{"id":159035,"title":"Apa Itu Bunga Lawang (Anis Bintang)?","modified":"2026-07-18T15:29:57+02:00","plain":"Bunga lawang adalah polong buah dari tanaman Illicium verum, semak yang berasal dari Tiongkok barat daya. \n\n\n\nPolong bunga lawang, yang berbentuk seperti bintang sesuai namanya, rata-rata memiliki delapan ujung, masing-masing berisi satu biji seukuran kacang polong. Biji dan polongnya digunakan dalam masakan dan memiliki rasa anis yang manis dan kuat. Bunga lawang dijual dalam bentuk utuh maupun bubuk.\n\n\n\nApa itu bunga lawang?\n\n\n\nBunga lawang digunakan dalam berbagai aplikasi kuliner karena rasanya yang khas, tetapi juga dimanfaatkan karena khasiat pengobatannya. Tanaman ini dibudidayakan di Tiongkok, Indocina, dan Jepang, dan kadang disebut adas bintang Tiongkok. Bunga lawang merupakan bahan pokok dalam masakan Tiongkok. \n\n\n\nIni adalah salah satu komponen utama dalam bubuk lima rempah Tiongkok dan juga digunakan untuk membuat teh serta membumbui bebek panggang dan aneka daging lainnya. Dalam masakan Vietnam, bunga lawang merupakan bagian penting dari sup yang terkenal, pho. \n\n\n\nBubuk lima rempah digunakan dalam resep bebek Peking buatan sendiri saya\n\n\n\nDalam budaya Barat, bunga lawang lebih sering digunakan untuk memberi rasa pada likur, seperti absinthe, sambuca, dan pastis, serta pada produk panggang seperti biskuit dan kue.\n\n\n\nPolong bunga lawang dipanen sebelum matang, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, sehingga berwarna cokelat tua atau kecokelatan berkarat. Cita rasa khasnya berasal dari anetol, minyak yang sama yang terdapat pada biji anis dan memberi keduanya rasa akar manis.\n\n\n\nBunga lawang vs biji anis\n\n\n\nBunga lawang dan biji anis sering tertukar karena rasa dan namanya yang mirip. Namun, kedua tanaman ini tidak berasal dari keluarga yang sama: bunga lawang termasuk keluarga magnolia, sedangkan biji anis berasal dari keluarga peterseli. \n\n\n\nBijinya juga berbeda tampilannya; biji bunga lawang lebih besar dan berwarna cokelat kemerahan tua, sedangkan biji anis lebih kecil dan lebih mirip biji adas.\n\n\n\nPenting juga untuk tidak menyamakan bunga lawang dengan bunga lawang Jepang, Illicium anistatum, yang sangat beracun dan tidak boleh dikonsumsi. Tanaman ini sering dibakar sebagai dupa.\n\n\n\nAsal-usul\n\n\n\nBunga lawang berasal dari Tiongkok selatan dan telah digunakan sebagai obat serta rempah selama lebih dari 3.000 tahun. Pada akhir 1500-an, bunga lawang masuk ke Eropa melalui seorang pelaut Inggris dan tak lama kemudian diperdagangkan di sepanjang jalur teh dari Tiongkok ke Rusia. \n\n\n\nKarena rasanya yang manis, bunga lawang pada awalnya terutama digunakan dalam selai, sirup, dan puding, lalu kemudian digantikan oleh biji anis dalam minuman komersial.\n\n\n\nUtuh atau bubuk\n\n\n\n\n\n\n\nBunga lawang utuh dan bubuk digunakan dengan cara yang berbeda dalam masakan. Polong utuh ditambahkan ke hidangan yang dimasak lama, sup, dan semur untuk meresapkan rasa, lalu dikeluarkan pada akhir proses memasak. Bubuk bunga lawang digunakan seperti rempah bubuk lainnya. \n\n\n\nBubuk bunga lawang mulai kehilangan rasanya tidak lama setelah digiling. Karena itu, yang terbaik adalah membeli bunga lawang utuh dan menggilingnya saat diperlukan. Polong dan bijinya dapat digiling bersama.\n\n\n\nSeperti apa rasa bunga lawang?\n\n\n\nBunga lawang memiliki rasa yang sangat kuat dan khas: hangat, manis, dan pedas, mirip akar manis, biji adas, cengkeh, dan tentu saja biji anis. \n\n\n\nResep ceker ayam Kanton saya yang lezat ini menggunakan bunga lawang\n\n\n\nMeskipun rasa bunga lawang umumnya dianggap manis, bahan ini lazim digunakan dalam hidangan gurih. Bunga lawang cocok dipadukan dengan jeruk, bawang bombai, unggas, daging sapi, kayu manis, pala, dan jahe, dan sebaiknya digunakan dalam jumlah kecil.\n\n\n\nMemasak dengan bunga lawang\n\n\n\nTeknik memasaknya bergantung pada apakah Anda menggunakan polong utuh atau bubuk bunga lawang. Polong utuh dapat direbus perlahan dalam saus, marinasi, dan sup, lalu dikeluarkan sebelum disajikan. Polong tidak melunak selama dimasak sehingga tidak bisa dimakan. \n\n\n\nPolongnya memiliki rasa yang sangat kuat, dan jika ditambahkan terlalu awal ke dalam resep, rasanya bisa menutupi bahan-bahan lainnya.\n\n\n\nBunga lawang digunakan untuk membuat kecap manis buatan sendiri\n\n\n\nApa pengganti bunga lawang?\n\n\n\nUntuk menggantikan bunga lawang dalam resep, Anda bisa menggunakan biji anis biasa atau bubuk lima rempah Tiongkok. Untuk setiap bunga lawang utuh yang diminta dalam resep, gunakan 3\/4 sendok teh biji anis yang dihaluskan atau 1\/2 sendok teh bubuk lima rempah Tiongkok. \n\n\n\nBiji adas juga bisa digunakan, tetapi rasanya tidak akan sekuat aroma akar manisnya. \n\n\n\nDi mana membeli bunga lawang?\n\n\n\nBunga lawang dapat dibeli dalam bentuk utuh atau bubuk; toko bahan makanan khusus Asia atau India biasanya menjadi pilihan terbaik. Bubuk bunga lawang dapat ditemukan di sebagian besar toko bahan makanan, baik di lorong rempah maupun di bagian bahan Asia.\n\n\n\nJika Anda membeli bunga lawang utuh, pastikan polongnya tidak pecah. Baik yang utuh maupun bubuk, bunga lawang harus memiliki aroma yang sangat harum.\n\n\n\nPenyimpanan\n\n\n\nSimpan rempah utuh atau bubuk dalam wadah kedap udara, jauh dari kelembapan, panas, dan sinar matahari. \n\n\n\nBunga lawang utuh akan tetap segar dan harum selama sekitar satu tahun, sedangkan versi bubuknya akan mulai kehilangan rasa setelah sekitar enam bulan. Menyangrai rempah bubuk sebelum digunakan terkadang dapat memperkuat rasanya.","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159035","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=159035"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159035\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3111"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=159035"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=159035"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=159035"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}