{"id":158975,"title":"Tempat Makan di Bali: Warung, Street Food, dan Restoran Terbaik","modified":"2026-07-18T15:29:56+02:00","plain":"Bali punya kancah kuliner yang jauh lebih luas daripada smoothie bowl di feed Instagram Anda. Mulai dari babi guling yang dipanggang di atas tempurung kelapa sejak fajar, sepiring nasi campur yang disusun dengan cara menunjuk langsung di warung keluarga, hingga seafood bakar di tepi pantai di Jimbaran, pulau ini menawarkan pengalaman kuliner untuk semua anggaran. Sepiring Nasi Campur seharga 25 000 IDR (sekitar 1,50 EUR) bisa sama berkesannya dengan menu degustasi seharga 500 000 IDR (30 EUR) di restoran fine dining di tengah sawah.\n\n\n\nSeperti yang kami jelaskan dalam panduan lengkap kami untuk berkunjung ke Bali, pilihan area tempat Anda menginap akan sangat memengaruhi apa yang Anda makan. Ubud adalah pusat masakan tradisional Bali sekaligus kafe-kafe sehat. Canggu telah menjadi ibu kota brunch dan makanan nabati. Seminyak menghadirkan fine dining terbaik di seluruh pulau. Dan pasar-pasar makanan yang tersebar di Kabupaten Gianyar menyajikan jenis hidangan yang hampir tak pernah ditemukan kebanyakan turis. Panduan ini membahas tiap area, hidangan yang wajib dicoba, dan restoran yang benar-benar layak didatangi.\n\n\n\nHidangan Bali yang wajib dicoba\n\n\n\nBabi Guling (babi susu)\n\n\n\nBabi Guling adalah hidangan andalan masakan Bali. Seekor babi utuh diisi dengan pasta kunyit, ketumbar, serai, dan cabai, lalu dipanggang perlahan di atas api kayu selama berjam-jam sampai kulitnya menjadi renyah sempurna. Hidangan ini disajikan di atas nasi dengan lawar (campuran sayuran dan daging cincang berbumbu), sosis darah, dan sambal matah yang sangat pedas. Satu porsi biasanya berharga antara 35 000 dan 50 000 IDR (2 hingga 3 EUR).\n\n\n\nAturan yang sering diabaikan turis&nbsp;: makanlah Babi Guling saat makan siang, idealnya antara pukul 11 dan 12. Babi dipanggang pada pagi hari, dan warung terbaik biasanya sudah habis pada awal sore. Tempat yang menyajikan Babi Guling saat makan malam hampir pasti menawarkan sisa yang dipanaskan ulang dan sudah kering. Jika kulitnya tidak berderak saat Anda menggigitnya, berarti Anda datang terlambat.\n\n\n\nSekarang, peringatan soal jebakan turis. Ibu Oka di Ubud sudah bertahun-tahun mengandalkan ketenarannya sejak dikunjungi Anthony Bourdain. Harga naik, porsi mengecil, dan kualitasnya tidak konsisten. Hal yang sama berlaku untuk Pak Malen di Seminyak. Keduanya masih menarik antrean panjang turis, tetapi warga lokal dan ekspatriat lama sudah beralih ke tempat lain.\n\n\n\nKe mana mereka pergi sekarang&nbsp;: Babi Guling Pande Egi dekat Gianyar adalah acuan saat ini, tersembunyi di tengah sawah tanpa tambahan harga ala turis sama sekali. Di Ubud, Warung Babi Guling Gung Cung mengungguli Ibu Oka dengan harga yang jauh lebih murah. Untuk Canggu, Warung Babi Guling Swari dan Warung Men Lari di Pererenan adalah pilihan warga lokal. Lebih ke selatan, dekat Jimbaran, Babi Guling Karya Rebo juga sangat bagus. Dan jika Anda ingin pengalaman yang benar-benar lokal, Warung Babi Guling Selingsing Cepaka buka sampai larut malam hingga dini hari dan hampir tidak pernah didatangi turis asing.\n\n\n\n\n\n\n\nBebek Betutu dan Ayam Betutu\n\n\n\nBebek Betutu adalah hidangan seremonial khas Bali: seekor bebek utuh dibungkus daun pisang, dilumuri pasta bumbu pekat yang disebut base genep, lalu dimasak perlahan selama 12 hingga 24 jam sampai dagingnya lepas dari tulang. Secara tradisional, hidangan ini disajikan untuk upacara pura dan acara-acara khusus.