{"id":157800,"title":"Jjamppong &#8211; Sup mi dengan makanan laut","modified":"2026-07-18T14:41:25+02:00","plain":"Resep tradisional sup makanan laut Korea yang cocok untuk menghangatkan malam-malam musim dingin Anda\n\n\n\nSudah kenal dengan jajangmyeon? Di Korea, kurang lebih sama seperti orang yang terbagi antara cokelat panas dan kopi di pagi hari: biasanya ada tim jajangmyeon dan tim jjamppong. \n\n\n\nKalau menurut saya pribadi, kedua hidangan ini sangat berbeda. Namun, keduanya sama-sama termasuk dalam kuliner Korea bergaya Tionghoa, seperti tangsuyuk. \n\n\n\nJajangmyeon dalam segala kelezatannya\n\n\n\nKedua hidangan Korea ini sama-sama lezat, gurih, dan sangat menghangatkan. Namun, jika Anda sedang ingin sesuatu yang lebih segar, cobalah naengmyeon Korea Utara\n\n\n\nApa itu Jjamppong?\n\n\n\nJjamppong (atau jjampong, \uc9ec\ubf55) adalah salah satu hidangan paling populer yang bisa Anda pesan di restoran Korea-Tionghoa. Hidangan ini terdiri dari mi segar, aneka sayuran, dan berbagai jenis makanan laut, semuanya disajikan dalam kuah merah yang pedas. Kuahnya umumnya cukup pedas, jadi bersiaplah!\n\n\n\nDi Korea, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ada rivalitas antara jjamppong dan jajangmyeon (mi Korea dengan pasta kacang hitam, \uc790\uc7a5\uba74). \n\n\n\nJika Anda sulit memilih di antara keduanya, Anda bisa memesan hidangan yang disebut jjamjjamyeon (\uc9ec\uc9dc\uba74).\n\n\n\nJjamjjamyeon menyatukan kedua jenis mi ini dalam satu mangkuk dengan sekat di tengah\n\n\n\nKenapa harus pusing memilih?\n\n\n\nAsal-usul Jjamppong\n\n\n\nMeskipun ada banyak teori mengenai asal-usul jjamppong, yang paling meyakinkan adalah bahwa hidangan ini diciptakan pada era 1940-an oleh para imigran Tionghoa yang menetap di Nagasaki, Jepang.\n\n\n\nTentu saja, jjamppong modern telah banyak berkembang untuk menyesuaikan diri dengan selera Korea. Secara khusus, penambahan gochugaru dan makanan laut mulai diperkenalkan di Korea pada era 1960-an.\n\n\n\nTangsuyuk, atau babi goreng Korea, juga berasal dari masakan Tiongkok\n\n\n\nBerbeda dari banyak hidangan Korea lainnya, jjamppong cukup sulit direplikasi di rumah hanya dengan produk siap pakai atau mi instan. Untuk mendapatkan cita rasa sedikit gosong yang menjadi ciri khasnya, hidangan ini sebaiknya dimasak sendiri dalam wajan wok. \n\n\n\nDalam resep ini, nuansa tersebut makin ditegaskan dengan paprika asap\n\n\n\nIngin kuah Korea yang lebih kaya rasa? Coba gamjatang dengan tulang babinya\n\n\n\nBahan-bahan utama Jjamppong\n\n\n\n\n\n\n\nMi: Secara tradisional, jjamppong menggunakan mi Korea kalguksu yang bisa Anda temukan di toko bahan makanan khusus, tetapi mi telur biasa pun cocok\n\n\n\nDaging babi: gunakan potongan sesuai selera, idealnya yang masih memiliki sedikit lemak\n\n\n\nMakanan laut: Bagian ini bebas, jadi gunakan apa pun yang Anda suka\n\n\n\nArak Shaoxing: arak masak tradisional yang bisa diganti dengan sake atau sherry kering\n\n\n\nKecap asin: bumbu asin yang mudah ditemukan di hampir semua toko\n\n\n\nSaus tiram: saus gurih yang rasanya tidak seperti tiram; tersedia juga versi vegetarian jika Anda alergi\n\n\n\nGochugaru: bubuk cabai khas Korea dengan tingkat kepedasan sedang\n\n\n\nKaldu ayam: idealnya buatan sendiri, atau jika Anda menggunakan kaldu