{"id":157516,"title":"Mul\u2011Naengmyeon Autentik","modified":"2026-07-18T14:34:50+02:00","plain":"Temukan hidangan mi dingin khas Korea Utara yang disajikan dalam kaldu sapi yang menyegarkan\n\n\n\nSendok berdenting pelan di mangkuk logam, tanpa kepulan uap, dalam keheningan yang lembut.&nbsp;Anda mengangkat mangkuk ke bibir, menghirup aroma samar gandum kuda, lalu meneguk seruputan dingin pertama itu&nbsp;: kaldu sebening salju cair, tetapi menyimpan jejak lemak&nbsp;sapi dan sentuhan asam kimchi lobak.&nbsp;\n\n\n\nHidangan ini benar-benar berlawanan dengan yakisoba Jepang\n\n\n\nmul\u2011naengmyeon&nbsp;dari Pyongyang, yang pada&nbsp;2022 masuk ke Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO dengan nama \u201ctradisi Pyongyang&nbsp;Raengmyon\u201d, bukanlah hidangan yang mencari perhatian&nbsp;; pesonanya justru muncul lewat kesederhanaan yang tenang.&nbsp;\n\n\n\nKejeniusannya terletak pada kesahajaan&nbsp;: setiap unsur dipangkas hingga ke inti, sampai yang tersisa hanyalah rasa paling murni. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri jejaknya hingga abad ke-XIXe, mengurai semangkuk versi klasiknya, membahas perdebatan modern seputar mi dan kaldu, serta merumuskan prinsip-prinsip utama untuk menikmati, atau meracik, mahakarya dingin Anda sendiri di musim dingin.\n\n\n\nDari hidangan titik balik matahari musim dingin hingga warisan UNESCO\n\n\n\nKronikus Korea Hong&nbsp;Seok\u2011mo mencatat, dalam Dongguk&nbsp;Sesigi&nbsp;tahun&nbsp;1849, bahwa keluarga-keluarga di Pyongyang menyeruput mi dingin saat titik balik matahari musim dingin, ketika tempayan lobak&nbsp;dongchimi&nbsp;yang baru dikubur mulai mengeluarkan air asinan yang bergelembung.&nbsp;Di Korea Utara, hidangan ini kemudian melambangkan dua anugerah&nbsp;: umur panjang, karena mi disajikan utuh dan menantang Anda untuk \u201cmenyantap hidup\u201d dalam satu tarikan, serta keramahtamahan, ketika tuan rumah berbagi daging&nbsp;sapi musim dingin yang langka.&nbsp;\n\n\n\nHidangan Korea lain yang belum banyak dikenal adalah gochu twigim\n\n\n\nPada tahun&nbsp;1940-an, penyair Baek&nbsp;Seok menangkap suasana ini dengan memuji semangkuk hidangan yang \u201clembut, sederhana, sedikit berasap, seperti air di bawah selapis es tipis\u201d (terjemahan Inggris dari bait hisu\u2011murehago \u2026 seumsumhan).&nbsp;Tradisi ini melintasi perang dan perbatasan, lalu akhirnya tercatat pada&nbsp;2022 dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO.\n\n\n\nKomponen semangkuk Mul\u2011Naengmyeon autentik\n\n\n\n\n\n\n\nMi soba\n\n\n\nMi soba tampil sederhana: berwarna abu-abu kusam dan nyaris rapuh karena mengandung 70&nbsp;\u2013&nbsp;80&nbsp;% gandum kuda.&nbsp;Adonannya ditekan langsung ke dalam air mendidih, lalu segera dikejutkan dalam es, sehingga cukup kencang untuk diseruput, tetapi mudah putus jika digigit sembarangan.&nbsp;Dibandingkan dengan mi Hamhung yang gelap dan kenyal, helaian gaya Pyongyang lebih menyerupai tali halus yang lentur.\n\n\n\nKaldu dingin yang bening\n\n\n\nKaldu aslinya dibangun dari dua unsur. Dalam satu panci, daging sapi, kadang ayam, bahkan pegar dalam teks-teks lama, direbus perlahan hingga menghasilkan kaldu yang bening dan sedikit manis. Setelah didinginkan dan dibuang lemaknya, kaldu ini dicampur dalam perbandingan seimbang dengan air asinan dongchimi musim dingin yang bergelembung. \n\n\n\nBumbunya pun sederhana, cukup garam dan sedikit kecap asin ringan. Saat disajikan sangat dingin, permukaan kaldu seharusnya menampakkan kristal-kristal bening: bukti bahwa sang juru masak menjaga suhu seteliti ia menjaga rasa.\n\n\n\nPelengkap yang minimalis\n\n\n\nIrisan tipis brisket&nbsp;sapi menutupi sarang mi.&nbsp;Lobak dan mentimun acar menegaskan kesegaran kaldu, sementara seiris pir Korea memberi aroma lembut.&nbsp;Setengah telur rebus melengkapi sajian ini&nbsp;; beberapa kacang pinus menjadi sentuhan mewah yang halus.&nbsp;\n\n\n\nCuka dan mustard disajikan terpisah; penyesuaian rasa sepenuhnya terserah Anda. Ritual gastronomi ini adalah salah satu permata masakan Korea.