{"id":157859,"title":"Niku Udon &#8211; Sup Udon Daging Sapi","modified":"2026-07-18T14:42:28+02:00","plain":"Mi tebal yang lembut kenyal, kaldu harum dengan kecap asin dan mirin, serta irisan daging sapi yang juicy dengan sentuhan manis-gurih\u2026 Perpaduan yang hangat dan memanjakan dari masakan Jepang\n\n\n\nTak perlu saya perkenalkan lagi: Udon, mi Jepang yang terkenal dan menjadi andalan dalam banyak hidangan populer di Asia. Konon, bersama Soba, inilah mi yang paling banyak dikonsumsi di Jepang. \n\n\n\nTidak mengherankan: selain sangat mengenyangkan, mi ini bisa dinikmati dalam beragam olahan. Kali ini, saya menghadirkan hidangan yang memadukan Udon, daging sapi berbumbu, dan kaldu dashi yang gurih dan kaya rasa.&nbsp;\n\n\n\nDashi adalah salah satu pilar masakan Jepang\n\n\n\nNiku Udon, apa itu?&nbsp;\n\n\n\nNiku Udon digemari karena mi-nya yang tebal, kaldunya yang gurih, dan daging yang melengkapinya. \n\n\n\nSaat membicarakan Niku Udon, kebanyakan orang hampir selalu langsung membayangkan daging sapi. Padahal, jika diterjemahkan secara harfiah, istilah ini sebenarnya tidak secara khusus merujuk pada daging sapi. Bahkan sama sekali tidak. \n\n\n\n udon tumis daging sapi saya yang lezat\n\n\n\nSebenarnya, kata \u201cNiku\u201d merujuk pada daging secara umum. Jadi, secara teknis, Niku Udon seharusnya dipahami sebagai sup mi dengan daging, baik itu daging sapi, babi, maupun ayam. Namun, pada praktiknya, versi daging sapi memang yang paling populer.&nbsp;\n\n\n\nHal seperti ini juga sangat bervariasi tergantung daerahnya. Di wilayah Kanto, yang lebih sering digunakan adalah daging babi, sedangkan di Kansai, daging sapi lebih umum. Masing-masing punya versi Niku Udon-nya sendiri. Tidak ada satu cara yang benar-benar kaku dan tradisional untuk menyiapkannya.&nbsp;\n\n\n\nMeski begitu, daging sapi tetap menjadi pilihan terbaik untuk resep ini. Daging diiris sangat tipis lalu dimarinasi dengan kecap asin dan mirin, menghasilkan rasa yang mengingatkan pada saus teriyaki. \n\n\n\nOnsen Tamago, telur sempurna khas Jepang, sering ditambahkan sebagai topping pada Niku Udon\n\n\n\nBagi pencinta rasa manis-gurih, hidangan ini benar-benar istimewa. Mi dan daging sapi lalu disiram kaldu dashi, kemudian diberi pelengkap seperti daun bawang muda atau mitsuba, serta kamaboko jenis narutomaki. Kalau ingin lebih istimewa lagi, sebagian orang bahkan menambahkan Onsen Tamago di atas Niku Udon!\n\n\n\nBahan-bahan utama Niku Udon&nbsp;\n\n\n\n\n\n\n\nMi Udon: yang disukai dari Udon adalah teksturnya yang tebal dan lembut kenyal, sangat cocok untuk hidangan sekaya ini. Mi kering memang mudah ditemukan, tetapi jika Anda sempat mendapatkan versi yang sudah diprakukus, yang kini juga semakin umum, jangan lewatkan. Soal tekstur dan rasa, hasilnya berbeda! Di sini, saya akan menggunakan yang diprakukus.&nbsp;\n\n\n\nDaging sapi: Niku Udon umumnya dibuat dengan jenis daging tertentu. Seperti yang sudah saya sebutkan, biasanya digunakan daging sapi yang diiris tipis, dan inilah pilihan yang paling saya sukai untuk resep ini, terutama karena sangat cocok dengan marinasinya.&nbsp;\n\n\n\nKecap asin ringan: bahan ini penting karena digunakan baik dalam kaldu maupun marinasi. Rasanya asin, teksturnya lebih cair, dan sangat cocok untuk merendam bahan. Dalam masakan Tiongkok dan Taiwan, kecap jenis ini lazim dipakai untuk saus cocolan, tumisan, dan tentu saja marinasi. \n\n\n\nMirin: rasa manisnya memberi keseimbangan yang menetralkan asin dari kecap sekaligus menambah kedalaman rasa pada hidangan. Mirin dan kecap memang pasangan yang nyaris tak terpisahkan!\n\n\n\nDashi: kaldu yang harum dan lembut dengan cita rasa umami; rasanya tak pernah membosankan. Cukup cicipi Kitsune Udon untuk paham betapa nikmatnya kaldu ini. Untuk resep ini, Anda bisa menggunakan bubuk dashi instan seperti yang saya sarankan pada resep tersebut. Jika tidak, saya mengajak Anda untuk membuat dashi sendiri hanya dengan serutan bonito (\u201cKatsuobushi\u201d) dan Kombu. Prosesnya sangat mudah dan cepat.&nbsp;\n\n\n\nKamaboko Narutomaki: narutomaki, hiasan kecil berbahan pasta ikan dengan tampilan yang unik ini, adalah sentuhan akhir untuk semangkuk Niku Udon yang lengkap. Bahan ini juga sangat sering ditemukan dalam ramen.&nbsp;Saya akui, saat sesi pemotretan, saya tidak memilikinya, jadi elemen ini tidak tampak di foto.\n\n\n\nTips sukses membuat Niku Udon\n\n\n\nMari kerjakan resep ini secara berurutan: idealnya, siapkan dulu pelengkapnya, yaitu iris daun bawang muda dan narutomaki. Dengan begitu, semuanya sudah siap digunakan saat penyajian, dan Niku Udon pun tetap tersaji panas.&nbsp;\n\n\n\n\n\n\tNiku Udon - Sup Udon Daging Sapi\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t2 porsi udon siap pakai200 g daging sapi (iris tipis)3 siung bawang putih (iris tipis)Marinasi4 sendok makan kecap asin rendah garam2 sendok makan mirin2 sendok makan gula1 sendok teh maizenaKaldu500 ml air1 sendok teh dashi (bubuk)1 sendok makan kecap asin rendah garam1 sendok makan mirin1 sendok teh minyak wijenPelengkapdaun bawang (iris tipis)narutomaki (iris tipis)\t\n\t\n\t\tMarinasi daging sapi selama 10 menit.Panaskan sedikit minyak dalam wok di atas api sedang-besar, lalu tumis bawang putih selama 1 menit.Masukkan daging sapi, lalu tumis hingga matang. Sisihkan.Dalam panci, masukkan air dan semua bahan kaldu, lalu panaskan di atas api sedang hingga mendidih.Masukkan udon dan masak sesuai petunjuk pada kemasan. Angkat dari api.Bagi udon dan kuah ke dalam mangkuk, lalu tata daging sapi matang di atasnya.Taburi dengan daun bawang dan beberapa irisan narutomaki, lalu sajikan.\t\n\t\n\t\tUntuk hasil terbaik, siapkan pelengkap terlebih dahulu: iris daun bawang dan narutomaki lebih dulu. Dengan begitu, semuanya siap saat penyajian dan Niku Udon tetap tersaji hangat.\n\t\n\t\n\t\tPlat principal, Soupes et bouillonsJaponaise","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157859","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157859"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157859\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17231"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157859"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157859"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157859"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}