\n\n\n\nVersi ayamnya, Ayam Betutu, lebih umum dan sama enaknya. Men Tempeh di Gilimanuk (ujung barat Bali, dekat pelabuhan feri ke Jawa) sangat terkenal untuk Ayam Betutu yang begitu pedas sampai nyaris menyakitkan. Lebih dekat ke area turis, Anda bisa menemukan versi yang enak di pasar malam Gianyar.\n\n\n\nNasi Campur (nasi campur)\n\n\n\nJika Babi Guling adalah rajanya, maka Nasi Campur adalah makanan sehari-hari. Seporsi nasi putih yang dikelilingi porsi kecil dari semua yang dimasak warung pagi itu&nbsp;: ayam suwir, tempe, tahu, sepotong ikan, sambal, kacang, kerupuk, kadang lawar atau sate lilit sebagai pelengkap. Versi Bali cenderung lebih pedas dan lebih kaya kunyit dibanding gaya Jawa yang ditemukan di tempat lain di Indonesia.\n\n\n\nCara termurah dan paling autentik untuk makan Nasi Campur adalah gaya \u201c&nbsp;tunjuk&nbsp;\u201d&nbsp;: Anda menghampiri etalase, menunjuk lauk yang Anda mau, lalu pelayan menumpuk semuanya di atas sepiring nasi. Siapkan antara 20 000 dan 40 000 IDR (1,20 hingga 2,50 EUR) tergantung protein yang ditambahkan. Jika sebuah warung mematok lebih dari 50 000 IDR untuk Nasi Campur dasar, kemungkinan besar Anda berada di tempat yang menyasar turis.\n\n\n\nSate Lilit\n\n\n\nIni adalah sate ala Bali, dan sama sekali tidak mirip dengan tusuk sate bersaus kacang yang ada di seluruh Asia Tenggara. Ikan cincang (biasanya makarel atau tuna) atau daging babi dicampur dengan kelapa, daun jeruk purut, dan serai, lalu dililitkan pada batang serai dan dipanggang.\n\n\n\nSate lilit paling pas sebagai lauk daripada hidangan utama, dan versi terbaik biasanya ditemukan di pasar malam serta sebagai pelengkap sepiring Nasi Campur. Baik versi ikan maupun babi, keduanya layak dicoba. Warung Liku dan Warung Ari di Denpasar adalah pilihan aman, dan Gourmet Sate House di kawasan Kuta-Legian menawarkan paket cicip bagi Anda yang ingin variasi.\n\n\n\nLawar dan hidangan lain yang perlu Anda kenal\n\n\n\nLawar adalah campuran cincang halus dari sayuran, kelapa, dan daging (kadang dengan darah babi mentah dalam versi tradisional) yang dibumbui rempah-rempah. Hidangan ini muncul sebagai pelengkap Babi Guling dan dalam Nasi Campur. Babi Genyol, sup babi pedas, memiliki profil rasa yang mirip dengan Babi Guling tetapi dimasak dengan cara yang sama sekali berbeda dan jarang muncul di jalur wisata. Warung Babi Genyol Arta Nadi adalah salah satu dari sedikit tempat untuk mencobanya.\n\n\n\nUntuk pencuci mulut, Martabak Manis (juga disebut Terang Bulan) adalah panekuk manis tebal yang dilipat, diisi cokelat, keju, kacang, atau campuran semuanya, dan dijual dari gerobak kaki lima pada malam hari.\n\n\n\nWarung terbaik per area\n\n\n\nWarung adalah fondasi makan sehari-hari di Bali. Tempat makan keluarga kecil ini menyajikan masakan rumahan Indonesia dengan harga lokal, mulai dari meja plastik di bawah atap seng bergelombang hingga restoran sungguhan dengan taman. Masakan dari warung yang bagus sering kali lebih unggul daripada restoran turis kelas menengah, dengan harga yang jauh lebih murah.\n\n\n\nCanggu\n\n\n\nWarung Bu Mi punya reputasi sebagai warung wajib bagi pengunjung. Pilihan Nasi Campur-nya luas, dapurnya bersih dan terlihat, dan perputaran pelanggan cukup tinggi sehingga semuanya tetap segar. Bersiaplah mengantre pada jam sibuk makan siang. Beberapa pelanggan tetap berpendapat bahwa Warung Varuna, yang lebih dekat ke pantai Batu Bolong, rasanya lebih enak dan bumbunya lebih kuat daripada Bu Mi. Keduanya adalah pilihan yang bagus untuk pengalaman warung pertama.