kemasan, pastikan rasanya tidak terlalu asin\n\n\n\n\n\n\tJjamppong - Sup mi seafood\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tWok\t\n\t\n\t\tProtein150 g daging babi (potong korek api)700 g seafood (gunakan seafood segar seperti cumi-cumi, udang, remis, kerang, kepiting, dan lain-lain. Minimal: remis, udang, dan cincin cumi-cumi)Sayuran150 g sawi putih (potong-potong)200 g bawang bombai (iris tipis (sekitar 1 bawang bombai ukuran sedang))30 g wortel (potong korek api)60 g zukini (potong korek api)Bumbu aromatik4 sendok makan minyak goreng netral7 siung bawang putih (cincang halus)2 sendok teh jahe (cincang halus)6 daun bawang (iris tipis)Bumbu4 sendok makan gochugaru (haluskan dengan blender hingga menjadi bubuk halus)1 sendok makan paprika asap2 sendok makan kecap asin ringan2 sendok teh saus tiram60 ml arak Shaoxing (atau air)1.5 L kaldu ayam0.25 sendok teh garam (sesuai selera)1 cabai merah (opsional)Untuk penyajian2 porsi mi telurdaun bawang iris (untuk taburan)\t\n\t\n\t\tMasukkan minyak goreng, bawang putih, jahe, dan daun bawang ke dalam wok atau panci besar yang masih dinginNyalakan api sedang, lalu tumis hingga aromanya harum, sekitar 2 hingga 3 menit. Tergantung pada kekuatan kompor, waktunya bisa sampai tiga kali lebih lama; bahan-bahan harus mendesisBesarkan api, lalu masukkan daging babi, sawi putih, bawang bombai, wortel, dan zukiniTumis sambil diaduk hingga semua bahan tercampur rata, sekitar 45 detikMasukkan gochugaru dan paprika asapTumis selama 30 detik hingga 1 menit, lalu tuangkan kecap asin dan saus tiram di sepanjang dinding bagian dalam wok. Saus akan sedikit berasap selama beberapa detik dan mengeluarkan aroma yang sedapAduk cepat hingga semua bahan tercampur, lalu tuangkan kaldu ayam dan arak Shaoxing atau airDidihkan, lalu masukkan seafood dan rebus dengan api besar hingga semuanya matang sempurna, sekitar 2 hingga 3 menitMasukkan cabai merah jika digunakanMasak mi sesuai petunjuk pada kemasanTiriskan, lalu bilas mi di bawah air dingin untuk menghilangkan kelebihan patiTerakhir, bilas mi dengan air sepanas mungkin untuk menghangatkannya kembali. Tiriskan hingga benar-benar kering, lalu taruh dalam mangkuk sajiSiram mi dengan sup seafood dalam jumlah banyak, lalu sajikan segera. Taburi dengan daun bawang dan beri garam sesuai selera\t\n\t\n\t\tMenuangkan kecap asin dan saus tiram di dinding wok yang panas akan sedikit menghanguskan saus, sehingga kuah mendapat aroma asap yang sedap. Karena saus tiram biasanya tidak cukup encer untuk dituangkan dengan cara ini, saya sarankan mencampurnya terlebih dahulu dengan kecap asin ringan agar teksturnya lebih cair dan lebih mudah dituang\n\t\n\t\n\t\tPortata principale, Zuppe e brodiCoreana\t\n\n\n\n\n\nSumber kuliner\n\n\n\nResep ini saya adaptasi dari blog Seonkyoung Longest yang sangat berbakat","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157800","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157800"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157800\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19786"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157800"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157800"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157800"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}