{"id":158905,"title":"Bulgogi Udon","modified":"2026-07-18T15:24:09+02:00","plain":"Resep inovatif yang memadukan mi udon legendaris dengan lezatnya bulgogi daging sapi Korea\n\n\n\nHari ini, teman-teman, kita akan bermain jadi penyihir dadakan: menantang hukum alam, menciptakan sebuah chimera, sesuatu yang mengerikan&#8230; sekaligus lezat. \n\n\n\nHidangan ini begitu kontroversial sampai-sampai saya khawatir para puris Korea dan Jepang akan melupakan perbedaan mereka demi melancarkan serangan bersama ke tanah air Sang Siung Besar&#8230;\n\n\n\n\n\n\n\nPada suatu hari, mi udon bertemu dengan daging sapi bulgogi&#8230; lalu mereka hidup bahagia dan memiliki seorang anak: bulgogi udon\n\n\n\nJepang dan Korea: kisah cinta kuliner tanpa akhir\n\n\n\nMulai dari kimbap yang mirip sushi versi lebih heboh hingga kaldu dashi beserta sepupu-sepupunya yang hadir di aneka kuah: dari kimchi jjigae hingga samgyetang, masakan Jepang dan masakan Korea jelas bukan baru sekali ini melahirkan hidangan fusion. \n\n\n\nSushi ala Korea, alias kimbap\n\n\n\nSingkatnya, mi udon tebal nan kenyal seperti yang kita suka, dipadukan dengan daging sapi yang luar biasa lembut berkat marinadenya, jelas merupakan kombinasi juara. \n\n\n\nSama seperti mi tumis daging sapi atau udon daging sapi saya, saya akan heran jika resep ini tidak langsung beredar di seluruh komunitas saya sebelum akhir minggu setelah artikel ini terbit. \n\n\n\nBahan utama bulgogi udon\n\n\n\n\n\n\n\nDaging sapi: bintang utama hidangan ini, jadi harus diiris sangat, sangat tipis. Anda tidak perlu memilih potongan tertentu; irisan yang tipis dan marinasi apel yang membantu melunakkan daging akan mengurus sisanya\n\n\n\nKecap asin ringan: memberikan rasa asin dan umami\n\n\n\nMirin: memberikan sentuhan manis yang lembut\n\n\n\nMinyak wijen: idealnya gunakan minyak wijen sangrai, tetapi kalau yang tersedia hanya minyak wijen biasa, tidak masalah\n\n\n\nMi udon: tebal dan kenyal, tak heran kalau mi ini digemari di seluruh dunia! Gunakan mi prakukus dalam kemasan vakum, dan perhatikan cara menyiapkannya sebelum digunakan. Masukkan ke dalam air mendidih, lalu uraikan perlahan hingga teksturnya lembut\n\n\n\n\n\n\tBulgogi Udon\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t400 g daging sapi (diiris tipis, idealnya setebal 2 mm hingga 3 mm)500 g mi udon siap pakai (sekitar 2 bungkus)1 bawang bombai (dikupas lalu diiris tipis)1 batang daun bawang muda (diiris tipis)1 wortel (opsional, dikupas lalu diiris tipis)1 sendok makan minyak wijenMarinasi3 sendok makan kecap asin1.5 sendok makan gula cokelat1 sendok makan mirin0.5 apel merah0.25 bawang bombai0.5 sendok makan bawang putih (cincang)0.5 sendok teh jahe (cincang)0.5 sejumput lada hitam (digiling)Untuk penyajiandaun bawang (diiris)biji wijen putih\t\n\t\n\t\tBlender semua bahan marinasi hingga halus, lalu sisihkan.Masukkan daging iris tipis ke dalam mangkuk, lalu tuangkan marinasi di atasnya. Pijat daging perlahan agar bumbu meresap.Tambahkan minyak wijen ke dalam daging, lalu aduk rata.Tutup mangkuk dengan plastik wrap atau pindahkan daging ke wadah kedap udara. Marinasi selama 4 jam di kulkas, atau semalaman jika memungkinkan.Rebus sebentar mi udon siap pakai selama beberapa menit sambil diaduk perlahan hingga matang sempurna.Tiriskan di dalam saringan, lalu bilas dengan air dingin untuk menghentikan proses memasak.Panaskan wajan di atas api sedang-tinggi. Tambahkan sedikit minyak goreng.Masak daging dan sayuran di atas api sedang-tinggi selama 3 hingga 5 menit.Besarkan api, lalu masukkan udon yang sudah ditiriskan.Tumis selama sekitar 5 menit hingga cairan dan sausnya menyusut.Tambahkan biji wijen, lalu aduk rata.Sajikan dengan taburan irisan daun bawang.\t\n\t\n\t\tKesabaran memang kunci rasa. Saya tahu menunggu proses marinasi terasa merepotkan, tetapi percayalah: marinasi ini membantu mengempukkan daging tanpa meninggalkan rasa soda kue, dan hasil akhirnya benar-benar istimewa.\n\t\n\t\n\t\tPlat principalCor\u00e9enne, Japonaise","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158905","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=158905"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158905\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18723"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=158905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=158905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=158905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}