\n\n\n\nWarung Sika layak didatangi dengan berjalan kaki sebentar&nbsp;: tempat ini masih menawarkan pemandangan sawah tepat di pusat Canggu (semakin langka seiring pembangunan kota menelan petak-petak lahan) dan harganya nyaris tak terasa. Warung Jawa Bu Sri menyajikan masakan Jawa (lebih manis, kurang pedas) dan menjadi kontras menarik terhadap cita rasa Bali yang mendominasi sebagian besar menu warung.\n\n\n\nUbud\n\n\n\nWarung Makan Bu Rus adalah nama yang paling sering disebut oleh mereka yang benar-benar meluangkan waktu di Ubud. Suasananya rindang, Nasi Campur-nya terkenal, dan bebek krispi-nya membuat orang rela menyeberangi kota. Sun Sun Warung lebih kecil, lebih rumahan, dan menyajikan masakan rumahan Bali yang harganya nyaris tak terasa. Warung Biah Biah mengambil pendekatan berbeda dengan porsi kecil bergaya tapas yang memungkinkan Anda mencicipi lima atau enam hidangan tanpa harus berkomitmen pada satu piring besar.\n\n\n\nTips praktis untuk Ubud&nbsp;: berjalanlah 10 hingga 15 menit menjauh dari Istana Kerajaan dan pasar. Warung menjadi lebih murah, tidak terlalu ramai, dan sering kali lebih enak begitu Anda keluar dari perimeter wisata utama. Lihat juga panduan kami untuk menginap di Ubud dan menikmati kulinernya.\n\n\n\nSeminyak\n\n\n\nMakanan lokal murah lebih sulit ditemukan di Seminyak dibandingkan tempat lain di area turis, tetapi tetap ada. Warung Murah (namanya secara harfiah berarti \u201c&nbsp;warung murah&nbsp;\u201d) adalah pilihan aman untuk Nasi Campur dengan harga lokal. Warung Nia dikenal karena iga babi dan satay-nya, dengan beberapa ekspatriat mengatakan bahwa tempat ini lebih sepadan dibanding Naughty Nuri's yang sedikit lebih terkenal dan tak jauh dari sana. Warung Kolega membuat Nasi Campur gaya Jawa yang memberi variasi menyenangkan.\n\n\n\nSanur\n\n\n\nWarung Mak Beng telah meraih reputasi yang sangat besar. Tidak ada menu. Anda duduk, lalu Anda dibawakan ikan goreng, sup kepala ikan, nasi, dan sambal yang oleh pelanggan setianya disebut luar biasa. Itu saja. Semuanya berharga sekitar 35 000 IDR (2 EUR). Warung Mak Beng sudah beroperasi seperti ini selama puluhan tahun dan formulanya tidak berubah.\n\n\n\nDi area yang sama, Warung Men Weti adalah institusi sarapan, tetapi Anda harus datang sebelum pukul 8 karena makanannya cepat habis. Warung Kecil sangat mungil tetapi bersih, dengan Nasi Campur yang menjembatani masakan warung dan penyajian yang sedikit lebih rapi.\n\n\n\n\n\n\n\nJajanan kaki lima dan pasar malam\n\n\n\nPasar malam Gianyar\n\n\n\nJika Anda hanya mengunjungi satu pasar di Bali, pilihlah Gianyar. Pasar ini berjarak sekitar 30 menit dari Ubud dengan skuter atau mobil, dan inilah tempat keluarga Bali benar-benar datang makan pada malam hari. Babi utuh panggang dipajang di kios Babi Guling. Sate lilit berdesis di atas arang. Ayam Betutu dibuka dari bungkus daun pisangnya. Pasar ini juga menjual kue dan jajanan pasar yang jarang sekali muncul di menu restoran.\n\n\n\nHarga sudah tetap (tidak ada tawar-menawar), dan semuanya dimasak segar di depan Anda. Suasananya lokal, bising, dan tanpa embel-embel sama sekali. Ini adalah kebalikan persis dari \u201c&nbsp;food tour&nbsp;\u201d yang tertata rapi, dan justru itulah alasan makanannya lebih enak.\n\n\n\nPasar Badung (Denpasar)\n\n\n\nPasar terbesar di Bali ini berfungsi sebagai pasar bahan segar pada siang hari (hasil bumi, rempah, bunga, daging) dan berubah menjadi pusat street food pada sore hingga malam hari. Ini bukan perkenalan yang lembut. Baunya kuat, lantainya basah, gang-gangnya sempit, dan semuanya benar-benar kacau.