{"id":158012,"title":"Kitsune Udon &#8211; Sup Udon dengan Tahu Goreng","modified":"2026-07-18T14:44:48+02:00","plain":"Sup mi udon yang cepat, praktis, dan pas untuk pencinta sup berkuah ala Jepang yang kaya isian!\n\n\n\nDalam dunia mi, kitsune udon termasuk salah satu hidangan paling menghangatkan yang memadukan aneka rasa dan bahan khas negeri matahari terbit. Yuk, coba salah satu hidangan klasik masakan Jepang ini!\n\n\n\nApa itu kitsune udon?&nbsp;\n\n\n\nKitsune udon adalah hidangan istimewa di Jepang, dan memang sangat populer di sana\u2026 Wajar saja! Sederhananya, ini adalah sup mi udon yang tebal dan kenyal dalam kuah dashi. Biasanya, hidangan ini dilengkapi dengan tahu goreng (yang disebut \u201caburaage\u201d) yang dibumbui dengan kecap asin dan mirin, irisan tipis narutomaki, serta daun bawang. \n\n\n\nBagi pencinta sup dan kaldu seperti ramen, hidangan ini wajib dicoba. Kitsune udon paling sering disajikan panas, tetapi juga nikmat disantap dingin saat musim panas. Singkatnya, ini adalah hidangan yang kaya rasa dan memanjakan, memadukan kelembutan mi dengan gurihnya kuah dan tahu goreng.&nbsp;\n\n\n\nJangan sampai tertukar dengan Yaki Udon daging sapi saya yang tak kalah lezat\n\n\n\nMengingat budaya dan tradisi Jepang yang begitu kaya, Anda mungkin bertanya-tanya tentang arti istilah \u201ckitsune\u201d. Secara harfiah, kata ini berarti \u201crubah\u201d. Lalu, mengapa nama ini dipakai? Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskannya. Salah satunya menyebutkan bahwa tahu goreng kerap dianggap sebagai makanan favorit rubah dalam cerita rakyat Jepang. \n\n\n\nNiku udon adalah versi udon berkuah lain yang tak kalah lezat\n\n\n\nTeori lain menyebutkan bahwa warna tahu goreng sekilas menyerupai warna bulu rubah. Bahkan, dalam banyak resep Jepang yang diterjemahkan secara harfiah, ada ungkapan \u201cmasak hingga berwarna rubah\u201d yang berarti \u201cmasak hingga keemasan\u201d. Mungkin terdengar sedikit dipaksakan, tetapi memang itulah kisah-kisah yang kerap dikaitkan dengan kitsune udon.&nbsp;\n\n\n\nUdon kimchi saya adalah perpaduan Jepang-Korea yang menggugah selera\n\n\n\nDari mana asal kitsune udon?&nbsp;\n\n\n\nKonon, kitsune udon berasal dari Osaka pada tahun 1893, yaitu pada era Meiji. Di sebuah kedai khusus udon yang awalnya bernama \u201cMastubaya\u201d, seorang pelanggan kabarnya meletakkan sepotong aburaage yang disajikan sebagai pelengkap di atas semangkuk udon polos, lalu menyukai perpaduan kedua bahan tersebut. Kurang lebih dari situlah semuanya bermula. \n\n\n\nPenduduk Osaka sangat bangga pada budaya kuah kaldu mereka yang kaya, begitu pula dengan konamon (makanan berbahan dasar tepung). Karena itu, kitsune udon menjadi cerminan sempurna dari keahlian kuliner daerah tersebut dengan memadukan kedua unsur ini.\n\n\n\nBahan utama kitsune udon\n\n\n\n\n\n\n\nDashi: Inilah dasar kuah tempat mi akan dimasukkan. Dashi adalah elemen khas Jepang dengan cita rasa umami yang sering digunakan untuk membuat aneka sup, termasuk sup miso yang terkenal!\u00a0Rasanya cenderung lembut dan halus, sangat berbeda, misalnya, dari kimchi jjigae Korea.\n\n\n\nMi udon: Bahan ini wajib ada dalam resep ini. Selain serbaguna dan cocok untuk banyak hidangan, mi udon sangat disukai karena ketebalan dan teksturnya yang memberi sensasi makan yang benar-benar memuaskan. Untuk memahami kelebihan dan perbedaannya dengan lebih jelas, Anda bisa melihat panduan mi Asia saya.&nbsp;\n\n\n\nTahu goreng: Dalam kebanyakan resep, bahan ini disebut \u201caburaage\u201d. Bentuknya berupa kantong tahu goreng siap pakai, tetapi justru sering kali lebih mudah membuatnya sendiri karena aburaage cukup sulit ditemukan. Proses membumbuinya pun tidak rumit: cukup dengan kecap asin ringan, mirin, sake, dan gula. Semua detailnya saya jelaskan dalam resep.&nbsp;\n\n\n\nKamaboko: Bahan ini opsional, tetapi merupakan salah satu pelengkap berbahan surimi yang umum ditemukan dalam kitsune udon tradisional. Biasanya, yang digunakan adalah kamaboko jenis \u201cnarutomaki\u201d karena tampilannya lebih cantik saat disajikan.&nbsp;\n\n\n\n\n\n\tKitsune Udon Otentik\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t300 g mi udon (siap pakai)Kuah2.5 sendok makan mirin2 sendok makan kecap asin ringan1 bungkus dashi (bubuk (atau buatan sendiri, gunakan takaran air yang sama seperti yang disebutkan di bawah))1 sejumput garam600 ml airTahu goreng berbumbu3 potongan tahu goreng tipisBumbu tahu goreng150 ml air1 sendok makan kecap asin ringan1.5 sendok makan mirin1.5 sendok makan sake1 sendok teh gulaPelengkap (opsional)narutomaki (iris tipis)daun bawang (cincang)\t\n\t\n\t\tKuahTambahkan air dan dashi bubuk ke dalam panci. Didihkan, lalu kecilkan api dan diamkan selama 4 menit agar rasanya meresap.Tambahkan garam, kecap asin, dan mirin.Didihkan kembali, lalu angkat dari api. Cicipi dan tambahkan garam jika perlu.Rebus mi udon siap pakai sesuai petunjuk pada kemasan.Bilas mi di bawah air mengalir setelah matang, lalu tiriskan. Sajikan dalam mangkuk sup.Tahu goreng berbumbuTekan tahu goreng dengan tisu dapur untuk mengurangi kelebihan minyak. Masukkan tahu goreng dan semua bumbu ke dalam panci.Masak dengan api kecil hingga seluruh cairannya menguap.PenyajianTuangkan kuah panas ke atas mi udon.Tambahkan tahu goreng berbumbu, irisan narutomaki, dan daun bawang di atasnya.\t\n\t\n\t\t Jika tahu goreng berbumbu sudah disiapkan sebelumnya, resep ini bisa selesai dalam 10 menit saja.\n Sachet dashi dan butiran dashi sering kali sudah mengandung garam. Sesuaikan jumlah garam sesuai selera.\nJika Anda menjalani pola makan nabati, gunakan dashi kombu atau dashi shiitake kering.\n\t\n\t\n\t\tPlat principal, Soupes et bouillonsJaponaise","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158012","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=158012"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158012\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16078"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=158012"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=158012"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=158012"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}