{"id":157574,"title":"Ramen: Penjelasan dan Resep Sederhana","modified":"2026-07-18T14:36:57+02:00","plain":"Apa itu ramen?&nbsp;\n\n\n\nRamen adalah hidangan khas dalam masakan tradisional Jepang yang pada dasarnya terdiri atas mi gandum, kaldu, tare (saus dasar), sayuran, dan daging. \n\n\n\nDengan beragam topping, ramen adalah hidangan yang sangat fleksibel dan bisa dibuat dalam ratusan versi berbeda. Mulai dari mi tipis dan keriting hingga yang tebal dan lurus, dari daging sapi atau babi hingga ikan, ditambah aneka sayuran dan\/atau bumbu, Anda pasti bisa meracik semangkuk ramen sesuai selera. \n\n\n\nRamen paling sering diberi topping seperti telur marinasi Jepang, kamaboko seperti narutomaki, daun bawang cincang, irisan bambu, rumput laut kering, jagung\u2026 Banyak pilihan yang bisa jadi inspirasi! Paling nikmat disantap ala Jepang, dengan sumpit dan sendok.&nbsp;\n\n\n\nResep telur marinasi saya untuk ramen\n\n\n\nJenis-jenis ramen\n\n\n\nAda 9 kategori utama ramen: \n\n\n\n\nRamen shoyu disajikan dengan kaldu berbahan dasar ayam dan kecap asin. \n\n\n\nShio ramen juga menggunakan kaldu ayam, tetapi dengan cita rasa yang asin. Ini kemungkinan merupakan salah satu kaldu yang paling ringan. \n\n\n\nRamen miso menggunakan mi yang lebih tebal dan lebih mengenyangkan, dalam kaldu kaya rasa berbahan dasar miso. \n\n\n\nRamen tonkotsu. Dibuat dengan kaldu yang lebih kaya, dari tulang babi yang direbus lama.\n\n\n\nRamen tantanmen: ramen tantanmen adalah turunan dari hidangan Tiongkok dan dan mian khas Sichuan. Sekilas, tampilannya yang jingga kemerahan langsung menunjukkan bahwa ini adalah ramen pedas. Ciri khas lain dari tantanmen adalah penggunaan minyak wijen dan gundukan kecil daging cincang di atasnya.\n\n\n\nRamen tsukemen: Tsukemen (mi celup) adalah jenis ramen yang menyajikan mi dan sup secara terpisah. Untuk menikmatinya, Anda harus mencelupkan mi ke dalam sup kental sebelum disantap. Mi tsukemen sering kali kenyal dan bisa disajikan dingin atau panas, tergantung restorannya. Kaldunya hadir dalam berbagai versi; kebanyakan kental, mirip saus, dan sangat kaya rasa.\n\n\n\nRamen kari: Ramen kari pada dasarnya \u201chanya\u201d mi ramen dengan saus kari. Mi yang digunakan biasanya lebih tebal daripada jenis ramen lainnya. Kari yang dipakai bisa berkisar dari manis hingga pedas, dengan versi manis yang lebih umum di Jepang.\n\n\n\nMaze soba: Maze (campur) soba mendapatkan namanya karena topping dan mi harus diaduk terlebih dahulu sebelum dimakan. Tidak seperti kebanyakan jenis ramen, maze soba disajikan kering. Di beberapa restoran, maze soba juga bisa disebut abura soba (\u6cb9 \u305d \u3070) atau abura ramen (\u6cb9 \u30e9 \u30fc \u30e1 \u30f3). \u201cAbura\u201d berarti minyak, yang juga merujuk pada minyak aromatik yang digunakan dalam pembuatannya.\n\n\n\nRamen dingin: Hidangan khas musim panas ini umumnya disebut hiyashi chuka (\u51b7\u3084\u3057\u4e2d\u83ef). Hidangan ini disajikan dingin, dengan atau tanpa kaldu, lalu ditemani buah sitrus seperti jeruk nipis, lemon, atau yuzu untuk memberi rasa segar. Menyantap ramen dingin akan membuat Anda melupakan panas musim panas yang menyengat di Jepang.\n\n\n\n\nShio ramen dengan kaldu ambar yang kaya\n\n\n\nJenis-jenis kaldu ramen\n\n\n\nAda dua jenis utama:\n\n\n\nKaldu yang dikenal sebagai Chintan (\u6e05\u6e6f\u3001\u30c1\u30f3\u30bf\u30f3) : Chintan berarti \u201csup bening\u201d, dan istilah ini berasal dari bahasa Tionghoa. Chintan merujuk pada jenis ramen dengan dasar kaldu bening, yang cenderung memiliki rasa lebih ringan dan lembut. Jenis ramen yang tergolong chintan adalah ramen shoyu dan ramen shio.