\n\n\n\nSeberangi jembatan untuk menuju Pasar Kumbasari dan bagian street food-nya yang lebih terpusat. Cari lumpia (gorengan isi dengan saus cabai hijau), es daluman (minuman dingin dengan jeli hijau, pas di sela-sela suapan pedas), dan Nasi Campur yang dibungkus kertas cokelat untuk dimakan sambil berdiri. Aturan universal berlaku di sini&nbsp;: cari kios dengan antrean lokal terpanjang lalu ikutlah bersama mereka.\n\n\n\nPasar malam Sanur (Pasar Sindhu)\n\n\n\nJika Gianyar terasa terlalu intens dan Pasar Badung terasa berlebihan, pasar malam Sanur adalah pengenalan yang baik. Tempat ini lebih bersih, lebih kecil, sedikit lebih mahal, dan terbiasa melayani pelanggan asing. Satay kambing di sini dapat diandalkan, dan kios martabak manis membuat versi panekuk manis isi yang enak. Pasar malam pertama yang bagus jika Anda masih beradaptasi dengan masakan lokal.\n\n\n\n\n\n\n\nKancah kuliner Ubud\n\n\n\nUbud berjalan di dua jalur paralel. Masakan tradisional Bali di warung (dibahas di atas), dan budaya kafe sehat berkelas internasional yang tumbuh di sekitar komunitas yoga dan wellness. Keduanya layak dicoba.\n\n\n\nKafe dan brunch\n\n\n\nSuka Espresso menyeduh kopi terbaik di Ubud dan menawarkan brunch bergaya Australia yang pantas bersaing di Melbourne. Watercress adalah alamat untuk full English breakfast sungguhan dengan telur, bacon, toast, dan kopi enak saat Anda butuh jeda dari makanan berbasis nasi.\n\n\n\nYellow Flower Cafe, tersembunyi di perbukitan Penestanan di atas pusat Ubud, adalah jenis tempat yang tidak akan pernah Anda temukan tanpa rekomendasi. Tanjakannya curam, tetapi pemandangannya sepadan, dan makanannya sederhana tetapi dikerjakan dengan baik. Pison menyaingi Suka Espresso untuk kopi terbaik di area ini dan menawarkan suasana yang lebih santai.\n\n\n\nFine dining dan masakan Indonesia modern\n\n\n\nHujan Locale mengambil resep-resep tradisional Indonesia dan memolesnya tanpa menghilangkan rasa yang membuatnya menarik. Ini adalah pengenalan terbaik ke masakan Indonesia modern di Ubud.\n\n\n\nPica South American Kitchen menyajikan steak dan ceviche pada level yang tidak terlalu ada kaitannya dengan Bali tetapi memang sangat enak. Pesan lebih dulu, terutama untuk makan malam. Moksa adalah restoran nabati yang bahkan bisa memikat para karnivora sejati. Masakannya kreatif tanpa terasa dibuat-buat, dan konsep \u201c&nbsp;farm to table&nbsp;\u201d di sini adalah komitmen nyata, bukan sekadar gimmick pemasaran.\n\n\n\n\n\n\n\nSeminyak dan Canggu&nbsp;: dua karakter kuliner\n\n\n\nSeminyak&nbsp;: fine dining dan malam romantis\n\n\n\nSeminyak adalah tempat terbaik untuk makan malam di pulau ini. Bambu adalah rekomendasi andalan untuk makan malam romantis&nbsp;: restorannya dibangun di atas platform terapung di atas air, pencahayaannya remang-remang, dan menu berinspirasi Indonesia-nya konsisten enak. Sardine berada di lokasi tak terduga di tengah pembangunan urban Seminyak, menghadap sawah aktif yang belum diratakan. Seafood di sini sepadan dengan harganya.\n\n\n\nLa Lucciola adalah Bali old-school&nbsp;: restoran Italia di tepi pantai, matahari terbenam yang panjang, dan jenis suasana santai yang telah banyak ditukar tempat-tempat baru di Seminyak dengan estetika Instagram.