{"id":158847,"title":"Ch\u00e8 Chu\u1ed1i &#8211; Pisang dengan Santan dan Tapioka","modified":"2026-07-18T15:23:30+02:00","plain":"Hidangan penutup Vietnam berbahan santan ini begitu kaya, lembut, dan memanjakan, cocok untuk memuaskan keinginan akan yang manis atau disajikan sebagai pencuci mulut yang tak terduga untuk menyempurnakan santapan Asia yang istimewa\n\n\n\nApa itu Ch\u00e8 Chu\u1ed1i?\n\n\n\nSeperti biasa saat membahas hidangan Vietnam, saya suka mulai dengan mengupas namanya. Chu\u1ed1i berarti pisang, sedangkan Ch\u00e8 hanyalah istilah payung untuk aneka \u201csup\u201d manis. Ya, setidaknya selama makanan seperti puding masih boleh disebut \u201csup\u201d. \n\n\n\nTangyuan juga mengikuti prinsip ini, meski termasuk dalam kuliner Tiongkok\n\n\n\nSingkatnya, kalau teksturnya agak cair, lembut, dan manis, selamat: di hadapan Anda ada semangkuk Ch\u00e8.\n\n\n\nDi Vietnam, ch\u00e8 chu\u1ed1i selalu dibuat dengan pisang chu\u1ed1i xi\u00eam (pisang awak), yang lebih lembut dan sedikit asam dibandingkan pisang Cavendish yang umum kita temukan di sini, serta tidak mudah hancur saat dimasak. \n\n\n\nBanh bo nuong juga merupakan hidangan penutup Vietnam yang lezat\n\n\n\nPisang ini biasanya dijual beku di toko bahan makanan Asia dan tahan dipanaskan berulang kali, tidak seperti Cavendish yang cepat lembek dan hancur.\n\n\n\nJika tidak menemukannya, gunakan plantain yang sangat matang (kulitnya berbintik hitam), yang lebih manis dan aromanya tidak terlalu kuat. Untuk mempertegas rasanya, lumuri dengan gula dan diamkan sebentar sebelum dimasukkan ke dalam santan. Namun, kalau hanya ada pisang biasa, hasilnya tetap enak.\n\n\n\nUntuk pencuci mulut Korea, coba resep hotteok\n\n\n\nCh\u00e8 chu\u1ed1i yang kaya, lembut, dan tidak terlalu manis nikmat disantap panas maupun hangat, dengan taburan kacang tanah panggang. Cocok sebagai camilan manis atau pencuci mulut yang harum di akhir makan.\n\n\n\nBahan-bahan Utama Ch\u00e8 Chu\u1ed1i\n\n\n\n\n\n\n\nSantan: idealnya, gunakan santan murni. Sebisa mungkin hindari minuman kelapa ala Alpro yang pada dasarnya hanya air beraroma.\n\n\n\nPisang: Seperti disebutkan di atas, pilihan terbaik adalah varietas chu\u1ed1i xi\u00eam yang bisa ditemukan di toko bahan makanan Asia, tetapi pisang biasa yang mudah ditemukan di sini juga bisa digunakan. Pisang ini juga cocok untuk membuat pisang goreng Vietnam.\n\n\n\nButiran tapioka: Butiran kecil yang bisa ditemukan di toko bahan makanan Asia.\n\n\n\nGula palma: Anda bisa menggantinya dengan gula pasir atau gula tebu.\n\n\n\nPandan: Ganti dengan sedikit ekstrak vanila jika perlu, tetapi bila Anda bisa menemukan daun pandan segar atau kering, aromanya benar-benar istimewa.\n\n\n\n\n\n\tCh\u00e8 Chu\u1ed1i - Pisang Santan dengan Mutiara Tapioka\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t700 mL santan700 mL air60 g gula aren (bisa diganti dengan gula biasa)0.25 sendok teh garam85 g mutiara tapioka (ukuran kecil)2 pisang (matang)1 pisang (iris bulat, untuk hiasan)kacang tanah, ditumbuk kasar (untuk hiasan)2 sendok makan biji wijen (disangrai)3 lembar daun pandan (ikat jadi satu; bila perlu, ganti dengan sedikit ekstrak vanila, bukan ekstrak pandan)\t\n\t\n\t\tDidihkan santan, air, dan daun pandan dalam panci dengan api besar.Kecilkan api, lalu tambahkan gula dan garam.Aduk hingga gula larut sepenuhnya.Masukkan mutiara tapioka dan masak selama 30 menit sambil sering diaduk, hingga mutiara tapioka menjadi bening.Belah pisang menjadi empat bagian memanjang, lalu potong-potong sepanjang 1 hingga 2 cm.Matikan api, masukkan potongan pisang, tutup panci, lalu diamkan selama 10 menit hingga pisang panas merata.Tuang ke dalam mangkuk saji, lalu hias dengan wijen sangrai, kacang tanah, dan sisa irisan pisang.Sajikan hangat, pada suhu ruang, atau sedikit dingin.\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tPostrevietnamita","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158847","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=158847"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158847\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19472"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=158847"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=158847"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=158847"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}