{"id":158897,"title":"Udang Goreng Lada Garam","modified":"2026-07-18T15:24:01+02:00","plain":"Resep udang lada garam yang lezat, renyah maksimal, dan dibalut bumbu super gurih berbahan bawang putih, cabai, dan garam\n\n\n\nDi Tiongkok bagian utara, tradisi kuliner setempat kerap menggunakan udang utuh, lengkap dengan kepala dan cangkangnya, untuk menyiapkan hidangan khas. Cara ini mencerminkan pentingnya keaslian rasa dan tekstur dalam masakan daerah.\n\n\n\nMi tumis udang yang lezat, khas Shanghai\n\n\n\nMeski kurang praktis dibandingkan udang kupas, cara ini dipilih karena mampu menghadirkan rasa yang lebih kaya. Udang dibalut tipis dengan adonan, lalu digoreng hingga berkulit keemasan dan renyah, sambil tetap menjaga dagingnya lembut.\n\n\n\n\n\n\n\nSentuhan akhir berupa campuran garam dan lada menyempurnakan hidangan ini dengan menonjolkan cita rasa alami udang. Sederhana, tanpa neko-neko.\n\n\n\nSebaliknya, di banyak daerah lain, terutama dalam masakan Barat, udang kupas lebih sering dipilih karena lebih praktis.\n\n\n\nCara ini memang memudahkan persiapan dan saat makan, tetapi kadang mengurangi kedalaman rasa dan tekstur yang didapat dari udang utuh. Tentu saja, ini tetap soal nuansa kecil. Saya sudah mencoba keduanya, dan dua-duanya sama-sama lezat.\n\n\n\nBahan Utama untuk Udang Lada Garam\n\n\n\nTak perlu banyak bahan untuk hasil yang memuaskan\n\n\n\nLada Sichuan: saya pribadi sangat menyukai aromanya, tetapi saya paham kalau tidak semua orang cocok dengannya (lada Sansho juga bisa dipakai). Kalau begitu, gunakan lada putih atau, sebagai pilihan terakhir, lada hitam. Tetap enak, kok.\n\n\n\nTepung maizena: untuk menghasilkan tekstur yang ekstra renyah. Campuran 50:50 tepung ubi jalar dan tapioka juga sangat bagus.\n\n\n\n\n\n\tUdang Garam dan Lada\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tWok\t\n\t\n\t\t450 g udang (mentah, sudah dikupas)Pelapis125 g tepung maizenagaram dan lada secukupnyaBumbu1 sendok teh lada Sichuan (ditumbuk halus)1 sendok teh garamTumisminyak netral6 siung bawang putih (diiris tipis)2 cabai merah (segar, diiris)daun bawang muda (diiris, untuk hiasan)\t\n\t\n\t\tKeringkan udang hingga benar-benar kering dengan tisu dapur.Di atas piring atau nampan, campurkan garam dan tepung maizena. Masukkan udang, lalu aduk hingga seluruh permukaannya terlapisi tipis oleh tepung maizena.Siapkan bumbu dengan mencampurkan garam dan lada Sichuan dalam mangkuk kecil.Panaskan minyak setinggi 1.5 cm dalam wajan sedang atau wok di atas api sedang-besar hingga mencapai 190 \u00b0C. Jika tidak memiliki termometer, celupkan sendok kayu ke dalam minyak. Minyak siap saat gelembung-gelembung kecil segera muncul di sekeliling sendok.Masukkan udang satu per satu ke dalam wajan dalam satu lapisan. Pegang bagian ekornya, kibaskan kelebihan tepung maizena, lalu masukkan perlahan ke dalam minyak. Anda mungkin perlu menggorengnya dalam beberapa batch. Masak sekitar 2 menit per sisi, hingga permukaannya berwarna keemasan pucat dan udang melengkung.Setelah matang, pindahkan udang ke rak kawat agar tiris.Setelah semua udang matang, tuang sisa minyak ke dalam mangkuk dan sisakan sedikit saja di wajan. Singkirkan sisa-sisa pelapis sebisa mungkin, karena jika gosong, rasanya akan rusak.Masukkan bawang putih dan cabai ke dalam wok di atas api sedang-besar. Tumis selama 1 sampai 2 menit hingga aromanya harum.Masukkan kembali udang, lalu taburi dengan campuran garam dan lada. Aduk hingga terbalut merata.Pindahkan ke piring saji, lalu hias dengan daun bawang muda.\t\n\t\n\t\tSangat penting untuk menyingkirkan sisa-sisa pelapis. Kalau perlu, buang seluruh minyaknya atau ganti wajan\/wok. Jika sisa pelapis gosong, rasanya benar-benar akan rusak (ya, ini berdasarkan pengalaman\u2014RIP udang uji coba no. 2).\n\t\n\t\n\t\tEntr\u00e9e, Plat principalChinoise\t\n\n\n\n\n\nSumber Kuliner\n\n\n\nSaya mengacu pada resep dari blog berbahasa Inggris Just One Cookbook, dengan penyesuaian pada takaran bumbu dan bawang putih.","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158897","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=158897"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158897\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13275"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=158897"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=158897"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=158897"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}