\n\n\n\nMerah Putih menyajikan masakan Indonesia modern dalam ruang arsitektur yang spektakuler. Mama San bermain di ranah fusion Asia yang lebih luas. Dan Naughty Nuri's, meskipun sama sekali bukan masakan tradisional Bali, telah menyajikan iga babi barbecue dan martini yang kuat sejak sebelum Seminyak menjadi tren. Tempat ini sudah jadi institusi. Apakah iga di sini yang terbaik di pulau ini&nbsp;? Masih bisa diperdebatkan (iga di Warung Nia mungkin lebih sepadan), tetapi suasananya membuat orang terus kembali.\n\n\n\nCanggu&nbsp;: ibu kota brunch dan markas vegan\n\n\n\nCanggu memiliki lebih banyak restoran vegan per kilometer persegi daripada tempat lain mana pun di Asia Tenggara, dan budaya brunch-nya menyaingi kota-kota Australia mana pun. The Shady Shack adalah klasik vegan awal&nbsp;: halloumi bowl, burger jackfruit, dan smoothie bowl dalam suasana rindang yang santai. Bahkan orang yang sama sekali tidak tertarik pada veganisme pun akhirnya makan di sini dan menikmatinya. I Am Vegan Babe mengambil pendekatan kebalikannya dari Moksa&nbsp;: junk food vegan tanpa malu-malu, burger, pancake dengan topping melimpah, burrito, dan kentang goreng.\n\n\n\nCrate Cafe adalah salah satu spot brunch pertama di Canggu dan masih menawarkan salah satu pilihan paling sepadan untuk makanan Barat, dengan porsi besar dan pelanggan setia. Antrean saat akhir pekan bisa panjang. Milk and Madu cocok untuk keluarga. Mason adalah pilihan yang lebih baik untuk makan malam daripada brunch, dengan menu malam yang lebih serius. Secret Spot mengkhususkan diri pada waffle dan dessert vegan.\n\n\n\nAturan umumnya&nbsp;: pergilah ke Seminyak untuk makan malam, Canggu untuk brunch, dan Ubud jika Anda menginginkan masakan Bali paling autentik di pulau ini.\n\n\n\nJimbaran&nbsp;: seafood di pantai\n\n\n\nTeluk Jimbaran adalah tempat di Bali untuk makan malam seafood dengan kaki di pasir. Konsepnya sederhana dan sama di belasan restoran yang berjajar di tepi pantai&nbsp;: Anda memilih ikan, udang, cumi, kepiting, atau lobster dari pajangan di atas es, semuanya ditimbang, dipanggang di atas tempurung kelapa, lalu Anda memakannya di meja di atas pasir sambil matahari terbenam.\n\n\n\nMakan malam seafood untuk dua orang dengan ikan bakar, udang, nasi, sayuran, dan beberapa minuman biasanya berkisar antara 400 000 dan 700 000 IDR (24 hingga 42 EUR), yang memang mahal menurut standar warung tetapi masih masuk akal mengingat jumlah makanan dan suasananya. Kualitas ikan secara umum bagus di semua restoran tepi pantai, jadi faktor pembeda utamanya tetap sambal dan kesegaran yang dipajang.\n\n\n\nDatanglah saat matahari terbenam. Tiba sekitar pukul 17.30 untuk mendapatkan meja yang bagus tanpa reservasi. Sekitar pukul 18.30, pantai mulai penuh dan beberapa restoran mulai menolak tamu. Pengalamannya lebih baik pada hari kerja saat tidak terlalu ramai. Beberapa restoran terbesar (misalnya Menega) bisa terasa seperti pabrik turis pada musim ramai, tetapi tempat-tempat yang lebih kecil di selatan teluk lebih tenang dan menawarkan layanan yang lebih baik.\n\n\n\n\n\n\n\nKursus memasak\n\n\n\nSalah satu cara terbaik untuk memahami masakan Bali adalah menghabiskan satu pagi untuk menyiapkannya sendiri. Kursus memasak adalah salah satu aktivitas paling populer di Bali, terutama di wilayah Ubud di mana banyak kelas dimulai dengan kunjungan ke pasar lokal untuk membeli bahan.\n\n\n\nAnda biasanya akan belajar menyiapkan base genep (pasta bumbu dasar), beberapa hidangan seperti sate lilit dan lawar, serta satu pencuci mulut. Kelas berlangsung 4 hingga 5 jam, termasuk kunjungan pasar dan makan lengkap dari semua yang telah disiapkan, dan biayanya antara 300 000 dan 500 000 IDR (18 hingga 30 EUR). Kami merinci pilihan terbaik dalam panduan kami tentang aktivitas dan hal-hal yang bisa dilakukan di Bali.