\n\n\n\nKaldu yang dikenal sebagai Paitan (\u767d\u6e6f\u3001\u30d1\u30a4\u30bf\u30f3) : Paitan, istilah yang juga berasal dari bahasa Tionghoa, berarti \u201csup putih\u201d. Paitan merujuk pada jenis ramen yang memiliki kaldu keruh, pekat seperti susu, dan opak &#8211; warnanya tidak harus putih. Sup ramen tonkotsu adalah salah satu contoh paitan.\n\n\n\nAsal-usul ramen\n\n\n\nMeski kini ramen menjadi salah satu ikon masakan Jepang, tidak selalu demikian. Pada mulanya, hidangan ini memang berasal dari Tiongkok. \n\n\n\nSecara umum diyakini bahwa sejak tahun 1635, Jepang menutup semua perbatasannya dan menolak pengaruh asing, kecuali di Nagasaki. Nagasaki pun menjadi salah satu pintu masuk budaya asing ke Jepang. Dari sanalah orang Tionghoa membawa sup dan mi mereka (yang saat itu disebut champon, sup mi yang berasal dari Nagasaki). \n\n\n\nPada akhirnya, ramen benar-benar lahir dari perpaduan antara kuliner Tiongkok dan masakan Jepang.&nbsp;\n\n\n\nKekayaan kuliner Jepang juga tak berhenti sampai di situ: setiap wilayah di Jepang memiliki hidangan ramen khasnya sendiri yang mencerminkan iklim dan lingkungan setempat. Kini, ramen pun semakin digemari di berbagai negara. Jadi, bukan hal yang aneh jika Anda menemukan beberapa kedai kecil di sekitar tempat tinggal Anda yang menyajikannya.\n\n\n\nMi ramen vs mi udon\n\n\n\nMi ramen dan mi udon cukup mirip dari segi rasa. Perbedaan utamanya ada pada ukuran: mi udon lebarnya antara 3 hingga 4,5 milimeter, sedangkan mi ramen sekitar 1,5 milimeter. \n\n\n\n\n\n\n\nSemua mi pada dasarnya dibuat dari tepung gandum, garam, air, dan kansui (mineral alkali), yang memberi tekstur kenyal dan warna kuning khas. Berbeda dengan mi udon yang tidak mengandung kansui. Karena itu, mi udon berwarna putih dan cenderung lurus, bukan kuning dan keriting. Mi ini secara tradisional disajikan dengan kaldu yang lebih ringan.\n\n\n\nBagaimana cara memasak mi untuk ramen?\n\n\n\nRamen sering dianggap sebagai hidangan instan yang praktis dan mudah dimasak. Memang benar, hidangan ini bukan hanya fleksibel, tetapi juga cepat dibuat. Di pasaran tersedia beragam mi instan yang hampir siap disantap. \n\n\n\n\n\n\n\nAnda hanya perlu menuangkan air ke dalam wadah, lalu mengikuti petunjuk memasak yang tertera, dan hidangan Anda pun segera siap. Namun, Anda juga bisa menemukan mi segar di toko bahan makanan Jepang. \n\n\n\nJika Anda ingin membuat mi sendiri, banyak situs yang menyediakan panduan untuk membantu Anda dalam prosesnya. Mi segar biasanya dimasak selama 1 hingga 2 menit sebelum ditiriskan dan dimasukkan ke dalam kaldu. Hidangan yang mudah dibuat oleh siapa saja!\n\n\n\nTonkatsu babi sering dijadikan topping ramen\n\n\n\nBagaimana mengganti mi untuk ramen?\n\n\n\nTidak menemukan mi kering untuk ramen? Tidak masalah. Anda bisa menggunakan mi somen, jenis mi Jepang lainnya, atau mi beras. Jika tak ada semuanya, pasta vermicelli Italia juga bisa menjadi pengganti mi ramen tradisional.