{"id":157570,"title":"Ayam Lemon ala Cina","modified":"2026-07-18T14:36:44+02:00","plain":"Seperti sepupu jauhnya dari Cina, yaitu ayam jeruk, versi lemon ini dijamin tidak akan mengecewakan!\n\n\n\nBagi yang belum familiar, nama ayam lemon\u2014hidangan Cina berupa ayam goreng yang dilapisi saus asam manis\u2014mungkin terdengar kurang meyakinkan. Namun, sejauh ini saya belum pernah bertemu orang yang tidak langsung jatuh hati setelah mencicipinya. Kreasi Tionghoa-Amerika ini memang juara.\n\n\n\nAyam jeruk yang menggugah selera\n\n\n\nBahan-bahan untuk ayam lemon ala Cina\n\n\n\nJika kamu ingin tahu lebih banyak tentang cuka beras dan cara menggunakannya dalam berbagai resep, kunjungi artikel lengkap saya tentang bahan ini\n\n\n\nKecap asin light tersedia di sebagian besar supermarket besar, dan pada dasarnya ini adalah kecap asin biasa. Jangan sampai tertukar dengan kecap asin dark\n\n\n\nAnggur Shaoxing adalah bahan penting yang sebaiknya selalu tersedia di dapur untuk banyak resep di situs saya. Kalau belum punya, lihat di sini untuk mengetahui bahan penggantinya, tetapi saya tetap sangat menyarankan untuk membelinya\n\n\n\n babi merah yang lezat, salah satu hidangan klasik Cina, dibuat dengan anggur Shaoxing\n\n\n\nTips membuat ayam lemon ala Cina\n\n\n\nPastikan tidak menggoreng terlalu banyak potongan ayam sekaligus agar tidak saling menempel. Saya biasanya menggoreng sekitar 6 hingga 8 potong sekali jalan saat menggunakan penggorengan Asia kecil saya.\n\n\n\nHidangan ini paling enak disajikan segera. Tepung pelapis khusus saya memang cukup tahan renyah, tetapi lama-kelamaan saus tetap akan membuat ayam goreng tepungnya melembek.\n\n\n\nGunakan termometer masak untuk memastikan minyak berada pada suhu yang tepat. Jika minyak terlalu panas, bagian luar ayam bisa gosong sebelum bagian dalamnya matang. Sebaliknya, jika minyak terlalu dingin, ayam akan menyerap lebih banyak minyak dan hasilnya jadi berat serta berminyak (lemak memang nikmat, tapi tetap secukupnya).\n\n\n\nResep nasi goreng ala Kanton saya sangat cocok disajikan bersama hidangan ini\n\n\n\nJika ingin menyisakannya untuk hari berikutnya, simpan sebagian ayam renyah terpisah dari sausnya. Dengan begitu, ayam dan saus bisa dipanaskan kembali secara terpisah, dan rasa serta teksturnya tetap terjaga. Bahkan, yang paling ideal adalah membekukan ayam lemon (tanpa saus) setelah penggorengan pertama, lalu menggorengnya kembali saat akan disajikan. Prinsipnya mirip seperti kentang goreng beku.\n\n\n\nBoleh gunakan dada ayam, tetapi paha ayam jelas memberikan rasa terbaik.\n\n\n\nResep lain yang mirip dengan ayam lemon goreng tepung\n\n\n\nJika kamu menyukai perpaduan rasanya, saya sangat menyarankan untuk mencoba ayam bawang putih madu \n\n\n\n\n\n\tAyam Lemon ala Cina\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tMARINASI3 sendok makan  kecap asin light3 sendok makan  arak Shaoxing1 sendok makan  cuka beras300 g daging paha ayam atas, potong daduUNTUK SAUS5 sendok makan  jus lemon3 sendok makan  gula (atau lebih, sesuai selera)7 sendok makan  air1 sejumput  garam1 sendok makan  maizenaTEPUNG PANIR SUPER RENYAH1 porsi tepung panir serbaguna\t\n\t\n\t\tMarinasikan ayam selama 2 jam.Panaskan minyak hingga 200 derajat.Keluarkan ayam dari marinasi, lalu balurkan dengan tepung panir. Goreng semua potongan sekali (4-5 menit) dalam beberapa batch kecil, lalu tiriskan di piring beralas tisu dapur (atau, idealnya, di atas rak kawat).Setelah semua potongan selesai digoreng, goreng kembali untuk kedua kalinya hingga berwarna keemasan pekat, nyaris oranye.Masukkan semua bahan saus ke dalam panci, lalu masak dengan api kecil sambil diaduk hingga mengental. Matikan api, masukkan ayam, lalu aduk hingga terbalut rata.","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157570","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157570"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157570\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157570"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157570"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157570"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}