\n\n\n\nMakan dengan anggaran kecil\n\n\n\nBali tetap menjadi salah satu tempat termurah di Asia Tenggara untuk makan enak, selama Anda makan di tempat warga lokal makan. Selisih harga antara makanan warung dan restoran turis sangat besar.\n\n\n\nDi warung biasa, sepiring Nasi Campur berharga antara 20 000 dan 40 000 IDR (1,20 hingga 2,50 EUR). Sepiring Babi Guling dengan nasi dan lauk berkisar antara 35 000 dan 50 000 IDR (2 hingga 3 EUR). Satu makan lengkap di Warung Mak Beng di Sanur berharga 35 000 IDR.\n\n\n\nSatu martabak manis dari gerobak kaki lima berharga antara 10 000 dan 25 000 IDR (0,60 hingga 1,50 EUR). Anda bisa makan tiga kali penuh per hari dengan kurang dari 100 000 IDR (6 EUR) jika tetap berpegang pada warung dan street food. Panduan anggaran dan tips praktis kami merinci biaya sehari-hari.\n\n\n\nBandingkan itu dengan brunch Barat di kafe Canggu (80 000 hingga 150 000 IDR \/ 5 hingga 9 EUR), makan di restoran turis kelas menengah (150 000 hingga 300 000 IDR \/ 9 hingga 18 EUR), atau makan malam gastronomi di Seminyak (500 000+ IDR \/ 30+ EUR). Masakan warung sering kali justru lebih enak.\n\n\n\nTips untuk makan murah&nbsp;: carilah warung beretalase (sistem \u201c&nbsp;tunjuk&nbsp;\u201d di mana Anda tinggal menunjuk lauk hampir selalu menjadi cara termurah untuk makan). Ikuti pengemudi GoJek ke spot makan siang mereka. Berjalanlah setidaknya 10 menit menjauh dari jalan wisata utama mana pun. Jadikan makan siang sebagai santapan utama Anda saat makanan paling segar dan paling murah. Dan waspadalah terhadap warung mana pun yang menu bahasa Inggrisnya lebih besar daripada menu bahasa Indonesianya.\n\n\n\nMakan per area\n\n\n\nTempat Anda menginap menentukan apa yang Anda makan, dan hal ini layak dipikirkan saat memilih basis perjalanan Anda. Jika prioritas Anda adalah masakan tradisional Bali dan keliling warung, Ubud dan wilayah Gianyar menawarkan pilihan paling autentik yang mudah dijangkau dengan berjalan kaki atau skuter. Jika Anda menginginkan kancah brunch dan makanan nabati terbaik, Canggu adalah pilihan yang jelas. Untuk fine dining malam hari dan masakan internasional, Seminyak memiliki konsentrasi restoran berkualitas tertinggi. Sanur lebih tenang, dengan pilihan lebih sedikit, tetapi yang ada (seperti Warung Mak Beng) sudah mempertahankan reputasinya selama puluhan tahun.\n\n\n\nKami membahas tiap area secara detail dalam panduan untuk memilih area menginap di Bali.\n\n\n\nDenpasar, ibu kota Bali, sebagian besar diabaikan turis tetapi memiliki masakan warung terbaik di pulau ini. Warung Wardani adalah titik awal yang bagus&nbsp;: ini adalah versi warung Nasi Campur yang sedikit lebih rapi, dengan sepiring hidangan tersusun yang memungkinkan Anda mencicipi hidangan-hidangan penting Bali tanpa tebak-tebakan ala meja tunjuk. Pasar-pasar kota ini (terutama Pasar Badung) juga menawarkan pengalaman kuliner yang sama sekali tidak ada di area turis.\n\n\n\nMakan vegetarian dan vegan\n\n\n\nBali mungkin adalah pulau termudah di Indonesia untuk makan nabati. Pola makan tradisionalnya sudah mencakup banyak tempe, tahu, sayuran, dan kelapa, jadi bahkan di warung klasik pun Anda bisa menyusun sepiring Nasi Campur yang memuaskan tanpa daging. Anda hanya perlu menunjuk hidangan sayur, tempe, tahu, dan sambal.\n\n\n\nDi luar masakan tradisional, restoran vegan dan vegetarian khusus terkonsentrasi di Canggu dan Ubud. The Shady Shack dan I Am Vegan Babe di Canggu mewakili sisi santainya. Moksa di Ubud menangani sisi gastronominya. Secret Spot membuat dessert vegan. Banyaknya pilihan di dua area ini berarti Anda bisa makan sepenuhnya nabati selama berminggu-minggu tanpa perlu mengulang restoran.