{"id":157958,"title":"Sate Babi Thailand &#8211; Moo Ping (\u0e2b\u0e21\u0e39\u0e1b\u0e34\u0e49\u0e07)","modified":"2026-07-18T14:43:59+02:00","plain":"Apa itu Moo Ping?\n\n\n\nAh, Moo Ping! Diucapkan [m\u01d4\u02d0 p\u00ee\u014b] dalam bahasa Thailand, namanya secara harfiah berarti \u201cbabi panggang\u201d. Hidangan ini merupakan salah satu permata tersembunyi dari jajanan kaki lima Thailand yang mulai populer sejak 1952. Sejak saat itu, Moo Ping berhasil memikat siapa pun yang mencicipinya.\n\n\n\nPotongan kecil surga kuliner ini benar-benar hidangan serbabisa. Sarapan? Moo Ping. Makan siang? Moo Ping. Makan malam? Sudah pasti, Moo Ping.\n\n\n\nBiasanya dijual di jalan-jalan yang ramai di Thailand, terutama antara pukul 05.00 hingga 11.00. Hidangan ini selalu siap mengganjal perut di pagi hari atau memuaskan rasa lapar di larut malam.\n\n\n\n\n\n\n\nDan bagian terbaiknya? Kelezatan ini ramah di kantong. Harga per tusuk biasanya berkisar antara 5 hingga 10 baht, tergantung harga daging babi.\n\n\n\nJadi, lain kali saat Anda menjelajahi jalanan Thailand, jangan lupa mampir untuk menikmati Moo Ping. Perut Anda pasti berterima kasih! Dan kalau Anda sedang tidak berada di Thailand, saya akan menghadirkan cita rasanya langsung ke dapur Anda, karena saya sendiri selalu mencarinya saat berada di Phuket.\n\n\n\nDi mata saya, sate manis-gurih khas Thailand ini nyaris menyaingi Pad See Ew\u2014dan itu sudah menunjukkan betapa saya menyukainya!\n\n\n\nLihat juga resep sate ayam satay khas Thailand\n\n\n\nBagaimana cara menyajikan Moo Ping?\n\n\n\nMoo Ping secara tradisional disajikan dengan nasi ketan, perpaduan yang pas antara daging panggang yang juicy dan nasi yang pulen serta lengket. Satu porsi khas terasa seperti paket kecil kebahagiaan: tiga tusuk Moo Ping yang dipanggang cantik, ditemani sebungkus nasi ketan.\n\n\n\nNamun, tentu tidak ada yang melarang Anda menyiapkannya untuk barbecue klasik dan menyajikannya bersama salad sederhana di sampingnya. Lagi pula, karena Anda membuatnya sendiri, kenapa harus berhenti di 3 tusuk?\n\n\n\n\n\n\n\nCara membuat sate babi Thailand manis-gurih\n\n\n\nSate ini dibuat dari irisan daging babi yang dimarinasi dalam bumbu manis-gurih. Rasa asin dari saus ikan Thailand, kecap asin ringan, dan saus tiram diseimbangkan oleh manisnya gula aren.\n\n\n\nSementara itu, bawang putih dan lada putih memberi karakter rasa yang tegas.\n\n\n\nSecara tradisional, bawang putih ditumbuk menjadi pasta bersama akar ketumbar di dalam cobek. Namun, agar hidangan ini lebih mudah dibuat di rumah, cukup cincang atau iris halus siung bawang putih dan gunakan batang ketumbar muda cincang sebagai pengganti akar ketumbar yang lebih sulit ditemukan.\n\n\n\n\n\n\n\nBahan utama Moo Ping\n\n\n\nMSG: Digunakan untuk memperkuat rasa gurih pada marinasi.\n\n\n\nBatang ketumbar: Memberikan aroma segar dan nuansa herbal pada marinasi. Secara tradisional, yang digunakan adalah akarnya, tetapi seperti pada salad babi khas Thailand saya, di sini batang ketumbar menjadi penggantinya.\n\n\n\nSalad babi Thailand\n\n\n\nGula aren: Menyeimbangkan rasa asin dari saus ikan Thailand, kecap asin ringan, dan saus tiram dengan manis alaminya.