{"id":159050,"title":"Serangga yang Bisa Dimakan di Thailand: Mana yang Patut Dicoba?","modified":"2026-10-05T01:16:12+02:00","plain":"Serangga yang bisa dimakan di Thailand dan cocok dicoba pertama kali adalah belalang, jangkrik mini, dan ulat sutra, camilan ringan yang mudah dinikmati untuk pemula. Jangkrik, ulat bambu, kalajengking, ulat sagu, dan kepik air raksasa butuh lebih banyak keberanian, dan inilah kesan saya pada gigitan pertama masing-masing.\n\n\n\nKalajengking saya: lezat, tapi agak renyah di mulut.\n\n\n\nMakan serangga pada malam hari adalah bagian dari pengalaman berwisata di Thailand, baik di Bangla Road di Phuket maupun di Khao San Road di Bangkok. Serangga terutama merupakan camilan yang sangat populer dalam kuliner Thailand, ringan dan ternyata menyehatkan. Setelah mengatasi rasa enggan yang muncul secara naluriah untuk memasukkan hewan-hewan kecil ke mulut, saya mendapati beberapa di antaranya benar-benar lezat.\n\n\n\n\nSerangga apa yang sebaiknya dicoba pertama kali?\n\nSerangga apa yang butuh lebih banyak keberanian?\n\nMana yang paling sulit dimakan?\n\nDi mana bisa menemukan serangga yang bisa dimakan di Thailand?\n\nPanduan Thailand saya lainnya\n\n\n\n\nSeranggaNama ThailandRasaTeksturCocok untukBelalangtakatanasin, rasa akhir teh hijaurenyahpemulaJangkrik minijing reed khairingan, jeruk purutbagian dalam lembutpemulaUlat sutranhon mhaijeruk, rasa akhir pahitbagian dalam agak lengketpemula yang penasaranJangkrikjing reedberlemak, pahit seperti sabunbagian dalam lembutyang sudah terbiasaUlat bamburod duanasin lalu seperti kejukulit renyahyang sudah terbiasaKalajengkingmang pawngsusu basi, capit kepitingempuk di balik cangkangpemberaniUlat sagutua duangbaconsangat berdagingpemberaniKepik air raksasamang da naenak, aroma permen karetberdagingpemberani\n\n\n\nSerangga apa yang sebaiknya dicoba pertama kali?\n\n\n\nBelalang (takatan) termasuk yang paling umum karena paling tidak berlendir. Digoreng dengan kecap asin, rasanya didominasi asin, dengan rasa pahit di akhir yang mengingatkan saya pada teh hijau. Nikmati seperti keripik atau kacang asin: ternyata cukup mengenyangkan bagi saya, meski perlu sedikit waktu untuk terbiasa.\n\n\n\nBelalang goreng dari pasar di Patong, yang saya sarankan untuk dicoba pertama kali.\n\n\n\nJangkrik mini (jing reed khai) berada di antara belalang dan jangkrik berukuran biasa: bagian dalamnya lembut seperti jangkrik besar, rasanya lebih ringan seperti belalang, dengan aroma daun jeruk purut yang sering digoreng bersamanya, sama seperti yang dipakai dalam sup tom yum kung saya. Rasanya yang lembut cocok sebagai langkah awal untuk mencoba makan serangga.\n\n\n\nJangkrik mini, pilihan untuk pemula yang saya sarankan.\n\n\n\nUlat sutra (nhon mhai) adalah camilan yang disukai di Thailand, meski pemula sering mengiranya belatung, dan mengetahui bahwa ulat ini menghasilkan syal sutra Thailand yang mewah tidak membuatnya tampak lebih menggugah selera. Digoreng dengan daun jeruk purut, rasanya sangat bernuansa jeruk, lalu pahit di akhir, dan bagian dalamnya agak lengket.\n\n\n\nUlat sutra goreng dengan jeruk purut: rasa jeruk di awal, lalu pahit.\n\n\n\nSerangga apa yang butuh lebih banyak keberanian?\n\n\n\nJangkrik (jing reed) mirip belalang, tapi rasanya sangat berbeda. Gigitan pertama membuat saya sedikit kaget dengan sensasi yang tidak menyenangkan: isi perutnya yang lebih berlemak cepat sekali memenuhi mulut, dan bagian dalamnya yang lembut meninggalkan rasa pahit agak seperti sabun. Menggugah selera, bukan?