\n\n\n\n\n\n\tMul\u2011Naengmyeon Autentik\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tMi360 g mi soba (berat kering)3 L air30 g kacang pinusDaging sapi dan kaldu300 g brisket sapi2.2 L air20 g daun bawang20 g bawang putihBumbu kaldu10 g kecap asin25 g garam25 g gula45 g cuka beras6.5 g batang sawi fermentasiMentimun50 g mentimun1 g garamDaikon100 g daikon1 g garam2 g gula1.1 g bubuk cabai merah (halus)15 g cuka berasPir Korea100 g pir Korea100 ml air4 g gulaTelur2 telur1 L air4 g garam\t\n\t\n\t\tMenyiapkan daging sapi dan kalduLap sisa darah pada brisket sapi. Potong daun bawang dan bawang putih, lalu cuci semuanya.Masukkan brisket sapi dan air ke dalam panci.Didihkan dengan api besar selama sekitar 10 menit.Kecilkan api ke sedang, lalu biarkan mendidih perlahan selama sekitar 1 jam.Tambahkan daun bawang dan bawang putih.Kecilkan api ke kecil, lalu biarkan mendidih perlahan selama 30 menit lagi.Angkat brisket sapi, lalu biarkan dingin.Potong brisket sapi menjadi irisan selebar 4 cm, panjang 2 cm, dan tebal 0.2 cm.Saring kaldu dengan kain tipis.Tambahkan kecap asin, garam, gula, cuka beras, dan batang sawi fermentasi ke dalam kaldu yang sudah disaring.Simpan kaldu di lemari es hingga dingin (kaldu harus disajikan dalam keadaan dingin).Menyiapkan pelengkapMentimunGosok mentimun dengan garam.Cuci mentimun.Belah mentimun memanjang menjadi dua, lalu iris setebal 0.2 cm.Rendam mentimun dalam air garam selama sekitar 20 menit.DaikonCuci daikon hingga bersih.Potong daikon sepanjang 5 cm, lebar 1.5 cm, dan tebal 0.2 cm.Tambahkan garam, gula, bubuk cabai merah, dan cuka ke daikon.Marinasikan daikon selama sekitar 20 menit.Pir KoreaKupas pir Korea.Iris pir Korea tipis-tipis berbentuk setengah bulan dengan ketebalan sekitar 0.2 cm.Rendam pir Korea dalam air gula.Menyiapkan telurMasukkan telur, air, dan garam ke dalam panci.Rebus dengan api besar selama sekitar 5 menit.Kecilkan api ke sedang, lalu rebus selama sekitar 12 menit.Rendam telur dalam air.Kupas telur.Belah telur memanjang menjadi dua bagian.Memasak mi dan penyajianDidihkan air dalam panci dengan api besar selama sekitar 12 menit.Tambahkan mi soba dingin.Rebus mi soba selama sekitar 2 menit.Bilas mi soba dengan air dingin.Masukkan mi soba ke dalam saringan, lalu tiriskan hingga benar-benar tiris.Masukkan mi soba ke dalam mangkuk.Tambahkan irisan brisket sapi, mentimun, daikon, pir Korea, telur, dan pelengkap lain seperti kacang pinus.Tuang kaldu dingin di atasnya.\t\n\t\n\t\tKaldu harus benar-benar dingin saat hidangan tradisional Korea ini disajikan. Anda juga bisa menambahkan es batu ke dalam kaldu untuk sensasi yang lebih menyegarkan.\n\t\n\t\n\t\tPlat principal, Soupes et bouillonsCor\u00e9enne\t\n\n\n\n\n\nSumber kuliner\n\n\n\n\nTradisi raengmyeon Pyongyang \u2013 Warisan budaya takbenda (UNESCO)\n\n\n\nPyongyang naengmyeon \u2013 kronik \u201cAh! Korea\u201d (World Korean News)\n\n\n\nNaengmyeon \u2013 Wikipedia\n\n\n\nPerdebatan seputar Pyongyang naengmyeon (Brunch)\n\n\n\nSemua orang menyukai naengmyeon Pyongyang! Tahukah Anda resepnya? (DailyNK)\n\n\n\nKoreaNet \u2013 Seri resep Korea: naengmyeon\n\n\n\nSitus resmi Myeon Sarang \u2013 paket naengmyeon Pyongyang\n\n\n\nMengapa kuah dongchimi menghilang dari Pyongyang naengmyeon di Seoul? (Chosun)\n\n\n\nUraeok, yang dianggap sebagai restoran terbaik bagi pencinta Pyongyang naengmyeon (MK Business)\n\n\n\n\u201cApakah Pyongyang naengmyeon hambar?\u201d Kebenaran tentang rasanya (Segye Ilbo)\n\n\n\nSejarah Pyongyang naengmyeon di Korea Utara dan Selatan (Blog Tistory)\n\n\n\nKisah dua Korea: mi dingin Pyongyang, cita rasa persatuan (Korea Foundation)\n\n\n\nHidangan ikonis Korea Utara: Pyongyang naengmyeon (Video AFP)\n\n\n\nNaengmyeon: surat cinta hangat untuk mi dingin (Koryo Tours)","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157516","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157516"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157516\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35170"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157516"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157516"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157516"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}