\n\n\n\nSiung bawang putih: Memberi rasa yang tegas pada marinasi.\n\n\n\nSaus tiram: Menambah kedalaman rasa umami pada marinasi.\n\n\n\nLada putih: Memberi sensasi hangat dan sedikit pedas pada marinasi.\n\n\n\nKecap asin ringan: Menambah rasa asin dan kedalaman pada marinasi.\n\n\n\nSaus ikan: Memberi rasa asin sekaligus umami pada marinasi.\n\n\n\nKrim kelapa tanpa gula: Membentuk lapisan glasir yang lengket dan mengilap pada daging, sekaligus menjaga daging babi tetap lembap saat dipanggang.\n\n\n\n\n\n\tMoo Ping - Sate Babi Manis Gurih Khas Thailand\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t450 g daging bahu babi (biarkan tetap utuh dalam satu potong jika memungkinkan)90 ml krim kelapa tanpa pemanis (lihat catatan)Marinasi1 sejumput MSG (opsional)7 g batang ketumbar cincang15 g gula palem cincang halus (lihat catatan)9 g bawang putih cincang9 ml saus tiram4 g lada putih8 ml light soy sauce8 ml saus ikan\t\n\t\n\t\tCampurkan semua bahan marinasi dalam mangkuk hingga gula larut.Bekukan daging babi selama 15-30 menit agar lebih mudah dipotong. Potong menjadi bagian berukuran sekitar 5 cm dengan ketebalan 2 cm, lalu iris lagi setebal sekitar 5 mm. Tujuannya adalah mendapatkan potongan tipis untuk sate. Intinya, jangan terlalu dipikirkan; cukup buat irisan tipis yang bisa ditusukkan ke tusuk sate.Masukkan daging ke dalam mangkuk besar bersama marinasi. Aduk hingga seluruh permukaan daging terlapisi rata, lalu simpan di lemari es dan marinasi hingga 3 hari.Tusukkan sepotong daging babi ke tusuk sate, lalu tusuk dua kali agar terpasang kuat dan rapatkan seperti akordeon. Lanjutkan hingga beberapa potong daging terpasang rapat, sambil menyisakan 4-5 cm tusuk sate kosong di bagian bawah dan ujung runcing di bagian atas. Ulangi dengan sisa daging babi.Panaskan panggangan dengan api sedang-besar. Olesi daging babi dengan krim kelapa menggunakan kuas. Panggang sambil dibalik dan diolesi krim kelapa secara berkala hingga daging sedikit karam dan matang sempurna (8-10 menit). Jika muncul lidah api, geser sate menjauh dari nyala api.Diamkan selama 1-2 menit sebelum disajikan.\t\n\t\n\t\tGula palem, yang kadang dijual dengan label \"gula kelapa\", bisa ditemukan di supermarket Asia atau dibeli secara online. Untuk resep ini, Anda bisa menggantinya dengan jumlah yang sama dari gula cokelat muda padat jika sulit menemukannya.\nKrim kelapa adalah versi santan yang lebih kaya, lebih kental, dan lebih pekat. Biasanya produk ini ada di lorong yang sama dengan santan kalengan.\nPersiapan dan penyimpanan\nSate yang sudah dipanggang paling nikmat disantap segera. Marinasi bisa disiapkan terlebih dahulu dan disimpan di lemari es hingga 3 hari. Daging babi dapat dimarinasi hingga 36 jam.\n\t\n\t\n\t\tBrochettesTha\u00eflandaiseBrochettes sucr\u00e9es sal\u00e9es, Brochettes tha\u00ef\t\n\n\n\n\n\nSumber kuliner yang digunakan: Serious Eats, Hot Thai Kitchen, Punchfork","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157958"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157958\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8054"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}