{"id":157833,"title":"Samgyetang Autentik &#8211; Sup Ayam Ginseng","modified":"2026-07-18T14:41:55+02:00","plain":"Resep kaldu ginseng Korea yang legendaris, siap memberi Anda tenaga di musim dingin maupun musim panas!\n\n\n\nApakah ini kaldu Asia? Hidangan ala fondue Tiongkok? Semacam bubur nasi? Samgyetang adalah ketiganya sekaligus, tetapi juga tidak sepenuhnya. \u201cTerima kasih, Marc, sekarang saya jadi jauh lebih paham resep ini.\u201d \u27a1\ufe0f Jangan pura-pura Anda tidak akan menekan tombol \u201cLangsung ke resep\u201d dalam 5 detik. \n\n\n\nLebih serius lagi, ini adalah salah satu hidangan klasik besar dari masakan Korea yang, sama seperti kimchi jjigae, layak jauh lebih dikenal. \n\n\n\nSatu hal yang pasti, orang Korea tahu cara mencuri perhatian dengan warna-warna masakan mereka yang memikat\n\n\n\nApa itu Samgyetang?\n\n\n\nSecara umum, menelusuri etimologi hidangan seperti ini adalah cara terbaik untuk mendefinisikannya dengan tepat. Samgyetang (\uc0bc\uacc4\ud0d5) berasal dari tiga unsur: \u2018Sam\u2019 (\uc0bc) untuk ginseng (insam \uc778\uc0bc), \u2018gye\u2019 (\uacc4) yang berarti ayam, dan \u2018tang\u2019 (\ud0d5) yang berarti sup. \n\n\n\nHidangan ini sangat populer di Korea dan termasuk dalam Boyangsik (\ubcf4\uc591\uc2dd), istilah untuk makanan yang dipercaya dapat menguatkan dan memulihkan tubuh. Samgyetang, khususnya, dikenal membantu melawan kelelahan, menstabilkan tekanan darah, memperkuat sistem kekebalan tubuh, dan memberi banyak manfaat lainnya.\n\n\n\nBagi para puris, agar bisa disebut \u201cautentik\u201d, hidangan ini wajib memuat tiga unsur tersebut (sup, ginseng, dan ayam). Ada satu detail penting lagi: sup ini juga berisi beras ketan yang, saat dimasak, akan memberi efek mirip bubur nasi, meski tidak sepenuhnya sama. Pada akhirnya, menurut saya, inilah alasan kita membedakan kaldu dan sup di sini: tekstur akhirnya benar-benar berbeda karena nasi yang hancur akan mengentalkan cairan beraroma ini.\n\n\n\nCoba juga Goto, kerabat Filipina dari hidangan ini \n\n\n\nSelain unsur-unsur dasar ini, beberapa bahan seperti jujube (kurma Tiongkok) memang lebih sering digunakan, tetapi tidak ada aturan yang benar-benar baku. Di Korea, Anda akan menemukan ribuan variasi, kadang sangat jauh dari tampilan khas hidangan ini. Para koki kerap mengeksplorasi dan memperkaya salah satu komponennya\u2014paling sering kaldunya\u2014dengan dashi, miso, &#8230;\n\n\n\nKapan Samgyetang disantap di Korea?\n\n\n\nDi Korea, meskipun Samgyetang adalah sup panas, hidangan ini justru sangat populer di musim panas. Orang Korea sering berkata: \u201cLawan panas dengan panas!\u201d \n\n\n\nMereka berangkat dari anggapan bahwa pada musim panas, darah lebih banyak bersirkulasi di dekat kulit, tetapi lebih sedikit mengalir ke organ-organ dalam. Akibatnya, organ-organ tersebut bisa menjadi lebih dingin dan memicu penurunan nafsu makan serta energi. Menyantap hidangan panas seperti Samgyetang, yang kaya bahan bergizi, dipercaya membantu melancarkan kembali aliran darah ke organ-organ dan memulihkan nafsu makan serta energi. \n\n\n\nSelain itu, hidangan ini juga membantu menurunkan suhu tubuh lewat keringat. Itulah sebabnya orang Korea sangat gemar menyantap Samgyetang saat \u201csambok\u201d, tiga hari terpanas dalam setahun. \n\n\n\nDua jjigae disajikan dalam ttukbaegi (sumber: lovesera.com)\n\n\n\nSelama periode ini, restoran Samgyetang sering dipenuhi orang-orang yang mencari semangkuk sup hangat yang menenangkan. Biasanya hidangan ini disajikan dalam ttukbaegi (\ub69d\ubc30\uae30), yaitu wadah gerabah yang digunakan untuk hidangan Korea seperti jjigae dan gukbap. Wadah ini menjaga panas dengan baik sehingga makanan bisa disajikan selagi mendidih. Ttukbaegi sendiri merupakan salah satu jenis onggi (\uc639\uae30), tembikar tradisional Korea yang digunakan untuk peralatan makan dan penyimpanan.