa). Berbagai catatan sejarah tertulis membuktikan evolusi panjang aneka jenis roti pipih hingga lahirnya kreasi roti dengan aneka isian.\n\n\n\nRoti beragi yang dikenal sebagai naan berakar dari tradisi Persia (n\u0101n) yang dipadukan dengan teknik memanggang menggunakan tandoor. Sekitar tahun 1300, sastrawan Amir Khusrau di Delhi mencatat keberadaan n\u0101n-e-tanuk, yaitu roti tipis nan ringan, serta n\u0101n-e-tanuri yang dipanggang di dinding tandoor.\n\n\n\nDi kalangan istana Mughal, naan menjadi simbol kemewahan kuliner kerajaan: hidangan ini tersaji dalam perjamuan bangsawan, termasuk sebagai menu sarapan istimewa yang disantap bersama kebab atau keema. Adonannya yang terbuat dari tepung terigu, air, garam, dan ragi kerap diperkaya dengan ghee, susu, yogurt, bahkan sesekali telur. Pembuatannya pun dipercayakan kepada juru roti khusus yang bergelar naanbai.\n\n\n\nTradisi kuliner istana juga melahirkan beragam hidangan berisian gurih, termasuk samosa. Di wilayah Punjab, kerabat dekat naan yaitu kulcha bertransformasi menjadi hidangan populer yang tak tergantikan di kedai jalanan dan dhaba.\n\n\n\nResep naan klasik\n\n\n\nDalam versi modern, adonan sering memanfaatkan baking powder dan soda kue demi mempersingkat waktu fermentasi. Dari tradisi inilah cikal bakal roti isi keju bermula: paneer naan atau Amritsari Paneer Kulcha, di mana keju paneer padat berbumbu rempah memberikan tekstur gigitan yang mantap dan gurih, berbeda dari sensasi lelehan keju cair.\n\n\n\nVersi naan dengan keju leleh justru lahir di Paris pada akhir 1960-an, tepatnya saat pembukaan restoran Annapurna pada tahun 1967. Kreasi inovatif ini kerap dikaitkan dengan Andr\u00e9 Risser dan gagasannya untuk memasukkan keju oles La Vache qui rit ke dalam lipatan adonan, meski beberapa sumber menyebut keluarga Gupta sebagai perintis aslinya.\n\n\n\nKini, cheese naan versi leleh telah menjadi hidangan ikonik global. Popularitasnya yang masif di kancah internasional bahkan mendorong hadirnya sajian serupa di berbagai restoran di India yang menyasar wisatawan, bersanding serasi dengan hidangan klasik seperti ayam tikka masala.\n\n\n\nDari masa ke masa dan melintasi benua, roti beragi nan gurih ini tetap menempati posisi istimewa dalam tradisi bersantap bersama, baik dinikmati sebagai pendamping kuah kari yang kaya rempah maupun sekadar diolesi mentega selagi hangat.\n\n\n\nBahan Utama Cheese Naan\n\n\n\n\n\n\n\nKeju oles lembut (secara historis terutama La Vache qui rit; di India modern, keju olahan seperti Amul juga kerap digunakan): meleleh sempurna dan menghasilkan isian yang lembut krimi. Secara pribadi, saya sangat menyukai mozzarella.\n\n\n\nCampuran mozzarella dan cheddar: jamak digunakan dalam kreasi modern di restoran untuk menghasilkan lelehan keju yang lebih mulur, elastis, dan gurih.\n\n\n\nAdonan yang diperkaya (dengan tambahan susu, mentega, atau yogurt): menghasilkan tekstur roti yang lembut, lentur, dan empuk tahan lama.\n\n\n\nMentega bawang putih, atau bahkan minyak truffle pada variasi modern di Paris: memberikan sentuhan akhir yang wangi, gurih, dan menggugah selera.\n\n\n\n\n\n\tCheese Naan Lebih Enak dari Restoran\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tUntuk adonan250 g tepung terigu serbaguna (maida)120 g yogurt tawar (plain yogurt)1 sdt gula pasir0.5 sdt baking powder0.25 sdt soda kuegaram (secukupnya)1 sdt minyak sayur60 ml air hangatUntuk isian115 g keju mozzarella (potong dadu kecil)1 sdt cabai hijau (cincang halus)1\/4 sdt serpihan cabai merah kering (chili flakes)2 sdm daun ketumbar (cincang halus)1\/4 sdt chaat masalagaram (secukupnya)lada hitam bubuk (secukupnya)Bahan lainnya1 sdt biji wijen hitam2 sdm daun ketumbar (cincang halus)6 sdm mentega (lelehkan atau lunakkan untuk olesan)tepung terigu (secukupnya, untuk taburan saat menggilas)2 jumput garamair (secukupnya)\t\n\t\n\t\tMenyiapkan isianCampurkan keju mozzarella, cabai hijau, serpihan cabai merah kering, daun ketumbar, chaat masala, garam, dan lada hitam bubuk ke dalam mangkuk.Aduk rata, lalu bagi adonan isian menjadi 6 bagian yang sama besar. Sisihkan.Membuat adonanLarutkan 2 jumput garam ke dalam sedikit air di mangkuk kecil, lalu sisihkan sebagai larutan air garam.Campurkan tepung terigu, yogurt, gula pasir, baking powder, soda kue, garam, dan minyak sayur ke dalam mangkuk besar.Tuangkan air hangat sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga terbentuk adonan yang lembut dan kalis. Tutup mangkuk dengan kain lembap, lalu diamkan selama 1 jam di tempat yang hangat.Bagi adonan yang sudah diistirahatkan menjadi 6 bagian yang sama besar.Membentuk dan memasakTaburi permukaan kerja dengan sedikit tepung, lalu gilas satu bagian adonan menjadi lingkaran berdiameter sekitar 7,5 cm. Taruh satu porsi isian di tengahnya, satukan tepian adonan ke tengah dan rapatkan hingga tertutup sempurna. Pipihkan kembali secara perlahan.Taburi permukaannya dengan biji wijen hitam dan daun ketumbar, lalu gilas kembali secara perlahan (beri sedikit taburan tepung jika perlu) hingga membentuk oval atau persegi panjang berukuran sekitar 17,5 cm.Panaskan wajan di atas api besar. Setelah wajan benar-benar panas, percikkan sedikit air garam (jangan dilap). Olesi salah satu sisi naan dengan sedikit air biasa, lalu letakkan sisi yang basah menghadap ke bawah di atas wajan.Panggang hingga muncul gelembung-gelembung di permukaannya, lalu balik wajan tepat di atas api kompor langsung dan panggang sambil diputar-putar hingga muncul bercak kecokelatan khas naan.Angkat naan dari wajan dan segera olesi permukaannya dengan sekitar 1 sendok teh mentega. Ulangi proses yang sama untuk sisa adonan, lalu sajikan selagi hangat.\t\n\t\n\t\tUntuk isian, Anda dapat mengganti atau menyesuaikan takaran cabai hijau dengan serpihan cabai merah kering sesuai tingkat kepedasan yang diinginkan.\nMenguleni adonan menggunakan air hangat membantu menghasilkan tekstur naan yang lebih empuk, lembut, dan mengembang sempurna.\n\t\n\t\n\t\tForret, tilbeh\u00f8rIndisk","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/170448","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=170448"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/170448\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/116565"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=170448"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=170448"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=170448"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}