{"id":157671,"title":"Pajeon Autentik &#8211; Pancake Korea dengan Daun Bawang","modified":"2026-07-18T14:39:26+02:00","plain":"Pancake Korea yang renyah di luar dan lembut di dalam, berisi seafood dan daun bawang, disajikan hangat dengan saus kecap bercuka.\n\n\n\nSuara hujan seolah sudah mulai di wajan bahkan sebelum sampai ke jendela: minyak berdesis, adonan bergetar pelan, daun bawang melunak dan melepaskan aroma hijau yang lembut, nyaris manis. Pajeon yang baik mudah dikenali dari daun bawangnya yang panjang dan tersusun rapi, diikat oleh adonan secukupnya saja. \n\n\n\nPinggirannya garing saat digigit, bagian tengahnya tetap lembut dan kaya rasa daun bawang. Jika mencari hidangan sejenis, b\u00e1nh x\u00e8o Vietnam atau okonomiyaki Jepang juga memadukan adonan dan isian, tetapi dengan struktur yang sangat berbeda. Singkatnya, ini sajian lezat yang patut dicoba.\n\n\n\nKlasik Korea lain yang tak kalah terkenal, bibimbap adalah semangkuk hidangan lengkap.\n\n\n\nPajeon, apa itu&nbsp;?\n\n\n\nNamanya sederhana. Pa berarti \u201cdaun bawang\u201d, sedangkan jeon merujuk pada keluarga hidangan yang dilapisi adonan lalu dimasak di wajan. Dalam masakan Korea, jeon tetap menonjolkan identitas bahan utamanya, entah zukini pada aehobak jeon, aneka sayuran seperti pada yachaejeon, atau, seperti di sini, daun bawang utuh. \n\n\n\nPajeon berbeda dengan buchimgae, yaitu saat adonan lebih dominan dan bahan-bahan yang dicincang seolah menyatu ke dalam panekuk yang padat. Dalam pajeon autentik, daun bawang tetap terlihat dan utuh, sering kali berupa jjokpa (daun bawang Joseon) yang disusun berdampingan di wajan.\n\n\n\nAdonan di sini berfungsi sebagai pengikat, bukan bintang utama. Tepung terigu memberi struktur, pati menghadirkan kerenyahan yang rapuh, dan air es membantu menahan pembentukan gluten. Pajeon klasik biasanya disajikan dengan saus kecap asin dan cuka. \n\n\n\nPajeon gaya Dongnae dari Busan punya logika yang berbeda: lebih kaya, lebih empuk, sarat seafood, dan disajikan dengan chojang, saus tajam berbahan gochujang dan cuka, mirip dengan saus bibimbap.\n\n\n\nUntuk hidangan Korea yang menghangatkan, cobalah dakgalbi.\n\n\n\nDari tepung Amerika hingga malam-malam hujan\n\n\n\nSejarah pajeon merupakan bagian dari sejarah jeon yang lebih luas. Di istana Joseon, hidangan halus ini disebut jeonyuhwa, \u201cbunga yang dimasak di wajan dengan minyak\u201d. Namun, pajeon tidak disebut dalam teks kuliner besar mana pun pada masa itu: baik dalam Eumsik Dimibang dari 1670 maupun Siuijeonseo dari akhir abad ke-19, yang bahkan mencatat jeon burung pipit.\n\n\n\nPenyebutan tertulis pertamanya muncul pada 1946, dalam Chosun Eumsik Mandeuneun Beop karya Bang Sin-young: tepung terigu, telur, garam, dan daun bawang, dimasak di atas pelat besi. Setelah Perang Korea (1950-1953), bantuan Amerika memasukkan gandum dalam jumlah besar ke negara itu. \n\n\n\nGandum yang sebelumnya mahal menjadi lebih mudah diakses, dan dapur rumahan pun menyesuaikan tradisi memasak di wajan. Konteks ini juga menjelaskan peran tepung dalam hidangan populer lain, seperti corn dog Korea.\n\n\n\nUntuk hidangan bersama yang benar-benar mengenyangkan, gamjatang wajib dicoba.\n\n\n\nKawasan Dongnae di Busan mengembangkan versinya sendiri pada 1930-an, di sekitar Pasar Dongnae. Pajeon yang lebih mewah ini, kaya akan tepung beras, seafood, dan daun bawang, berakar pada hasil laut Busan, sama seperti eomuk. \n\n\n\nDalam budaya Korea, pajeon identik dengan hari-hari hujan. Hidangan ini biasa dinikmati bersama makgeolli, yang gelembung ringannya dan keasaman laktatnya menyeimbangkan minyak serta garam. kimchi jjigae juga cocok untuk menghangatkan malam yang lembap.\n\n\n\nBahan utama pajeon\n\n\n\n\n\n\n\nDaun bawang Joseon (jjokpa) menjadi inti hidangan ini. Utuh atau dibelah dua, daun bawang disusun sejajar untuk membentuk struktur pajeon. Adonannya memadukan tepung terigu sebagai kerangka dengan pati kentang, jagung, atau tapioka untuk menghasilkan pinggiran yang tipis dan rapuh. Air es atau air berkarbonasi membantu menahan pembentukan gluten dan membuat teksturnya lebih ringan. Telur bersifat opsional, tetapi membantu mengikat adonan secara halus.