{"id":157879,"title":"Butadon Tokachi Autentik &#8211; Donburi Babi","modified":"2026-07-18T14:42:47+02:00","plain":"Semangkuk nasi Jepang dengan irisan babi panggang lezat berlumur kecap asin dan madu\u2026 Wajib coba bagi para pencinta Donburi!\n\n\n\nOlahan mangkuk nasi memang ada banyak sekali, tetapi saya harus mengakui bahwa resep yang satu ini benar-benar layak dibagikan\u2026 Jika Anda sedang mencari hidangan yang menghangatkan dan menenangkan, Tokachi butadon, dengan daging yang empuk dan saus karamel yang menggoda, adalah jawabannya. \n\n\n\nNikmati bersama sup miso atau salad seperti salad kol Jepang, dan hasilnya pasti memanjakan lidah. Kabar baiknya, Anda juga tidak perlu berlama-lama di dapur. Tertarik mencoba?&nbsp;\n\n\n\nSalad kol Jepang adalah pendamping yang sempurna\n\n\n\nApa itu Tokachi butadon?\n\n\n\nDi antara sekian banyak resep mangkuk nasi yang ada, yang satu ini, saya jamin, sangat digemari para pencinta masakan Jepang. \n\n\n\nKalau Anda penggemar berat Donburi, resep ini pasti akan langsung menarik perhatian Anda. \n\n\n\nTokachi butadon (\u5341\u52dd\u8c5a\u4e3c) adalah salah satunya, sama seperti Gyudon, Oyakodon, Katsudon\u2026 \n\n\n\nDi Jepang, Butadon secara tradisional disajikan sebagai semangkuk nasi kukus yang diberi irisan babi panggang lalu disiram saus manis-gurih yang lezat.\n\n\n\nKatsudon adalah donburi babi lainnya\n\n\n\nBisa dibilang, ini adalah hidangan yang sangat mengenyangkan sekaligus memberi rasa nyaman, bahkan untuk mereka yang doyan makan banyak.&nbsp;\n\n\n\nAsal-usul Tokachi Butadon\n\n\n\nTidak mengherankan, Tokachi butadon berasal dari wilayah Tokachi di Hokkaido, sebuah pulau di utara Jepang yang terkenal akan gunung berapinya\u2026 sekaligus kualitas daging babinya. \n\n\n\nPeternakan babi di kawasan ini mulai berkembang menjelang akhir periode Meiji, sekitar tahun 1910. Dari situlah babi, dan tentu saja Butadon, kemudian menjadi salah satu ikon kuliner setempat.&nbsp;\n\n\n\nKonon, asal mula Butadon bermula pada periode Showa (sekitar 1930), ketika sebuah restoran di Obihiro, yang juga berada di Hokkaido, menyajikan mangkuk nasi dengan babi panggang arang dan saus. \n\n\n\nPada masa itu, hidangan ini dianggap sebagai makanan \u201cpenambah stamina\u201d bagi para buruh dan petani yang bekerja keras. Jadi memang wajar kalau porsinya terasa mengenyangkan\u2026! \n\n\n\nPada awalnya, belut bahkan digunakan sebagai pengganti babi. Namun karena harganya mahal dan sulit ditemukan, resep ini pun cepat beradaptasi dengan perubahan tersebut\u2026 dan ternyata justru tetap sukses besar!\n\n\n\nBahan utama Butadon\n\n\n\n\n\n\n\nIrisan babi: inilah bintang utama hidangan ini. Untuk resep ini, saya merekomendasikan perut babi, yaitu bagian yang berlemak dan membuat hidangan ini terasa begitu memuaskan. Dipadukan dengan saus, dagingnya menjadi juicy dengan sentuhan rasa sedikit berasap\u2026 benar-benar menggugah selera.&nbsp;\n\n\n\nNasi: secara pribadi, saya akan menggunakan beras sushi Jepang. Kalau Anda belum membaca panduan saya tentang berbagai jenis beras, jenis ini memiliki bulir yang lebih pendek dan memang paling sering saya sarankan untuk membuat Donburi. Setelah dikukus, butirannya saling menempel sehingga lebih mudah disantap, terutama jika Anda makan dengan sumpit.&nbsp;\n\n\n\nMinyak wijen: memberi sentuhan aroma kacang yang harum.