\n\n\n\nGalbitang menghadirkan kehangatan yang sama: sup Korea yang disajikan mendidih, dengan kaldu bening dari iga sapi galbi\n\n\n\nCara menyajikan Samgyetang buatan sendiri\n\n\n\nBiasanya, hidangan ini disajikan dalam mangkuk terpisah dan ditemani banchan seperti japchae, salad kecambah kacang hijau, bayam wijen, kimchi, &#8230; serta saus cocolan di samping\n\n\n\nBahan-bahan utama Samgyetang\n\n\n\n\n\n\n\nAyam: Saya sarankan memilih ayam berukuran kecil karena dimasak utuh. Namun, sesuaikan saja ukurannya dengan panci yang Anda gunakan. Selain pertimbangan estetika dan kepraktisan, ukurannya tidak terlalu berpengaruh.\n\n\n\nJujube: kurma Tiongkok yang terkenal ini mudah ditemukan dalam bentuk kering di supermarket Asia. Buah ini memberi rasa sekaligus, menurut pengobatan tradisional Korea dan Tiongkok, berbagai manfaat kesehatan. Meski begitu, jujube tidak wajib ada agar hidangan ini tetap berhasil \n\n\n\nBeras ketan: Idealnya, gunakan beras ketan berbutir pendek. Namun, saya juga sudah mencoba resep ini dengan beras sushi, dan hasilnya tetap sangat baik\n\n\n\nBeras ketan berbutir pendek\n\n\n\nGinseng: Akar inilah bintang utama hidangan ini! Paling ideal tentu yang segar, tetapi versi kering pun sangat cocok dan tetap memberi cita rasa khas yang sulit ditandingi pada sup\n\n\n\nKecap asin ringan: penting untuk memberi sentuhan umami pada saus cocolan\n\n\n\nCuka beras: seperti kecap asin, bahan ini digunakan untuk membuat saus cocolan asam-manis yang lezat\n\n\n\nMinyak wijen: di sini, gunakan minyak wijen sangrai. Rasanya yang lebih kuat penting untuk mendapatkan cita rasa autentik\n\n\n\n\n\n\tSamgyetang Otentik - Sup Ayam Ginseng\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t1 ayam utuh kecil3 akar ginseng (segar atau kering)10 siung bawang putih (dikupas)6 jujube100 g beras ketan (butir pendek (gunakan beras ketan Vietnam, bukan Thailand), mentah)2 batang daun bawang (diiris tipis)1.5 liter air (atau secukupnya hingga ayam terendam)Saus cocol wijen1 sendok makan garam1 sejumput lada hitam1 sendok teh biji wijen (ditumbuk)2 sendok makan minyak wijen (sangrai)Saus cocol asam manis3 sendok makan kecap asin ringan2 sendok makan cuka beras1 sendok teh madu0.5 bawang bombai (dicincang kecil)1 cabai hijau (dicincang kecil)Banchan pendamping (opsional)salad tauge kacang hijaubayam wijen ala Koreakimchi\t\n\t\n\t\tCuci beras beberapa kali, lalu rendam dalam air dingin selama 1 jam.Bersihkan ayam dan sayuran hingga benar-benar bersih. Lumuri ayam dengan garam, lalu bilas (opsional).Isi rongga ayam dengan beras, siung bawang putih, jujube, dan akar ginseng. Jika masih ada sisa beras, masukkan ke dalam panci.Ikat kedua kaki ayam menjadi satu.Masukkan ayam ke dalam panci yang sesuai, lalu tuang air hingga hampir seluruh ayam terendam.Didihkan, lalu masak dengan api sedang selama 30 menit.Kecilkan api, tutup panci, lalu biarkan mendidih perlahan selama 30 menit lagi.Campurkan semua bahan saus cocol wijen dalam wadah kecil.Campurkan semua bahan saus cocol asam manis dalam wadah kecil.Sajikan dalam mangkuk tanah liat jika ada, taburi daun bawang, lalu hidangkan bersama banchan pilihan Anda.Untuk menikmatinya sendiri atau bersama keluarga, letakkan ayam beserta kaldunya di tengah meja, sajikan kuahnya dalam mangkuk saji masing-masing, lalu potong ayam menjadi beberapa bagian untuk dibagikan kepada para tamu.Celupkan potongan ayam ke dalam saus cocol, lalu nikmati bersama banchan.\t\n\t\n\t\tJangan ragu memperkaya kaldu dengan bumbu favorit Anda, atau memvariasikan lauk pendamping dan saus cocol sesuai selera.\n\t\n\t\n\t\tPlat principal, Soupes et bouillonsCor\u00e9enne\t\n\n\n\n\n\nSumber kuliner\n\n\n\nUntuk saus cocolannya, saya terinspirasi dari versi blog berbahasa Inggris Maangchi","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157833","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157833"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157833\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18592"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157833"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157833"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157833"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}