{"id":157359,"title":"Chow mein &#8211; mi tumis khas Tionghoa","modified":"2026-07-18T14:31:19+02:00","plain":"Chow mein adalah versi yang lebih meriah dari mi tumis sayuran klasik: lebih banyak sayur, lebih manis, dan tentu saja lebih kaya rasa. Bukan cuma itu, resep ini juga cocok banget sebagai resep sapu kulkas untuk menghabiskan sisa sayuran yang ada di rumah. \n\n\n\n\n\n\n\nSebenarnya, apa itu chow mein?\n\n\n\nChow mein adalah hidangan tradisional Tionghoa berbahan mi telur dan sayuran tumis. Saya paling suka menambahkan ayam, tetapi Anda juga bisa mencoba berbagai jenis daging atau tahu. \n\n\n\nHidangan ini ditumis hingga mi agak garing dan kecokelatan, lalu dibalut saus yang lezat. Chow mein sangat cocok untuk malam-malam saat Anda tidak ingin mengotori terlalu banyak panci atau membuat dapur berantakan.\n\n\n\nKalau ingin versi yang lebih cepat, coba mi bawang putih khas Tionghoa\n\n\n\nCita rasa khas chow mein berasal dari saus rumahan yang pekat dan gelap, yang melapisi setiap helai mi. Perpaduan manis dan gurihnya pas sekali, sampai-sampai sulit berhenti setelah suapan pertama.\n\n\n\nBahan-bahan chow mein\n\n\n\n\n\n\n\nMi chow mein: Mi chow mein dibuat dari tepung gandum dan telur. Bentuknya mirip mi Italia, tetapi teksturnya benar-benar enak saat disantap. Sebagian besar toko bahan makanan Asia menjual mi chow mein kering. \n\n\n\nKalau beruntung, Anda juga bisa menemukan mi chow mein siap pakai di bagian pendingin yang bisa langsung dimasukkan ke wajan.\n\n\n\nSayuran: Wortel, kol, daun bawang, dan tauge adalah kombinasi sayuran yang pas untuk chow mein. Namun, semuanya bisa dengan mudah diganti dengan sayuran lain seperti bok choy, seledri, brokoli, bayam, kale, atau jagung mini. \n\n\n\nJangan ragu untuk berkreasi dan gunakan apa pun yang Anda suka atau yang sedang ada di kulkas. Ini memang resep sapu kulkas yang ideal.\n\n\n\nCoba udon daging sapi sebagai alternatif Jepang \ud83d\ude42\n\n\n\nKecap asin hitam: Jangan sampai tertukar dengan kecap asin terang. Sayangnya, Anda mungkin perlu mencarinya di Amazon atau di toko bahan makanan Asia.\n\n\n\nSaus tiram: Tidak, rasanya tidak seperti tiram, dan ya, bahan ini wajib! \ud83d\ude42 Temukan rahasianya di sini\n\n\n\nAnggur Shaoxing: Elemen kunci dalam saus, anggur Tionghoa ini memberi cita rasa yang khas pada hidangan.\n\n\n\nMinyak wijen: Minyak andalan dalam masakan Asia. Jangan digunakan berlebihan, tetapi nikmati rasanya yang lembut sekaligus kuat. Temukan rahasianya di sini\n\n\n\nSaus TERBAIK untuk mi\n\n\n\nSaus chow mein buatan sendiri benar-benar istimewa untuk resep ini! Campurkan kecap asin, minyak wijen, saus tiram, gula pasir, tepung maizena, dan kaldu ayam untuk membuat saus manis-gurih khas yang memberi chow mein cita rasa autentik dan bikin ketagihan.\n\n\n\n\n\n\tChow Mein (Mi Tumis Khas Tiongkok)\n\t\t\n\t\t\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tSaus15 ml arak Shaoxing35 ml kecap asin pekat4 g lada putih27 g saus tiram5 g minyak wijen1 sdm air (atau kaldu ayam)5 g maizena1 sdm gula pasirMi300 g mi kering2 batang daun bawang, potong 1 cm2 batang seledri, iris tipis1 wortel, kupas lalu iris0.5 sawi putih, iris sangat tipis6 siung bawang putih, cincang120 g tauge\t\n\t\n\t\tCampurkan semua bahan saus dalam sebuah mangkuk.Masak saus dalam panci anti lengket kecil di atas api besar sambil terus diaduk hingga sedikit mengental. Sisihkan.Panaskan wajan di atas api besar dengan sedikit minyak.Masukkan seledri, wortel, daun bawang, dan sawi putih. Tumis sekitar 3 menit, lalu pindahkan semuanya ke dalam mangkuk.Panaskan kembali sedikit minyak, lalu tumis 3\/4 bawang putih cincang. Begitu mulai kecokelatan, masukkan kembali sayuran bersama mi. Tumis selama 1 menit.Tambahkan saus, tumis selama 30 detik, lalu masukkan tauge dan tumis lagi selama 30 detik.Matikan api, tambahkan sisa bawang putih, lalu aduk rata.Tambahkan sejumput besar garam.\t\n\t\n\t\t\t\n\t\n\t\tAccompagnement, Plat principalChinoise\t\n\n\n\n\n\nInspirasi: Joshua Weissman, yang juga terinspirasi dari The Woks of Life","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157359","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157359"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157359\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157359"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157359"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marcwiner.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157359"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}