{"id":157587,"title":"Furikake: apa itu dan bagaimana cara membuatnya?","modified":"2026-07-18T14:37:25+02:00","plain":"Furikake, apa itu?&nbsp;\n\n\n\nMungkin Anda pernah bertanya-tanya, apa sebenarnya butiran kecil yang ditaburkan di atas nasi atau ikan itu? Furikake adalah bumbu tabur khas dalam masakan Jepang.&nbsp;\n\n\n\nAda banyak variasinya, tetapi resep klasik umumnya berisi rumput laut, ikan, telur, herba kering, biji wijen, garam, dan gula. \u201cFurikake\u201d secara harfiah berarti \u201cmenaburkan\u201d dalam bahasa Jepang. Campuran bumbu ini memberi sentuhan renyah pada hidangan Anda, sekaligus membuatnya lebih kaya warna dan cita rasa.&nbsp;\n\n\n\nSejarah furikake\n\n\n\nFurikake sebenarnya termasuk penemuan yang cukup modern. Cikal bakalnya diyakini muncul pada awal abad ke-20, tepatnya di awal era Taisho di Jepang. Pada dekade 1920-an, dampak perang memicu gelombang malnutrisi di Asia.&nbsp;\n\n\n\nMelihat banyaknya kasus kekurangan gizi, terutama kalsium, apoteker&nbsp; Yoshimaru Suekichi, yang berasal dari Kumamoto di selatan Jepang, meracik campuran berbahan dasar tulang ikan untuk ditaburkan di atas nasi. Setelah itu, resepnya pun berkembang menjadi lebih kompleks. \n\n\n\nKemudian ditambahkan biji wijen, rumput laut, dan herba kering\u2026 Sejak saat itu, furikake hadir dalam beragam variasi.\n\n\n\nFurikake juga bisa digunakan untuk membumbui okonomiyaki\n\n\n\nVariasi furikake\n\n\n\nSelama hampir satu abad, furikake mempertahankan bahan-bahan dasarnya, tetapi kini ada banyak jenis furikake. \n\n\n\nBiasanya, furikake mengandung nori (rumput laut kering berbentuk lembaran, yang terutama digunakan untuk membuat sushi), biji wijen, dan serpihan bonito (cakalang yang direndam dalam kecap asin lalu dikeringkan), sementara beberapa resep menghadirkan sentuhan yang lebih kreatif.&nbsp;\n\n\n\nDi antara berbagai varian yang ada saat ini, ada furikake shiso yang dibuat dari daun shiso merah kering berbumbu, furikake wasabi (untuk pencinta pedas!), hingga furikake salmon\u2026 Pedas? Segar agak sitrus? Lembut? Asin? Semuanya bergantung pada cita rasa yang ingin Anda hadirkan dalam hidangan. Pilihannya sangat beragam.&nbsp;\n\n\n\nSeperti apa rasa furikake?&nbsp;\n\n\n\nTentu saja rasanya akan berbeda, tergantung jenis furikake yang Anda pilih. Namun, profil rasanya tetap serupa karena bahan dasarnya sama. Umumnya, furikake mengandung ikan dan nori kering; dua bahan yang sama-sama memiliki cita rasa umami yang kuat!&nbsp;\n\n\n\nDaripada menambahkan bawang goreng pada nasi goreng Kanton praktis, coba taburi furikake!\n\n\n\nBiji wijen dan telur memperkaya resep ini, sekaligus memberi sentuhan gurih dengan aroma kacang dan asap. Kebanyakan furikake mengandung garam, gula, dan monosodium glutamat, yang semakin memperkuat rasa umaminya. Dengan teksturnya yang renyah, furikake memberi sentuhan akhir yang gurih pada hidangan Anda.\n\n\n\nFurikake dalam masakan\n\n\n\nBiasanya, orang Jepang menaburkannya di atas nasi putih, onigiri, sushi, serta hidangan ikan atau sayuran. Namun, kelebihan furikake adalah Anda bisa menggunakannya sesuka hati\u2026&nbsp;\n\n\n\nBahan ini sangat serbaguna dan mudah dipadukan ke dalam banyak resep. Misalnya, furikake sangat cocok untuk menyempurnakan hidangan sayur, mi, salad\u2026 Bahkan ada yang menaburkannya di atas popcorn! Furikake juga kerap digunakan sebagai campuran pelapis tepung untuk ikan atau daging.\n\n\n\nBagaimana mengganti furikake?\n\n\n\nMengganti furikake cukup mudah. Anda hanya perlu menggunakan bahan-bahan utamanya, yaitu garam dan biji wijen. Taburkan fleur de sel atau garam laut serta biji wijen sangrai di atas hidangan Anda.&nbsp;\n\n\n\nAnda juga bisa menambahkan lembaran nori jika ada di dapur. Cincang halus sebelum mencampurkannya ke dalam hidangan. Alternatif lain: gunakan shichimi togarashi. Rasanya lebih pedas, tetapi sama-sama efektif untuk mengangkat cita rasa hidangan Anda.&nbsp;\n\n\n\nFurikake dan shichimi togarashi, apa bedanya?\n\n\n\nFurikake dan shichimi togarashi memiliki banyak kesamaan, terutama karena keduanya merupakan bumbu tabur khas Jepang. Keduanya sama-sama mengandung bahan yang dicincang, digiling, atau dikeringkan, seperti rumput laut, nori, atau biji wijen.