{"id":157388,"title":"Ayam Tumis Basil Suci Thailand (Pad Kapao)","modified":"2026-07-18T14:31:52+02:00","plain":"Saat seorang pedagang menjatuhkan daging babi cincang ke dalam wok yang membara, udara siang di Bangkok seketika berubah. Bawang putih dan cabai rawit bird&rsquo;s eye menyambar minyak panas dan melepaskan uap yang tajam. Segenggam daun bergerigi dari&nbsp;basil suci&nbsp;kemudian layu di tengah desisan, memenuhi seluruh gang dengan aroma cengkih, lada, dan asap.\n\n\n\nAroma yang tak tertandingi ini menjelaskan mengapa orang Thailand menyebut pad&nbsp;ka&nbsp;prao sebagai menu singkhit. Hidangan ini biasa dipesan saat tak tahu ingin makan apa.&nbsp;\n\n\n\nMasakan Thailand yang sangat populer ini punya banyak nama dalam bahasa Prancis: Pad Kra Pao, Pad Ka Prao, Pad Ka Pow, Pad Krapow, dan lain-lain. \u00ab&nbsp;Pad gaprao&nbsp;\u00bb adalah ejaan yang paling mendekati pengucapan aslinya, tetapi justru tampaknya paling jarang dipakai karena kebanyakan orang Thailand sendiri sejak awal mengucapkannya sedikit berbeda&nbsp;!\n\n\n\nApa pun namanya, semuanya merujuk pada tumisan yang sama: lezat, rumahan, sedikit pedas, dengan aroma basil suci yang khas. Untuk penyajian yang benar-benar tradisional, sajikan di atas nasi dan lengkapi dengan telur mata sapi!\n\n\n\nMakanan cepat saji khas Thailand\n\n\n\nPad&nbsp;ka&nbsp;prao ternyata tidak setua yang dibayangkan. Para sejarawan kuliner menelusuri kemunculannya hingga akhir tahun&nbsp;1950-an, ketika teknik tumis dari Tiongkok bertemu dengan basil suci asli Thailand. Pada&nbsp;1957, pedagang keliling sudah menjual campuran pedas daging cincang dan herba ini di atas nasi&nbsp;; sebelas tahun kemudian, sebuah buku resep peringatan mencatat apa yang masih dianggap para puris sebagai versi cetak pertamanya.\n\n\n\nSeperti pad ka pao, Pad prik gaeng bisa dibuat dengan berbagai jenis protein: yang penting adalah teknik memasaknya\n\n\n\nResep aslinya sesederhana ini&nbsp;: daging cincang, ulekan kasar bawang putih dan dua jenis cabai, lalu saus ikan. Beberapa butir lada putih, sedikit akar ketumbar, sejumput gula, dan sedikit MSG melengkapi semuanya, tepat sebelum segenggam terakhir basil suci dimasukkan. Tanpa saus tiram, tanpa sayuran.&nbsp;\n\n\n\nDi Thailand, hidangan ini bisa dibilang setara dengan sandwich atau burger: cepat, mudah, tersedia di mana-mana, dan menjadi pilihan banyak orang untuk makan siang.\n\n\n\nBasil dimasukkan ke dalam hidangan setelah matang\n\n\n\nAnda bisa menemukan ayam tumis basil suci Thailand ini, baik di warung kaki lima pinggir jalan maupun di pujasera, dan seperti disebutkan sebelumnya, banyak orang menikmatinya saat makan siang. \n\n\n\nKadang penjual memasaknya segar di depan Anda; di lain waktu, hidangan ini sudah disiapkan dalam baki besar ala prasmanan lalu disendokkan di atas nasi melati hangat.\n\n\n\nBagaimana cara menggoreng telur ala Thailand?\n\n\n\nJadi, Anda bisa menyajikan hidangan ini begitu saja dengan nasi, tetapi hampir semua orang memesannya dengan&nbsp;khai dao, telur goreng bergelembung dengan tepian bergerigi yang renyah saat digigit. Kuning telurnya membantu meredakan pedas cabai. Semangkuk kecil&nbsp;prik nam pla&nbsp;(saus ikan, air jeruk nipis, dan irisan cabai mentah) biasanya disajikan di samping, siap menyegarkan setiap suapan.\n\n\n\n Dan tentu saja ada pasangan sendok-garpu&nbsp;: sendok di tangan kanan, garpu untuk mendorong suapan, agar setiap gigitan membawa cukup nasi untuk meredam pedasnya.\n\n\n\n\n\n\n\nKombinasi klasik ini disebut \u00ab&nbsp;kao pad gaprao gai kai dao&nbsp;\u00bb, yang secara sederhana berarti nasi dengan ayam tumis basil suci dan telur mata sapi. \n\n\n\nTelur mata sapi ala Thailand digoreng dalam BANYAK minyak karena kunci metode ini terletak pada tepi putih telur yang harus keemasan dan bergelembung.\n\n\n\nKelembutan telur yang masih sedikit lumer menyeimbangkan rasa tumisan yang kuat dan pedas; itulah sebabnya kombinasi ini begitu digemari.\n\n\n\nBagaimana jika saya tidak ingin ayam?