\n\n\n\nBagaimana membuat ramen rumahan? \n\n\n\nArtikel ini bukan panduan lengkap dari A sampai Z untuk membuat ramen yang rasanya lebih enak daripada di restoran. Tujuannya adalah memperkenalkan dasar-dasarnya, dan hal yang sama juga berlaku untuk resep di bawah ini. Kaldunya sederhana dan mudah dibuat dengan bahan-bahan yang sangat mudah ditemukan, tetapi rasanya tetap lezat. \n\n\n\nSiapa pun bisa membuatnya! Perut babi memang berlemak, tetapi justru itulah yang memberi rasa luar biasa pada kuah, dan dagingnya sendiri bisa dijadikan topping. Cukup dinginkan kuah, lalu buang kelebihan lemak yang mengeras di permukaan. \n\n\n\nJika suka, ganti daging babi dalam resep ini dengan chashu babi saya, yang merupakan topping ramen tradisional\n\n\n\nChashu babi\n\n\n\nSeperti disebutkan di atas, kombinasi rasa untuk kaldu ramen sangat beragam. Jadi, kalau Anda ingin bereksperimen dengan berbagai bahan, silakan saja. Semoga Anda menemukan cita rasa ramen yang paling Anda sukai&nbsp;!\n\n\n\nCara memasak bahan-bahan untuk ramen\n\n\n\nBerikut tabel umum yang merangkum lama memasak tiap bahan agar gelatinanya terekstraksi dengan baik\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\tShoyu Ramen Jepang Otentik\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tDaging babi asin450 g perut babi (utuh, jangan dipotong)2 sendok teh garamKaldu1.5 liter air30 g jahe (diiris)3 siung bawang putih (dikupas)1 ikat daun bawang4 sendok makan kecap asin ringan3 sendok makan sake1 sendok teh garam1 sendok makan minyak wijenMi4 ikat mi ramen keringPelengkaptelur setengah matang (belah dua)taoge (blansir sebentar)daun bawang (iris tipis)\t\n\t\n\t\tLumuri daging babi dengan garam, lalu diamkan semalaman di lemari es.Masukkan air, jahe, bawang putih, daun bawang, dan daging babi asin ke dalam panci, lalu didihkan dengan api besar.Buang buih dan kotoran lain yang mengapung di permukaan. Tutup panci, kecilkan api, lalu masak perlahan selama 1,5 hingga 2 jam.Biarkan kaldu dan daging babi benar-benar dingin di dalam panci. Saring, lalu simpan kaldu dan daging babi secara terpisah.Dinginkan kaldu di lemari es setidaknya selama beberapa jam atau semalaman, lalu buang lemak yang mengeras. Simpan juga daging babi matang di lemari es agar mudah diiris nantinya.Siapkan juga pelengkap lain\u2014telur setengah matang, taoge yang diblansir, dan daun bawang iris\u2014sebelum menyiapkan kaldu dan mi. Setelah mi matang, kuah dan pelengkap harus segera ditambahkan; jika tidak, mi akan menjadi terlalu lembek dan Anda tidak akan sempat menyiapkan topping.Didihkan kembali kaldu, lalu tambahkan kecap asin, sake, garam, dan minyak wijen. Kecilkan api dan biarkan mendidih perlahan hingga mi siap.Masak mi ramen kering sesuai petunjuk pada kemasan. Sesaat sebelum mi matang, tuangkan kaldu ke dalam mangkuk saji.Tiriskan mi, lalu segera bagi ke dalam mangkuk saji.Tambahkan telur setengah matang, taoge, daun bawang, dan irisan daging babi sebagai topping.\t\n\t\n\t\tUntuk pelengkap ramen yang populer: lada putih memberi sedikit sensasi pedas dan aroma hangat, bawang putih parut menghadirkan rasa bawang yang kuat, dan minyak cabai menambah kepedasan.Anda juga bisa merendam telur setengah matang dalam saus berbahan dasar kecap asin untuk membuat Ajitama.\n\t\n\t\n\t\tSoupes et bouillonsJaponaiseporc sal\u00e9, Ramen, shoyu ramen","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157574","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157574"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157574\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2982"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157574"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157574"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157574"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}