\n\n\n\nUntuk haemul pajeon, tambahkan tiram, udang, cumi-cumi, dan kerang yang sudah ditiriskan baik-baik agar panekuk tidak lembek. Cabai merah dan hijau yang diiris serong menambah warna sekaligus pedas ringan. Dalam masakan Korea, cabai juga kerap diisi lalu digoreng, seperti pada gochu twigim. \n\n\n\nMinari yang renyah dan beraroma herba merupakan unsur penting dalam versi Dongnae.\n\n\n\nUntuk yang manis, hotteoks adalah pancake isi kayu manis khas jajanan kaki lima Korea.\n\n\n\nUntuk saus pendamping, pajeon klasik biasanya disajikan dengan saus kecap asin dan cuka. Gaya Dongnae lebih memilih chojang yang asam dan sedikit pedas. Adonannya, berbahan tepung beras ketan dan tepung beras biasa, menghasilkan tekstur chaljin yang lentur dan lengket, seperti yang juga ditemukan pada gyeongdan. Kaldu teri dan dasima membumbui adonan dari dalam dan mengingatkan pada cita rasa laut dalam jjamppong.\n\n\n\n\n\n\tPajeon Autentik - Panekuk Daun Bawang Khas Korea\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tMakanan laut100 g daging kerang mussel (berat tanpa cangkang)70 g daging kerang palourde (berat tanpa cangkang)70 g tiramAir garam untuk bilasan600 g air2 g garamBumbu makanan laut1 sendok teh garam1 sejumput ladaIsian200 g daun bawang15 g cabai hijau (sekitar 1 buah cabai)10 g cabai merah (sekitar 2\/3 buah cabai)Adonan95 g tepung terigu30 g tepung beras nonketan1 g garam (sekitar 1\/4 sendok teh)200 g air1 telur (kocok lepas)Untuk memasak85 g minyak sayurSaus celup kecap-cuka1 sendok makan kecap asin light1 sendok makan cuka beras1 sendok makan air1 sendok teh kacang pinus (haluskan)\t\n\t\n\t\tSiapkan makanan lautCampurkan air dan garam hingga menjadi larutan garam yang ringan.Bilas kerang mussel, kerang palourde, dan tiram perlahan dalam air garam. Aduk pelan agar tidak rusak, lalu tiriskan di saringan.Potong makanan laut menjadi potongan-potongan sekitar 1 cm.Bumbui dengan garam dan lada, lalu diamkan selama sekitar 10 menit agar bumbu meresap.Siapkan sayuranBersihkan dan rapikan daun bawang, lalu potong menjadi ruas-ruas sepanjang sekitar 10 cm.Iris serong cabai hijau dan cabai merah menjadi potongan sepanjang sekitar 2 cm dengan ketebalan 3 mm.Siapkan adonanDalam mangkuk besar, campurkan tepung terigu, tepung beras, garam, dan air hingga adonan halus dan tercampur rata.Kocok lepas telur di mangkuk terpisah.Siapkan sausCampurkan kecap asin, cuka beras, air, dan kacang pinus yang sudah dihaluskan. Sisihkan hingga siap disajikan.MemasakPanaskan wajan di atas api sedang, lalu tuang minyak sayur.Tuang lapisan pertama adonan ke dalam wajan hingga membentuk lingkaran berdiameter sekitar 10 cm dengan ketebalan 8 mm.Susun daun bawang di atas adonan, lalu sebarkan makanan laut di atasnya. Tambahkan potongan cabai hijau dan cabai merah.Tuang sekitar 30 g adonan tambahan di atas isian, lalu ratakan perlahan agar semua bahan menyatu.Tuangkan telur kocok di atasnya sebagai lapisan terakhir.Masak selama sekitar 5 menit di atas api sedang hingga bagian bawah matang dan berwarna keemasan.Balik panekuk, tutup wajan, lalu lanjutkan memasak selama sekitar 3 menit.Sajikan selagi hangat dengan saus celup kecap-cuka.\t\n\t\n\t\t\nJangan mengaduk makanan laut terlalu kuat saat dibilas agar tidak rusak.\nUntuk hasil terbaik, jaga api tetap sedang agar panekuk kecokelatan merata tanpa gosong.\n\n\t\n\t\n\t\tAccompagnement, Plat principalCor\u00e9enne","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157671","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157671"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157671\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/147029"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157671"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157671"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157671"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}