\n\n\n\nSatu hal yang perlu diperhatikan&nbsp;: banyak hidangan Bali mengandung terasi atau kaldu ayam yang tidak selalu terlihat. Jika Anda vegan ketat, sampaikan hal itu saat memesan di warung. Restoran vegan khusus transparan soal bahan, tetapi di warung tradisional, sambal bisa mengandung terasi dan kuah dasar sup mungkin tidak nabati.\n\n\n\nKeamanan makanan dan menghindari \u201c&nbsp;Bali belly&nbsp;\u201d\n\n\n\nJatuh sakit karena makanan di Bali cukup umum sampai-sampai \u201c&nbsp;Bali belly&nbsp;\u201d punya istilahnya sendiri, tetapi risikonya bisa dikelola dengan beberapa kebiasaan sederhana. Aturan yang paling bisa diandalkan&nbsp;: makanlah di warung yang ramai. Perputaran pelanggan yang tinggi berarti makanan baru saja dimasak. Warung kosong berarti Nasi Campur sudah berjam-jam berada di etalase, dan di situlah bakteri berkembang biak.\n\n\n\nSegala sesuatu yang direbus, digoreng, atau dipanggang di depan Anda aman. Buah yang sudah dipotong dari pedagang kaki lima lebih berisiko (mungkin dicuci dengan air keran dan sudah cukup lama terpapar). Hindari taburan kol mentah parut yang menyertai beberapa hidangan. Jika Nasi Campur di etalase terlihat kering atau berkerak, lanjut ke warung berikutnya.\n\n\n\nPertanyaan tentang es terus muncul (kami juga membahasnya dalam panduan kesehatan dan tips praktis kami), dan jawabannya sederhana&nbsp;: es batu berbentuk tabung dengan lubang di tengah (diproduksi secara industri) aman. Es yang dipotong tidak beraturan dari balok kurang bisa diandalkan. Di warung atau restoran mapan mana pun, esnya aman.\n\n\n\nKebersihan umum&nbsp;: bersihkan tangan Anda setelah memegang uang dan sebelum makan. Uang kertas Indonesia tidak bersih. Beberapa pelancong membawa alat makan sendiri, dan Anda juga bisa memesan \u201c&nbsp;bungkus&nbsp;\u201d (dibawa pulang, dibungkus dalam kertas atau kantong) untuk menghindari soal kebersihan pencucian piring di warung yang sangat sederhana.\n\n\n\nJika Anda datang dari Phuket\n\n\n\nPelancong yang sudah menjelajahi kancah kuliner Phuket akan menemukan pola yang familier di Bali. Kedua pulau sama-sama punya budaya street food yang kuat, makan malam seafood di tepi pantai, dan pembagian yang jelas antara restoran yang berorientasi pada turis dan spot lokal tempat makanan justru lebih enak.\n\n\n\nPerbedaan utamanya&nbsp;: budaya warung di Bali bahkan lebih mudah diakses daripada kios jalanan Thailand, harga lebih murah di semua kategori, dan kancah restoran vegan di Canggu serta Ubud jauh melampaui yang ada di Phuket. Profil bumbunya benar-benar berbeda&nbsp;: Bali sangat mengandalkan kunyit, lengkuas, dan serai, sementara masakan Thailand berfokus pada cabai, daun jeruk purut, dan saus ikan.\nBangkok adalah ibu kota kuliner Asia lainnya: lihat panduan kami tentang tempat makan di Bangkok.\nPara pencinta street food juga akan menyukai Hanoi: temukan tempat makan di Hanoi, dari pho hingga egg coffee.","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158975","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=158975"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158975\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/114433"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=158975"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=158975"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=158975"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}