\n\n\n\nKecap asin ringan: saus Butadon benar-benar menjadi pembeda dalam resep ini. Kecap asin adalah salah satu bahan penting yang menghadirkan perpaduan manis-gurih bersama gula cokelat dan madu.\n\n\n\nMirin: inilah komponen penting lainnya dalam saus Butadon. Mirin semakin menonjolkan cita rasa karamel pada saus. \n\n\n\nBahan ini juga sangat sering digunakan dalam marinasi Jepang, seperti pada resep Tsukune dan bahkan Katsudon, agar tetap sejalan dengan tema \u201cDonburi\u201d! Mirin bercita rasa manis, kaya akan umami, dan juga membantu menyeimbangkan rasa asin dari kecap.&nbsp;\n\n\n\nSake: menambahkan sentuhan kompleksitas pada saus. Karakternya lembut, halus, floral, dan elegan\u2026 Sake berpadu sempurna dengan bahan-bahan saus lainnya tanpa membuat rasanya jadi lebih manis. Simpan di dapur jika Anda suka masakan Jepang, karena bahan ini akan sering Anda butuhkan!\n\n\n\nDaun bawang muda: sedikit sentuhan segar tentu selalu menyenangkan, bukan? Menambahkan daun bawang muda ke Donburi Anda hampir selalu menjadi ide yang tepat.&nbsp;\n\n\n\nTips agar Tokachi butadon berhasil&nbsp;\n\n\n\nKunci karamelisasi adalah kesabaran. Tunggu hingga saus benar-benar mengental seperti sirup sebelum diangkat dari api.\n\n\n\n\n\n\tTokashi Butadon Autentik - Donburi Babi\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t400 g perut babi (diiris tipis lebar berbentuk persegi (lihat foto))Saus Butadon1 sejumput garam120 ml kecap asin120 ml sake60 ml mirin40 g gula cokelat2 sendok makan madu3 siung bawang putih (digeprek)1 sendok teh minyak wijenUntuk penyajian2 porsi nasi sushi (matang)daun bawang muda (iris tipis, untuk hiasan)\t\n\t\n\t\tMasukkan semua bahan saus ke dalam panci, lalu aduk rata.Didihkan dengan api besar.Setelah mendidih, kecilkan api ke sedang-rendah dan masak hingga saus mengental. Sisihkan.DagingPanaskan wajan besar di atas api sedang-tinggi dengan sedikit minyak hingga benar-benar panas, lalu tata daging babi dalam satu lapisan (kemungkinan perlu dimasak bertahap).Goreng hingga satu sisi daging babi kecokelatan ringan, lalu balik dan goreng sisi satunya.Angkat dan sisihkan daging babi di atas piring. Ulangi hingga semua daging babi matang.Lap sisa minyak di wajan setelah batch terakhir daging babi selesai digoreng.Tuang 60 ml saus ke dalam wajan, lalu masak hingga sangat kental dan lengket. Masukkan kembali daging babi ke dalam wajan.Balik-balik daging hingga seluruh permukaannya terlapisi saus. Jika porsinya banyak, lakukan bertahap.PenyajianMasukkan satu porsi nasi ke masing-masing mangkuk.Siram satu atau dua sendok makan saus di sekeliling nasi.Tata daging babi di atas nasi.Taburi dengan daun bawang muda.\t\n\t\n\t\tKunci karamelisasi ada pada kesabaran. Tunggu hingga saus benar-benar kental seperti sirup sebelum diangkat dari api.\n\t\n\t\n\t\tDonburi, Plat principalJaponaise","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157879","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157879"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157879\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16708"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157879"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157879"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157879"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}