\n\n\n\nWalaupun versi ayam paling populer, Anda bisa menyiapkannya dengan hampir semua jenis protein yang bisa dibayangkan. \n\n\n\nBabi, sapi (resep pad gra prow saya), hidangan laut, atau bahkan versi vegetarian berbahan tahu, seitan, tempe, dan\/atau jamur. Jadi, kalau ayam bukan pilihan Anda, silakan bereksperimen! Tapi hasilnya wajib dikirim ke saya, hehe. \n\n\n\nResep ini menggunakan daging cincang karena itulah versi pad kapao yang paling klasik dan paling \u201cstreet\u201d, tetapi Anda juga bisa menggantinya dengan irisan daging tipis. \n\n\n\nTapi ya, saya BENAR-BENAR merasa hidangan ini lebih enak dengan daging cincang; silakan dipakai atau diabaikan info ini.\n\n\n\nDaging sapi tumis basil Thailand juga merupakan hidangan klasik\n\n\n\nBahan-bahan ayam tumis basil suci Thailand\n\n\n\nSaus soja light: Ini adalah saus soja asin standar yang sekarang sudah bisa ditemukan di hampir semua supermarket. Jadi, tak ada alasan untuk tidak menyetoknya!\n\n\n\nSaus tiram: Rasanya memang tidak seperti tiram, tetapi bahan ini sangat penting untuk cita rasa masakan Asia. Bisa diganti, meski hasilnya tidak akan sepenuhnya sama, jadi sebaiknya usahakan untuk mencarinya.\n\n\n\nSaus ikan: Hidangan Thailand terasa kurang lengkap tanpa saus ikan yang enak. Anggap saja ini investasi; Anda tidak akan menyesal. Serius, bahan ini memberi rasa yang sulit dijelaskan (ya, umami): asin yang kaya dan berlapis.\n\n\n\nBasil suci Thailand: Dengan daun bergerigi dan, tergantung varietasnya, batang hijau hingga keunguan, bai ka prao menghadirkan aroma cengkih, lada, dan sedikit asap. Karena ditambahkan pada detik-detik terakhir memasak, minyak atsirinya tetap terjaga&nbsp;; itulah sebabnya sajian yang bagus masih semerbak wangi lada saat tiba di meja.\n\n\n\nSaus soja dark: Kebalikan dari saus soja light, bahan ini sekarang bisa ditemukan, baik secara daring maupun di supermarket Asia. Fungsinya memberi warna, kedalaman, dan nuansa rasa pada hidangan.\n\n\n\n\n\n\tAyam tumis basil suci Thai (Pad Kapao)\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tWokmortier\t\n\t\n\t\t300 g ayam cincang5 cabai Thai5 siung bawang putih0.5 bawang bombai, iris tipis1 genggam  daun basil suci Thai2 telur (1 butir per orang)2 porsi nasi jasmine matangSaus1 sendok makan  saus tiram1 sendok makan  kecap asin ringan2 sendok teh  saus ikan1.5 sendok teh  kecap asin pekat2 sendok makan  air1.5 sendok teh  gulaPrik Nam Pla (opsional, untuk telur)1 sendok makan  saus ikan1 sendok teh  air jeruk nipis1 cabai Thai, iris tipis1 siung  bawang putih, iris tipis\t\n\t\n\t\tCampurkan semua bahan saus dalam mangkuk hingga gula larutTumbuk cabai dan bawang putih hingga menjadi pastaTumis pasta cabai dan bawang putih dalam wok di atas api sedang-besar hingga harum dan sedikit kecokelatanMasukkan ayam, lalu aduk hingga terurai dan tidak menggumpalTuangkan saus, lalu tumis lagi selama 3-4 menitMasukkan bawang bombai, lalu tumis hingga ayam matangAngkat dari api, lalu masukkan daun basil ThaiUntuk telurPanaskan minyak setinggi 1 cm di atas api besar. Minyak harus benar-benar panasPecahkan telur langsung ke dalam wok, lalu goreng hingga tingkat kematangan yang diinginkanPrik Nam PlaCampurkan semua bahan dalam mangkuk kecilPenyajianSajikan tumisan di atas nasi, lalu tambahkan telur goreng di atasnya. Siram sedikit prik nam pla di atas telur, lalu nikmati :)\t\n\t\n\t\tSemua jenis cabai pedas bisa digunakan sebagai pengganti cabai Thai.\n\t\n\t\n\t\tPlat principalTha\u00eflandaise\t\n\n\n\n\n\nResep ini dibagikan oleh Toom Vincent di grup Facebook resmi situs ini. Catatan: Saya mendapat kabar bahwa resep Vincent yang dibagikan beberapa tahun lalu ternyata berasal dari Hot Thai Kitchen.","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157388","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157388"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157388\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3395"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157388"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157388"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157388"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}