\n\n\n\nJangkrik, lebih berlemak daripada belalang, dengan rasa pahit seperti sabun.\n\n\n\nUlat bambu (rod duan) termasuk serangga yang paling populer di kalangan orang Thailand, tetapi jauh kurang populer di kalangan wisatawan. Seperti ulat sutra yang ukurannya lebih kecil, ulat bambu memiliki kulit renyah dan bagian dalam yang lembut, tapi rasanya sedikit berbeda: mula-mula asin, lalu ada rasa seperti keju.\n\n\n\nUlat bambu, asin lalu terasa seperti keju.\n\n\n\nKalajengking (mang pawng) sering kali berukuran sekali gigit, meski beberapa lapak menjual yang besar dengan tusukan. Yang saya makan empuk di balik cangkangnya yang renyah, dengan sedikit rasa pahit dan rasa susu basi yang agak tidak enak, tapi bagian capitnya mengingatkan saya pada kepiting. Tidak ada risiko keracunan bisa.\n\n\n\nKalajengking, berukuran sekali gigit atau yang besar dengan tusukan.\n\n\n\nMana yang paling sulit dimakan?\n\n\n\nUlat sagu (tua duang) adalah larva besar kumbang penggerek palem Asia, dan termasuk serangga yang paling sulit dimakan di Thailand. Setelah mengatasi rasa enggan karena tampilannya yang kurang menarik, saya menemukan tekstur yang sangat berdaging dengan rasa bacon. Biasanya ulat ini digoreng, tapi kamu bisa mencicipinya mentah kalau ingin menerima tantangan.\n\n\n\nUlat sagu: tampilannya bikin enggan, rasa baconnya mengejutkan.\n\n\n\nKepik air raksasa (mang da na) adalah serangga yang bisa dimakan paling besar di Phuket, sekaligus termasuk yang paling sulit dimakan. Kepalanya harus dicabut untuk mengambil daging yang tersembunyi di balik cangkang keras. Saya memberanikan diri, dan rasanya ternyata cukup enak: teksturnya berdaging dengan aroma yang ternyata sangat mirip permen karet.\n\n\n\nKepik air raksasa, serangga paling besar di lapak.\n\n\n\nDi mana bisa menemukan serangga yang bisa dimakan di Thailand?\n\n\n\nDi Phuket, saya menemukannya di banyak pasar malam dan lapak yang tersebar di pulau ini, termasuk pasar di Patong, serta di warung pinggir jalan di pusat kehidupan malam, terutama Bangla Road. Ulat bambu ada di hampir semua lapak dan gerobak makanan di pulau ini, termasuk di Kota Tua Phuket. Kalajengking lebih jarang ditemui di Phuket, tapi bisa ditemukan kalau kamu mencari dengan teliti. Di Bangkok, tempatnya adalah Khao San Road. Mencicipi serangga adalah salah satu aktivitas favorit saya di Phuket.\n\n\n\nPanduan saya lainnya tentang Thailand\n\n\n\nUntuk jajanan kaki lima lainnya, rekomendasi tempat saya ada di tempat makan di Phuket dan tempat makan di Bangkok. Setelah mencicipi serangga, saya kembali ke hidangan klasik yang saya masak di rumah, seperti pad thai atau som tam. Semua makanan lain yang saya santap di Thailand saya rangkum dalam panduan kuliner Thailand saya.","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159050","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=159050"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159050\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8008"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=159050"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=159050"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=159050"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}