&nbsp;\n\n\n\nNamun, komposisi dan perpaduan bahannya tidak sepenuhnya sama. Berbeda dengan furikake, shichimi togarashi memiliki rasa yang lebih pedas. \n\n\n\nBumbu ini mengandung cabai, dan dalam beberapa resep, bisa juga ditemukan serpihan cabai, lada Sichuan, kulit jeruk kering, jahe, biji poppy\u2026 Singkatnya, perpaduan lengkap untuk pencinta rasa pedas!&nbsp;\n\n\n\nManfaat furikake\n\n\n\nSekali lagi, semuanya bergantung pada jenis yang dipilih. Karena banyak furikake mengandung cukup banyak garam, bumbu ini juga menjadi sumber yodium. Namun, tetap jangan mengonsumsinya secara berlebihan. \n\n\n\nDalam jumlah berlebihan, garam dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Furikake juga merupakan sumber protein yang baik berkat kandungan ikan kering di dalamnya.&nbsp;\n\n\n\nDi mana menemukan furikake?&nbsp;\n\n\n\nFurikake mudah ditemukan di toko bahan makanan Asia atau secara online. Meski jarang, kadang bumbu ini juga tersedia di beberapa supermarket besar, tetapi toko khusus tetap menjadi pilihan paling aman.&nbsp;\n\n\n\nAnda juga bisa meracik campuran sendiri di rumah! Anda membutuhkan bahan-bahan dasar seperti bonito kering (yang juga digunakan untuk membuat dashi), kombu, garam, nori, biji wijen, serta gula, mirin, dan kecap asin. Ada begitu banyak cara membuat furikake, jadi silakan sesuaikan dengan selera Anda!&nbsp;\n\n\n\nBagaimana menyimpan furikake?&nbsp;\n\n\n\nSeperti kebanyakan bumbu, simpan furikake di tempat yang kering dan terlindung dari cahaya. Simpan dalam wadah kedap udara, dan furikake bisa bertahan selama beberapa minggu.\n\n\n\n\n\n\tFurikake (bumbu tabur untuk nasi Jepang)\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t15 g katsuobushi (Tambahkan 50% lebih banyak jika menggunakan katsuobushi bekas pakai)20 g kombu (Anda bisa memakai kembali kombu sisa setelah membuat mentsuyu atau dashi)1 sendok makan aonori (rumput laut hijau kering)3 sendok makan biji wijen putih (disangrai terlebih dahulu)1 sendok makan biji wijen hitam (disangrai terlebih dahulu)Bumbu1.5 sendok teh gula (tambahkan sesuai selera)0.25 sendok teh garam1 sendok teh mirin1 sendok teh kecap asin ringan0.5 sendok teh minyak wijenBahan tambahan (setelah dingin)1 lembar nori (rumput laut kering)1 sendok teh aonori (rumput laut hijau kering)1 sendok teh bubuk shiitake kering\t\n\t\n\t\tPastikan katsuobushi yang digunakan sudah benar-benar tiris. Cincang kasar dengan pisau.Iris kombu tipis-tipis, lalu potong lagi menjadi bagian yang lebih kecil.MemasakMasukkan katsuobushi, aonori, dan kombu bekas pakai ke dalam wajan tanpa minyak.Nyalakan api sedang-kecil, lalu masak sambil terus diaduk hingga katsuobushi kering dan bertekstur serpih.Tambahkan gula, mirin, garam, kecap asin ringan, dan minyak wijen. Kecilkan api, lalu aduk sering selama beberapa menit hingga semua bahan tercampur rata.Pindahkan campuran ke loyang yang dilapisi kertas roti. Ratakan, lalu biarkan hingga benar-benar dingin.Setelah dingin, potong lembar nori menjadi bagian-bagian kecil.Tambahkan potongan nori, bubuk shiitake, dan aonori tambahan ke dalam furikake yang sudah dingin, lalu aduk rata.Setelah campuran dingin dan agak kering, masukkan semua bahan ke dalam blender lalu proses sebentar. Jangan sampai menjadi bubuk halus; teksturnya sebaiknya masih agak kasar.Cicipi furikake, lalu sesuaikan rasanya dengan menambahkan lebih banyak garam atau gula bila perlu.Tambahkan biji wijen ke dalam campuran tanpa diblender, lalu aduk rata.\t\n\t\n\t\tSimpan di lemari es hingga 2 minggu atau di freezer hingga 1 bulan.\n\t\n\t\n\t\tCondimentJaponaiseassaisonnement pour riz, furikake","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157587","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157587"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157587\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4895"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157587"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157587"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157587"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}